Penulis: pondok_muslimah
Saudaraku yang baik, sungguh sangat beruntung
bagi wanita shalihah di dunia ini. Ia akan menjadi
cahaya bagi keluarganya dan berperan
melahirkan generasi dambaan. Kalau pun ia
wafat, maka Allah akan menjadikannya bidadari di
akhirat nanti. Oleh karena itu, para pemuda
jangan sampai salah memilih pasangan hidup.
Pilihlah wanita shalihah untuk dijadikan istri dan
pendamping hidup setia.
Siti Khadijah r.a. adalah figur seorang istri shalihah
yang menjadi penentram batin, pendukung setia,
dan penguat semangat suami dalam berjuang
dan beribadah kepada Allah SWT. Beliau telah
berkorban dengan harta, kedudukan, dan diri
beliau demi membela perjuangan Rasulullah
SAW.
Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah r.a.,
hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh
Rasul walau beliau sendiri sudah meninggal. Allah
berfirman dalam QS. An Nur ayat 30-31,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,
Hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang
beriman, hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya
dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya kecuali yang biasa tampak
daripadanya......
Rasulullah Saw bersabda : Dunia ini adalah
perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah
wanita shalihah (HR. Muslim)
Ciri khas seorang wanita shalihah adalah ia
mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya, dia
senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make
up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya
adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di
mana pun berada. Celak matanya adalah
memperbanyak bacaan Al Quran. Jika seorang
muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku
takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari
dirinya.
Wanita shalihah tidak mau kekayaan termahalnya
berupa iman akan rontok. Dia juga sangat
memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada
dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil,
suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat
mendapatkan sesuatu kesenangan. Ia akan sangat
menjaga setiap tutur katanya agar bernilai
bagaikan untaian intan yang penuh makna dan
bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa
kemuliaannya justru bersumber dari
kemampuannya menjaga diri.
Wanita shalihah itu murah senyum, karena
senyum sendiri adalah shadaqah. Namun, tentu
saja senyumnya proporsional. Tidak setiap laki-
laki yang dijumpainya diberikan senyuman
manis. Intinya, senyumnya adalah senyum
ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah
bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika kaum
wanita kerja keras berlatih senyum manis semata
untuk meluluhkan hati laki-laki.
Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul
dengan siapapun. Dengan pergaulan itu ilmunya
akan terus bertambah, sebab ia akan selalu
mengambil hikmah dari orang-orang yang ia
temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik
sehingga hal itu berbuah kebaikan bagi dirinya
maupun orang lain. Pendek kata, hubungan
kemanusiaan dan taqarrub kepada Allah dilakukan
dengan sebaik mungkin.
Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri
bahwa imannya kuat adalah dari kemampuannya
memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa
malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya akan
selalu terkontrol. Tidak akan ia berbuat sesuatu
yang menyimpang dari bimbingan Al Quran dan
As Sunnah. Dan tentu saja godaan setan bagi
dirinya akan sangat kuat. Jika ia tidak mampu
melawan godaan tersebut, maka bisa jadi kualitas
imannya berkurang. Semakin kurang iman
seseorang, maka makin kurang rasa malunya.
Semakin kurang rasa malunya, maka makin
buruk kualitas akhlaknya. Wallahu alam bish
showab
Manajemen Qalbu - Aa Gym
26 Mar 05 09:01 WIB
WASPADA Online
"""Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya"""
Sunday, April 10, 2011
Thursday, January 13, 2011
JANGAN PERNAHMENCELA ORANG LAIN
Seperti kata pepatah arab, “janganlah engkau
mencela orang lain yang berada di bawahmu.
Sebab setiap orang memiliki kelebihan.”
Setidaknya pepatah itu dapat kita jadikan sebagai
pegangan agar bisa lebih bijaksana. Yakni,
jangan pernah mencela orang lain walaupun
dirinya memiliki banyak kekurangan.
Pada hakekatnya kekurangan ataupun kelebihan
yang dimiliki seseorang merupakan karunia ilahi.
Tentunya tidak ada yang pantas dibanggakan.
Sebab, Allah bisa saja mencabut karunia yang
telah diberikannya seketika. Begitu juga seluruh
kekurangan dapat diubah-Nya menjadi karunia
yang tiada terkira.
Misalnya kecerdasan yang dimiliki seseorang.
Benar, bila kecerdasan yang dimiliki tidak lepas
dari usahanya untuk meningkatkan kecerdasan
tersebut. Tapi, semuanya tidak lepas dari karunia
Allah.
Sebut saja, orang gila. Walaupun dia diajari 10
jam setiap hari, namun apabila Allah belum
berkehendak tentunya dia tidak akan begitu saja
menjadi pintar. Sederhananya saja, beberapa
murid yang sama-sama belajar di kelas, tapi
mengapa hasilnya berbeda. Ada yang langsung
paham, namun tak sedikit yang masih perlu
dijelaskan lebih detail lagi.
Semua ini membuktikan bahwa kecerdasan
merupakan karunia ilahi. Begitu juga kekayaan.
Walaupun ada dua orang yang sama-sama
bekerja mati-matian, tapi hasilnya berbeda. Kalau
bukan karena pihak ketiga –dalam hal ini adalah
Allah-
Lantas, masih pantaskah yang kita miliki ini untuk
dibanggakan?? Kecantikan, harta, umur,
kecerdasan, amal sholih. Semuanya hanya akan
dihisab di suatu hari nanti.
Ini untuk permasalahan dosa. Lantas bagaimana
dengan permasalahan lainnya? Seperti
kekurangan lainnya yang merupakan sebuah
takdir yang tidak begitu saja dapat dirubah kecuali
dengan izin Allah? Tentu saja hal itu lebih harus
dijaga lagi.
Seperti seseorang yang mencela orang lain
karena kemiskinannya. Bisa jadi dia melihat
karena orang yang miskin tersebut hanya
memiliki baju satu atau dua. Itupun penuh jahitan
dan tambalan. Dan memakainya pun secara
bergantian. Mungkin melihat yang seperti itu
membuatnya risih. Sehingga memerintahkannya
mengganti baju.
Tapi pernahkah mereka tahu, karena dia
mengenakan pakaian itu juga karena terpaksa.
Seandainya memiliki uang lebih pun tentu akan
menggunakannya untuk membeli pakaian yang
lebih layak lagi. Namun, disebabkan karena
keterbatasan dana sehingga membuatnya untuk
menunda pakaian barunya.
Atau bisa jadi dia memiliki uang dan uang itu lebih
ia prioritaskan untuk kebutuhan lainnya. Untuk
kebutuhan pakaian masih bisa ditunda karena dia
berpikir ada kebutuhan yang lebih mendesak lagi.
Mungkin, niat yang orang yang mengingatkan
untuk mengenakan pakaian itu baik, agar si
miskin mengganti pakaian. Tapi apakah dia
pernah berfikir tak semua orang sepertinya. Yang
ketika membutuhkan sesuatu bisa begitu saja
membelinya.
Apakah dia tidak sadar, ketika dirinya
mengingatkan hal tersebut membuat sakit hati si
miskin? Semoga sedikir renungan di atas
mengingatkan kita.
Bahkan dalam dosa sekalipun rasulullah tidak
memperkenankan untuk mecelanya secara
langsung. Dalam salah satu sabdanya salah satu
sabdanya rasulullah bersabda:
Bangsiapa mencela seseorang dikarenakan
dosa yang dilakukannya, niscaya dia tidak akan
mati hingga dia melakukan dosa serupa.
Diriwayatkan oleh tirmidzi dan dihasankan
adapun sanadnya terputus.
Lantas apakah kita tidak boleh untuk
mengingatkan seseorang yang melakukan dosa?
Tentu saja boleh bahkan diperintahkan. Tapi
maksud hadits tersebut adalah agar kita tidak
mudah mencela seseorang yang melakukan
suatu dosa dan kita merasa suci seakan kita
merupakan makhluk Allah yang ma’shum
(terbebas dari dosa).
Perasaan merasa diri sebagai makhluk yang suci
inilah yang kemudian mendorong untuk
mencela seseorang pelaku dosa yang tidak
diperbolehkan. Adapun mengingatkan seseorang
agar tidak terjerumus ke dalam dosa maka
merupakan kewajiban dan itu termasuk dalam
lingkup amar ma’ruf nahi mungkar.
Ingatkah kita tentang seorang wanita yang
dirajam hingga meninggal. Kemudian darah
wanita tersebut menyemburat mengenai baju
Khalid. Lantas Khalid pun mencerca wanita
tersebut dan merasa jijik dikarenakan darah
wanita pendosa yang mengenai bajunya. Namun
kemudian rasulullah saw mengingatkan Kholid
bahwa wanita tersebut telah diampuni. Jadi,
jangan mencelanya.
Begitu juga rasulullah saw dalam menyebut
keburukan tidak pernah menyebut keburukan
personal. Akan tetapi beliau menyebutnya dengan
sebutan umum. Sebagai misal adalah “celakalah
orang yang melakukan begini…”.
Sungguh santun dan beradab rasulullah saw
dalam mengingatkan kaumnya. Hingga beliau
tidak pernah menyebut person langsung
walaupun beliau mengetahuinya secara jelas.
Oleh: Redaksi Oaseimani.com
mencela orang lain yang berada di bawahmu.
Sebab setiap orang memiliki kelebihan.”
Setidaknya pepatah itu dapat kita jadikan sebagai
pegangan agar bisa lebih bijaksana. Yakni,
jangan pernah mencela orang lain walaupun
dirinya memiliki banyak kekurangan.
Pada hakekatnya kekurangan ataupun kelebihan
yang dimiliki seseorang merupakan karunia ilahi.
Tentunya tidak ada yang pantas dibanggakan.
Sebab, Allah bisa saja mencabut karunia yang
telah diberikannya seketika. Begitu juga seluruh
kekurangan dapat diubah-Nya menjadi karunia
yang tiada terkira.
Misalnya kecerdasan yang dimiliki seseorang.
Benar, bila kecerdasan yang dimiliki tidak lepas
dari usahanya untuk meningkatkan kecerdasan
tersebut. Tapi, semuanya tidak lepas dari karunia
Allah.
Sebut saja, orang gila. Walaupun dia diajari 10
jam setiap hari, namun apabila Allah belum
berkehendak tentunya dia tidak akan begitu saja
menjadi pintar. Sederhananya saja, beberapa
murid yang sama-sama belajar di kelas, tapi
mengapa hasilnya berbeda. Ada yang langsung
paham, namun tak sedikit yang masih perlu
dijelaskan lebih detail lagi.
Semua ini membuktikan bahwa kecerdasan
merupakan karunia ilahi. Begitu juga kekayaan.
Walaupun ada dua orang yang sama-sama
bekerja mati-matian, tapi hasilnya berbeda. Kalau
bukan karena pihak ketiga –dalam hal ini adalah
Allah-
Lantas, masih pantaskah yang kita miliki ini untuk
dibanggakan?? Kecantikan, harta, umur,
kecerdasan, amal sholih. Semuanya hanya akan
dihisab di suatu hari nanti.
Ini untuk permasalahan dosa. Lantas bagaimana
dengan permasalahan lainnya? Seperti
kekurangan lainnya yang merupakan sebuah
takdir yang tidak begitu saja dapat dirubah kecuali
dengan izin Allah? Tentu saja hal itu lebih harus
dijaga lagi.
Seperti seseorang yang mencela orang lain
karena kemiskinannya. Bisa jadi dia melihat
karena orang yang miskin tersebut hanya
memiliki baju satu atau dua. Itupun penuh jahitan
dan tambalan. Dan memakainya pun secara
bergantian. Mungkin melihat yang seperti itu
membuatnya risih. Sehingga memerintahkannya
mengganti baju.
Tapi pernahkah mereka tahu, karena dia
mengenakan pakaian itu juga karena terpaksa.
Seandainya memiliki uang lebih pun tentu akan
menggunakannya untuk membeli pakaian yang
lebih layak lagi. Namun, disebabkan karena
keterbatasan dana sehingga membuatnya untuk
menunda pakaian barunya.
Atau bisa jadi dia memiliki uang dan uang itu lebih
ia prioritaskan untuk kebutuhan lainnya. Untuk
kebutuhan pakaian masih bisa ditunda karena dia
berpikir ada kebutuhan yang lebih mendesak lagi.
Mungkin, niat yang orang yang mengingatkan
untuk mengenakan pakaian itu baik, agar si
miskin mengganti pakaian. Tapi apakah dia
pernah berfikir tak semua orang sepertinya. Yang
ketika membutuhkan sesuatu bisa begitu saja
membelinya.
Apakah dia tidak sadar, ketika dirinya
mengingatkan hal tersebut membuat sakit hati si
miskin? Semoga sedikir renungan di atas
mengingatkan kita.
Bahkan dalam dosa sekalipun rasulullah tidak
memperkenankan untuk mecelanya secara
langsung. Dalam salah satu sabdanya salah satu
sabdanya rasulullah bersabda:
Bangsiapa mencela seseorang dikarenakan
dosa yang dilakukannya, niscaya dia tidak akan
mati hingga dia melakukan dosa serupa.
Diriwayatkan oleh tirmidzi dan dihasankan
adapun sanadnya terputus.
Lantas apakah kita tidak boleh untuk
mengingatkan seseorang yang melakukan dosa?
Tentu saja boleh bahkan diperintahkan. Tapi
maksud hadits tersebut adalah agar kita tidak
mudah mencela seseorang yang melakukan
suatu dosa dan kita merasa suci seakan kita
merupakan makhluk Allah yang ma’shum
(terbebas dari dosa).
Perasaan merasa diri sebagai makhluk yang suci
inilah yang kemudian mendorong untuk
mencela seseorang pelaku dosa yang tidak
diperbolehkan. Adapun mengingatkan seseorang
agar tidak terjerumus ke dalam dosa maka
merupakan kewajiban dan itu termasuk dalam
lingkup amar ma’ruf nahi mungkar.
Ingatkah kita tentang seorang wanita yang
dirajam hingga meninggal. Kemudian darah
wanita tersebut menyemburat mengenai baju
Khalid. Lantas Khalid pun mencerca wanita
tersebut dan merasa jijik dikarenakan darah
wanita pendosa yang mengenai bajunya. Namun
kemudian rasulullah saw mengingatkan Kholid
bahwa wanita tersebut telah diampuni. Jadi,
jangan mencelanya.
Begitu juga rasulullah saw dalam menyebut
keburukan tidak pernah menyebut keburukan
personal. Akan tetapi beliau menyebutnya dengan
sebutan umum. Sebagai misal adalah “celakalah
orang yang melakukan begini…”.
Sungguh santun dan beradab rasulullah saw
dalam mengingatkan kaumnya. Hingga beliau
tidak pernah menyebut person langsung
walaupun beliau mengetahuinya secara jelas.
Oleh: Redaksi Oaseimani.com
AkU HaNyA WaNiTa BiAsA
Kepadamu yang akan menjadi pendampingku
kelak..
Terimakasih karena telah memilihku di antara
ribuan bidadari di luar sana yang siap untuk kau
pilih.. Padahal kau begitu tahu, aku hanya wanita
biasa, yang sangat jauh dari sempurna.
Karenanya ku ingin kau tahu, aku bukan wanita
yang sempurna, aku begitu banyak kekurangan.
Maka ketahuilah..
Kepadamu yang akan memilihku kelak..
Aku tak sebijak bunda khadijah, karenanya ku
ingin kau tahu, aku bisa saja berbuat salah dan
begitu menyebalkan. Maka ku mohon padamu,
bijaklah dalam menghadapiku, jangan marah
padaku, nasihati aku dengan hikmah, karena
bagiku kaulah pemimpinku, tak akan berani ku
membangkang padamu..
Duhai kau yang telah memilihku kelak.. Ingatlah,
tak selamanya aku dapat tampak cantik di
matamu, ada kalanya aku akan begitu kusam dan
jelek. Mungkin karena aku begitu sibuk berjibaku
di dapur, menyiapkan makan untuk kau dan
malaikat-malaikat kita nanti –insya’Allah-. Maka
aku akan tampak kotor dan berbau asap. Atau
karena seharian ku harus membenahi istana kecil
kita, agar kau dan malaikat kita dapat tinggal
dengan nyaman dan sehat. Maka mungkin aku
tak sempat berdandan untuk menyambutmu
sepulang bekerja.. Ataukah kau akan
menemukanku terkantuk kantuk saat mendengar
keluhan dan ceritamu, bukan karena aku tak suka
menjadi tempatmu menumpahkan segala
rasamu, tapi karena semalam saat kau tertidur
dengan nyenyak, aku tak sedetikpun tertidur
karena harus menjaga malaikat kecil kita yang
sedang rewel, dan ku tau kau letih mengais rezeki
untuk kami maka tak ingin ku mengusik sedikit
pun lelapmu.. Jadi jika esok pagi kau mendapatiku
begitu letih dan ada lingkaran hitam di mataku,
maka tetaplah tersenyum padaku, karena kau
adalah kekuatanku..
Padamu yang menjadi nahkoda dalam hidupku
kelak..
Ketahuilah, aku tak sesabar Fatimah, ada kalanya
kau akan menemukanku begitu marah, menangis
dan tak terkontrol, bukan karena ku
membangkang padamu, tapi aku hanya wanita
biasa, aku juga butuh tempat untuk
menumpahkan beban di hatiku, tempat untuk
melepaskan penatku, dan mungkin saat itu aku
tak menemukanmu, atau kau begitu sibuk
dengan pekerjaanmu, maka bersabarlah, yang ku
butuhkan hanya pelukan dan belaianmu.. Karena
bagiku kau adalah tetesan embun yang mampu
memadamkan segala resahku..
Ataukah ada kalanya tanganku akan mencubit dan
memukul pelan si kecil karena lelah dan penatku
di tambh rengekannya yang tak habis-habisnya.
Sungguh bukan karena ku ingin menyakitinya,
tapi kadang aku kehabisan cara untuk
menenangkan hatinya. Maka jangan
membentakku karena telah menyakiti buah hati
kita, tapi cukup kau usap kepalaku, dan bisikkan
kata sayang di telingaku, karena dengan itu ku tau
kau selalu menghargai semua yang ku lakukan
untuk kalian, dan kau akan menemukanku
menangis menyesali perlakuanku pada malaikat
kita, dan aku akan merasakan ribuan kali rasa sakit
dari cubitan yang ku berikan padanya, dan aku
akan berjanji tak akan mengulanginya lagi..
Padamu yang menjadi imam dalam hidupku
kelak..
Ketahuilah, aku tak secerdas aisyah.. Maka jangan
pernah bosan mengajariku, membimbingku ke
arah-Nya, walau kadang aku begitu bebal dan
bodoh, tapi jangan pernah letih mengajariku..
Jangan segan membangunkanku di sepertiga
malam untuk bersamamu bermunajat pada
Kekasih yang Maha Kasih.. Jangan letih
mengingatkanku untuk terus bersamamu
mendulang pahala dalam amalan-amalan
sunnah.. Bimbing tanganku ke JannahNya, agar
kau dan aku tetap bersatu di dalamnya.
Padamu yang menjadi kekasih hati dan teman
dalam hidupku..
Seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan
rambutku yang dulu hitam legam dan indah,
akan menipis dan memutih. Kulitku yang bersih
akan mulai keriput. Tanganku yang halus akan
menjadi kasar.. Dan kau tak akan menemukanku
sebagai wanita cantik, yang kau khitbah puluhan
tahun yang lalu.. Bukan wanita muda yang selalu
menyenangkan matamu.. Maka jangan pernah
berpaling dariku.. Karena satu yang tak pernah
berubah, bahkan sejak dulu akan terus
bertambah dan kian membuncah, yaitu rasa
cintaku padamu..
Ketahuilah.. Tiap harinya, tiap jam, menit dan
detiknya, telah aku lewati dengan selalu jatuh cinta
padamu..
Maka, cintailah aku, dengan apa adanya aku..
Jangan berharap aku menjadi wanita
sempurna.. Maafkan aku karena aku bukan
putri.. Aku hanya wanita biasa..
kelak..
Terimakasih karena telah memilihku di antara
ribuan bidadari di luar sana yang siap untuk kau
pilih.. Padahal kau begitu tahu, aku hanya wanita
biasa, yang sangat jauh dari sempurna.
Karenanya ku ingin kau tahu, aku bukan wanita
yang sempurna, aku begitu banyak kekurangan.
Maka ketahuilah..
Kepadamu yang akan memilihku kelak..
Aku tak sebijak bunda khadijah, karenanya ku
ingin kau tahu, aku bisa saja berbuat salah dan
begitu menyebalkan. Maka ku mohon padamu,
bijaklah dalam menghadapiku, jangan marah
padaku, nasihati aku dengan hikmah, karena
bagiku kaulah pemimpinku, tak akan berani ku
membangkang padamu..
Duhai kau yang telah memilihku kelak.. Ingatlah,
tak selamanya aku dapat tampak cantik di
matamu, ada kalanya aku akan begitu kusam dan
jelek. Mungkin karena aku begitu sibuk berjibaku
di dapur, menyiapkan makan untuk kau dan
malaikat-malaikat kita nanti –insya’Allah-. Maka
aku akan tampak kotor dan berbau asap. Atau
karena seharian ku harus membenahi istana kecil
kita, agar kau dan malaikat kita dapat tinggal
dengan nyaman dan sehat. Maka mungkin aku
tak sempat berdandan untuk menyambutmu
sepulang bekerja.. Ataukah kau akan
menemukanku terkantuk kantuk saat mendengar
keluhan dan ceritamu, bukan karena aku tak suka
menjadi tempatmu menumpahkan segala
rasamu, tapi karena semalam saat kau tertidur
dengan nyenyak, aku tak sedetikpun tertidur
karena harus menjaga malaikat kecil kita yang
sedang rewel, dan ku tau kau letih mengais rezeki
untuk kami maka tak ingin ku mengusik sedikit
pun lelapmu.. Jadi jika esok pagi kau mendapatiku
begitu letih dan ada lingkaran hitam di mataku,
maka tetaplah tersenyum padaku, karena kau
adalah kekuatanku..
Padamu yang menjadi nahkoda dalam hidupku
kelak..
Ketahuilah, aku tak sesabar Fatimah, ada kalanya
kau akan menemukanku begitu marah, menangis
dan tak terkontrol, bukan karena ku
membangkang padamu, tapi aku hanya wanita
biasa, aku juga butuh tempat untuk
menumpahkan beban di hatiku, tempat untuk
melepaskan penatku, dan mungkin saat itu aku
tak menemukanmu, atau kau begitu sibuk
dengan pekerjaanmu, maka bersabarlah, yang ku
butuhkan hanya pelukan dan belaianmu.. Karena
bagiku kau adalah tetesan embun yang mampu
memadamkan segala resahku..
Ataukah ada kalanya tanganku akan mencubit dan
memukul pelan si kecil karena lelah dan penatku
di tambh rengekannya yang tak habis-habisnya.
Sungguh bukan karena ku ingin menyakitinya,
tapi kadang aku kehabisan cara untuk
menenangkan hatinya. Maka jangan
membentakku karena telah menyakiti buah hati
kita, tapi cukup kau usap kepalaku, dan bisikkan
kata sayang di telingaku, karena dengan itu ku tau
kau selalu menghargai semua yang ku lakukan
untuk kalian, dan kau akan menemukanku
menangis menyesali perlakuanku pada malaikat
kita, dan aku akan merasakan ribuan kali rasa sakit
dari cubitan yang ku berikan padanya, dan aku
akan berjanji tak akan mengulanginya lagi..
Padamu yang menjadi imam dalam hidupku
kelak..
Ketahuilah, aku tak secerdas aisyah.. Maka jangan
pernah bosan mengajariku, membimbingku ke
arah-Nya, walau kadang aku begitu bebal dan
bodoh, tapi jangan pernah letih mengajariku..
Jangan segan membangunkanku di sepertiga
malam untuk bersamamu bermunajat pada
Kekasih yang Maha Kasih.. Jangan letih
mengingatkanku untuk terus bersamamu
mendulang pahala dalam amalan-amalan
sunnah.. Bimbing tanganku ke JannahNya, agar
kau dan aku tetap bersatu di dalamnya.
Padamu yang menjadi kekasih hati dan teman
dalam hidupku..
Seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan
rambutku yang dulu hitam legam dan indah,
akan menipis dan memutih. Kulitku yang bersih
akan mulai keriput. Tanganku yang halus akan
menjadi kasar.. Dan kau tak akan menemukanku
sebagai wanita cantik, yang kau khitbah puluhan
tahun yang lalu.. Bukan wanita muda yang selalu
menyenangkan matamu.. Maka jangan pernah
berpaling dariku.. Karena satu yang tak pernah
berubah, bahkan sejak dulu akan terus
bertambah dan kian membuncah, yaitu rasa
cintaku padamu..
Ketahuilah.. Tiap harinya, tiap jam, menit dan
detiknya, telah aku lewati dengan selalu jatuh cinta
padamu..
Maka, cintailah aku, dengan apa adanya aku..
Jangan berharap aku menjadi wanita
sempurna.. Maafkan aku karena aku bukan
putri.. Aku hanya wanita biasa..
Wednesday, January 12, 2011
SAUDARAKU YANGSEDANG DALAM MASAPENANTIANNYA
ijinkanlah saya berbagi dalam goresan tulisan ini…
jika menurut teman-teman, baik…maka
ambillah…
dan jika menurut teman-teman, buruk…maka
tinggalkanlah….
saudaraku….
wanita muslimah…laksana bunga….yang
menawan…
wanita muslimah yang sholehah….bagaikan
sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….
Begitu indah…
begitu berkilau…
begitu menentramkan…
teramat banyak yang ingin meraih bunga
tersebut…
namun tentunya….tak sembarang orang berhak
meraihnya….menghirup sarinya….
hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…
yang dapat memetiknya…
yang dapat meraih pesonanya…
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…
karena itu…sebelum saatmu tiba….
janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu
sebelum masanya…
jangan kau menjadikan serigala liar membuatnya
bahan permainan dalam keisenganmu…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang
rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…
Ya…atas nama cinta…
jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang
rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta
Kau tau saudaraku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan
membungkus seluruh aliran darahnya…
membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup
semua mata…hati dan pikirannya….
Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah
ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar
dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah
ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan
pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…
supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho
terhadap apa yang ia lakukan…
Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta
mereka belum tentu akan bersatu dalam
pernikahan….
Ya saudaraku….akhi fillah…
Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam
lubang yang telah engkau tutup rapat
sebelumnya…
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya
benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam
hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah
benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya
Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta
yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun
Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya.
Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami,
orang tua, kaum muslimin…
Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau
tau….
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya
benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam
hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah
benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya….
Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang
kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….
jangan kau berikan ia kesempatan untuk
menjajaki hatimu…
Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah
kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu…
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya
kehidupan…
Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian
sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…
Saudaraku…. tentunya sudah mengerti dan
paham…
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta…
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu…
jika ia dekat…kita merasa sakit…karena takut
kehilangan….
padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin
tidak akan pernah menjadi yang halal…
karena itu…jauhilah ia…
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih
cinta di hatimu….dan kemudian mengusik
hatimu…
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu
dalam kisah yang bernama cinta…
maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang istrimu
kelak…
saudaraku…..
sukakah engkau..??
apabila saat ini ternyata istrimu (kelak) sedang
memikirkan pria yang itu bukan engkau..???
sukakah engkau..??
bila ternyata istrimu (kelak) saat ini tengah
mengobrol akrab…tertawa riang…becanda…
saling menatap…
saling menggoda…
saling mencubit…
saling memandang dengan sangat…
saling menyentuh…???
dan bahkan lebih dari itu…??
sukakah engkau saudaraku…??
sukakah engkau bila ternyata saat ini istrimu
(kelak) sedang jalan bersama pria lain yang itu
bukan engkau…??
sukakah engkau…??
bila saat ini istrimu (kelak) tengah berpikir dan
merencanakan pertemuan berikutnya…??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana…apa saja
yang akan ia lakukan bersama pria itu…??
tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini istrimu (kelak) sedang makan bareng
bersama pria lain…
istrimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh pria-
pria….
istrimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra…
istrimu (kelak) saat ini sedang curhat dengan
pria… yang berkata…”aku tak bisa jika sehari tak
mengobrol denganmu…”
tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak
cemburukaaaaahhhhhhhh……???
tidak terasa bagaimanakah..
jika istrimu (kelak) saat ini tengah beradu
pandangan…
bercengkrama..
bercerita tentang masa depannya…
dengan pria lain yang bukan engkau…???
sukakah engkau kiranya istrimu (kelak) saat ini
tidak bisa tidur karena memikirkan pria
tersebut…??
menangis untuk pria tersebut…??
dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat
mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”
tidak patah hatikah engkau…???
sukakakah engkau bila istrimu (kelak ) berkata
pada pria lain..”tidak ada orang yang lebih aku
cintai selain engkau…??”
menyebut pria tersebut dalam doanya…
memohon pada Allah supaya pria tersebut
menjadi suaminya…
dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi
suaminya…..dan bukan pria tersebut…???
jika engkau tidak suka akan hal itu…
jika engkau merasa cemburu….
maka demikian halnya dengan istrimu (kelak)…
dan…Allah jauh lebih cemburu daripada istrimu….
Allah lebih cemburu…saudaraku…
melihat engkau sendirian…namun pikirannmu
enggan berpindah dari wanita yang telah
mengusik hatimu tersebut….
saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?
saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?
apabila dua orang telah digariskan untuk dapat
hidup bersama…
maka…
sejauh apapun mereka…
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi…
sebesar apapun beda diantara mereka…
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk
menghindarkannya…
meski mereka tidak pernah komunikasi
sebelumnya…
meski mereka sama sekali tidak pernah
membayangkan sebelumnya…
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa…
PASTI tetap saja mereka akan bersatu….
seakan ada magnet yang menarik mereka…
akan ada hal yang datang…untuk menyatukan
mereka berdua….
akan ada suatu kejadian…yang membuat mereka
saling mendekat…dan akhirnya bersatu…
namun…
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak
berjodoh…
maka…
sebesar apapun usaha mereka untuk saling
mendekat…
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka
untuk menyatukannya…
sekuat apapun perasaan yang ada diantara
mereka berdua…
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka
sebelumnya…
sedekat apapun…
PASTI…akan ada hal yang membuat mereka
akhirnya saling menjauh…
ada hal yang membuat mereka saling merasa
tidak cocok…
ada hal yang membuat mereka saling menyadari
bahwa memang bukan dia yang terbaik….
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk
bersatu…
bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan
tanggal pernikahan…
namun…yang perlu dicatat disini adalah…
yakinlah…bahwa yang diberikan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang digariskan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang telah ditulis oleh Allah
dalam KitabNya..
adalah…yang terbaik untuk kita….
adalah….yang paling sesuai untuk kita…
adalah…yang paling membuat kita merasa
bahagia,,,,
karena Dialah…yang paling mengerti kita…lebih
dari kita sendiri…
Dialah…yang paling menyayangi kita…
Dialah…yang paling mengetahui apa-apa yang
terbaik untuk kita…
sementara kita hanya sedikit saja
mengetahuinya…dan itupun hanya berdasarkan
pada persangkaan kita…
dan….yang perlu kita catat juga adalah…
JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU
HAL YANG KITA INGINKAN …ITU BUKAN
BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS
UNTUK MENDAPATKANNYA ….NAMUN
JUSTRU BERARTI BAHWA…KITA PANTAS…
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH
BAIK DARI HAL TERSEBUT …
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH
BAIK …SAUDARAKU….
LEBIH BAIK….
meskipun saat ini…mata manusia kita tidak
memahaminya…
meskipun saat itu…perasaan kita memandangnya
dengan sebelah mata…
meskipun saat itu…otak kita melihatnya sebagai
sesuatu yang buruk….
Tidak…jangan terburu-buru menvonis bahwa
engkau telah diberikan sesuatu yang
buruk….bahwa engkau tidak pantas….
karena kelak…engkau akan menyadarinya…
engkau akan menyadarinya perlahan…bahwa apa
yang telah hilang darimu….bahwa apa yang tidak
engkau dapatkan….bukanlah yang terbaik
untukmu…bukanlah yang pantas untukmu…
bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu….
karena itu…saudaraku…
jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…
waktumu….
jangan kau umbar semua perasaan cintamu
ketika engkau tengah menjalin proses taarufan…
jangan kau umbar semua kekuranganmu…
jangan kau ceritakan semuanya…
jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya…jika
engkau mencintainya…
karena belum tentu dia adalah jodohmu…
pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa
cocok…
karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk
kalian…
maka…memohonlah padaNya…
mintalah padanya diberikan petunjuk…dan
dijauhkan dari segala godaan yang ada…
karena…cinta sebelum pernikahan…pada
hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat…
Dan…percayalah…jodoh itu tidak ada kaitannya
dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak
sedikitnya teman perempuan
sama sekali tidak…
karena jika laki-laki yang terjaga maka Allahlah
yang akan mengirimkan pendamping untuknya…
karena laki-laki yang terjaga adalah laki-laki yang
banyak didamba oleh seorang akhwat sejati…
jadi…jagalah dirimu…hatimu…kehormatanmu…
sebelum saatnya tiba…
perbanyak bekalmu…dan doamu…
yakinlah…bahwa Allah yang akan memilihkan
yang terbaik untukmu…
amien…
*Ya Allah…karuniakanlah kami seorang pasangan
yang sholeh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal
baginya…
yang senantiasa memperbaiki dirinya…
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah
Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu
Ya Rabb…
kabulkan ya Allah…
amien…
dan segerakanlah…karena hati kami teramat
lemah…dan cinta sebelum menikah adalah
sebuah cobaan yang berat…
jika menurut teman-teman, baik…maka
ambillah…
dan jika menurut teman-teman, buruk…maka
tinggalkanlah….
saudaraku….
wanita muslimah…laksana bunga….yang
menawan…
wanita muslimah yang sholehah….bagaikan
sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….
Begitu indah…
begitu berkilau…
begitu menentramkan…
teramat banyak yang ingin meraih bunga
tersebut…
namun tentunya….tak sembarang orang berhak
meraihnya….menghirup sarinya….
hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…
yang dapat memetiknya…
yang dapat meraih pesonanya…
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…
karena itu…sebelum saatmu tiba….
janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu
sebelum masanya…
jangan kau menjadikan serigala liar membuatnya
bahan permainan dalam keisenganmu…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang
rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…
Ya…atas nama cinta…
jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang
rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta
Kau tau saudaraku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan
membungkus seluruh aliran darahnya…
membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup
semua mata…hati dan pikirannya….
Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah
ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar
dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah
ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan
pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…
supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho
terhadap apa yang ia lakukan…
Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta
mereka belum tentu akan bersatu dalam
pernikahan….
Ya saudaraku….akhi fillah…
Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam
lubang yang telah engkau tutup rapat
sebelumnya…
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya
benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam
hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah
benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya
Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta
yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun
Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya.
Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami,
orang tua, kaum muslimin…
Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau
tau….
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya
benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam
hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah
benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya….
Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang
kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….
jangan kau berikan ia kesempatan untuk
menjajaki hatimu…
Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah
kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu…
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya
kehidupan…
Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian
sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…
Saudaraku…. tentunya sudah mengerti dan
paham…
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta…
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu…
jika ia dekat…kita merasa sakit…karena takut
kehilangan….
padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin
tidak akan pernah menjadi yang halal…
karena itu…jauhilah ia…
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih
cinta di hatimu….dan kemudian mengusik
hatimu…
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu
dalam kisah yang bernama cinta…
maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang istrimu
kelak…
saudaraku…..
sukakah engkau..??
apabila saat ini ternyata istrimu (kelak) sedang
memikirkan pria yang itu bukan engkau..???
sukakah engkau..??
bila ternyata istrimu (kelak) saat ini tengah
mengobrol akrab…tertawa riang…becanda…
saling menatap…
saling menggoda…
saling mencubit…
saling memandang dengan sangat…
saling menyentuh…???
dan bahkan lebih dari itu…??
sukakah engkau saudaraku…??
sukakah engkau bila ternyata saat ini istrimu
(kelak) sedang jalan bersama pria lain yang itu
bukan engkau…??
sukakah engkau…??
bila saat ini istrimu (kelak) tengah berpikir dan
merencanakan pertemuan berikutnya…??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana…apa saja
yang akan ia lakukan bersama pria itu…??
tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini istrimu (kelak) sedang makan bareng
bersama pria lain…
istrimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh pria-
pria….
istrimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra…
istrimu (kelak) saat ini sedang curhat dengan
pria… yang berkata…”aku tak bisa jika sehari tak
mengobrol denganmu…”
tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak
cemburukaaaaahhhhhhhh……???
tidak terasa bagaimanakah..
jika istrimu (kelak) saat ini tengah beradu
pandangan…
bercengkrama..
bercerita tentang masa depannya…
dengan pria lain yang bukan engkau…???
sukakah engkau kiranya istrimu (kelak) saat ini
tidak bisa tidur karena memikirkan pria
tersebut…??
menangis untuk pria tersebut…??
dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat
mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”
tidak patah hatikah engkau…???
sukakakah engkau bila istrimu (kelak ) berkata
pada pria lain..”tidak ada orang yang lebih aku
cintai selain engkau…??”
menyebut pria tersebut dalam doanya…
memohon pada Allah supaya pria tersebut
menjadi suaminya…
dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi
suaminya…..dan bukan pria tersebut…???
jika engkau tidak suka akan hal itu…
jika engkau merasa cemburu….
maka demikian halnya dengan istrimu (kelak)…
dan…Allah jauh lebih cemburu daripada istrimu….
Allah lebih cemburu…saudaraku…
melihat engkau sendirian…namun pikirannmu
enggan berpindah dari wanita yang telah
mengusik hatimu tersebut….
saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?
saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?
apabila dua orang telah digariskan untuk dapat
hidup bersama…
maka…
sejauh apapun mereka…
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi…
sebesar apapun beda diantara mereka…
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk
menghindarkannya…
meski mereka tidak pernah komunikasi
sebelumnya…
meski mereka sama sekali tidak pernah
membayangkan sebelumnya…
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa…
PASTI tetap saja mereka akan bersatu….
seakan ada magnet yang menarik mereka…
akan ada hal yang datang…untuk menyatukan
mereka berdua….
akan ada suatu kejadian…yang membuat mereka
saling mendekat…dan akhirnya bersatu…
namun…
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak
berjodoh…
maka…
sebesar apapun usaha mereka untuk saling
mendekat…
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka
untuk menyatukannya…
sekuat apapun perasaan yang ada diantara
mereka berdua…
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka
sebelumnya…
sedekat apapun…
PASTI…akan ada hal yang membuat mereka
akhirnya saling menjauh…
ada hal yang membuat mereka saling merasa
tidak cocok…
ada hal yang membuat mereka saling menyadari
bahwa memang bukan dia yang terbaik….
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk
bersatu…
bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan
tanggal pernikahan…
namun…yang perlu dicatat disini adalah…
yakinlah…bahwa yang diberikan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang digariskan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang telah ditulis oleh Allah
dalam KitabNya..
adalah…yang terbaik untuk kita….
adalah….yang paling sesuai untuk kita…
adalah…yang paling membuat kita merasa
bahagia,,,,
karena Dialah…yang paling mengerti kita…lebih
dari kita sendiri…
Dialah…yang paling menyayangi kita…
Dialah…yang paling mengetahui apa-apa yang
terbaik untuk kita…
sementara kita hanya sedikit saja
mengetahuinya…dan itupun hanya berdasarkan
pada persangkaan kita…
dan….yang perlu kita catat juga adalah…
JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU
HAL YANG KITA INGINKAN …ITU BUKAN
BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS
UNTUK MENDAPATKANNYA ….NAMUN
JUSTRU BERARTI BAHWA…KITA PANTAS…
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH
BAIK DARI HAL TERSEBUT …
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH
BAIK …SAUDARAKU….
LEBIH BAIK….
meskipun saat ini…mata manusia kita tidak
memahaminya…
meskipun saat itu…perasaan kita memandangnya
dengan sebelah mata…
meskipun saat itu…otak kita melihatnya sebagai
sesuatu yang buruk….
Tidak…jangan terburu-buru menvonis bahwa
engkau telah diberikan sesuatu yang
buruk….bahwa engkau tidak pantas….
karena kelak…engkau akan menyadarinya…
engkau akan menyadarinya perlahan…bahwa apa
yang telah hilang darimu….bahwa apa yang tidak
engkau dapatkan….bukanlah yang terbaik
untukmu…bukanlah yang pantas untukmu…
bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu….
karena itu…saudaraku…
jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…
waktumu….
jangan kau umbar semua perasaan cintamu
ketika engkau tengah menjalin proses taarufan…
jangan kau umbar semua kekuranganmu…
jangan kau ceritakan semuanya…
jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya…jika
engkau mencintainya…
karena belum tentu dia adalah jodohmu…
pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa
cocok…
karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk
kalian…
maka…memohonlah padaNya…
mintalah padanya diberikan petunjuk…dan
dijauhkan dari segala godaan yang ada…
karena…cinta sebelum pernikahan…pada
hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat…
Dan…percayalah…jodoh itu tidak ada kaitannya
dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak
sedikitnya teman perempuan
sama sekali tidak…
karena jika laki-laki yang terjaga maka Allahlah
yang akan mengirimkan pendamping untuknya…
karena laki-laki yang terjaga adalah laki-laki yang
banyak didamba oleh seorang akhwat sejati…
jadi…jagalah dirimu…hatimu…kehormatanmu…
sebelum saatnya tiba…
perbanyak bekalmu…dan doamu…
yakinlah…bahwa Allah yang akan memilihkan
yang terbaik untukmu…
amien…
*Ya Allah…karuniakanlah kami seorang pasangan
yang sholeh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal
baginya…
yang senantiasa memperbaiki dirinya…
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah
Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu
Ya Rabb…
kabulkan ya Allah…
amien…
dan segerakanlah…karena hati kami teramat
lemah…dan cinta sebelum menikah adalah
sebuah cobaan yang berat…
Saturday, January 8, 2011
Tata-Cara Berwudhu Menurut Al Qur ’an dan Sunnah Nabi
Oleh : Abu Abdirrohman Albayaty
Wudhu adalah menggunakan air yang suci
dan mensucikan dengan cara yang khusus di
empat anggota badan yaitu, wajah, kedua
tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab
yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu
apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi
[terbagi menjadi dua macam, (hadats besar)
yaitu segala yang mewajibkan mandi dan
(hadats kecil) yaitu semua yang mewajibkan
wudhu]. Adapun
dalil_wajibnya_wudhu_adalah_firman_Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-
Maidah:6)
Adapun dalil tata cara wudhu secara sempurna
adalah hadist riwayat Abdullah bin Zaid tentang
tata_cara_wudhu_(terdapat_lafal):
“Kemudian Rasulullah memasukkan tangannya,
kemudian berkumur dan memasukkan air ke
dalam hidung dengan satu tangan sebanyak
tiga kali.” (Mutafaq ‘alaih).
-Dan dari Humran bahwa Utsman pernah
meminta dibawakan air wudhu, maka ia
membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, …
kemudian membasuh tangan kanannya sampai
ke siku tiga kali, kemudian tangan kirinya seperti
itu pula, kemudian mengusap kepalanya,
kemudian membasuh kaki kanannya sampai
mata kaki tiga kali, kemudian kaki kirinya seperti
itu pula, kemudian berkata, “Aku melihat
Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini.
(Mutafaq alaih).
Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam
tatacara wudhu, ia berkata,
“ Dan Rasulullah mengusap kepalanya,
menyapukannya ke belakang dan ke
depan.” (Mutafaq alaih).
Dan lafal yang lain,
“( Beliau) memulai dari bagian depan kepalanya
sampai ke tengkuk, kemudian menariknya lagi
ke bagian depan tempat semula memulai.”
Dan dalam riwayat Ibnu Amr tentang tata
cara berwudhu, katanya, “Kemudian
( Rasulullah ) mengusap kepalanya, dan
memasukkan dua jari telunjuknya ke masing-
masing telinganya, dan mengusapkan kedua
jari jempolnya ke permukaan daun
telinganya.” (H.R . Abu Dawud, Nasa`i dan
disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Takaran air dalam berwudhu adalah
satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter
menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut
ukuran orang Irak. (lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal
400). Adapun untuk mandi sebanyak satu sha’
sampai lima mud. Sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah
Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air
sebanyak) satu mud dan mandi (dengan
takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima
mud.” ) (H.R. Muttafaq alaih
Tata cara wudhu yang diajarkan Rosululloh
adalah sebagai berikut:
Apabila seorang muslim mau berwudhu atau
mandi (wajib / junub), maka hendaknya ia
berniat di dalam hatinya. Niat yang dimaksud
dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat
untuk menghilangkan hadats atau untuk
menjadikan boleh suatu perbuatan yang
diwajibkan bersuci, oleh karenanya amalan-
amalan yang dilakukan tanpa niat tidak
diterima. Dalilnya_adalah_firman_Allah:
“Dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan
agar beribadah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-
Bayyinah:5).
Dan _hadits_dari_Umar_bin_al-
Khaththab,_bahwa_Rasulullah_bersabda,
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain
tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-
tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan
dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa
hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-
Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan)
Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya
karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia
harapkan, atau karena seorang wanita yang
ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah
yang ditujunya.”.
Kemudian membaca Basmalah :
( Bismillaah) بِسْمِ اللهِ
sebab Rasulullah bersabda:
“Tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut
nama Allah” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
dan dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab
Al-Irwa’ (81).
Dan apabila ia lupa, maka dia bisa
membacanya tatkala dia ingat ketika masih
berwudhu, namun apabila dia ingat tatkala
selesai berwudhu maka tidaklah mengapa dia
tidak membaca basmalah. Adapun dalil
gugurnya kewajiban mengucapkan basmalah
kalau lupa atau tidak tahu adalah_hadits:
“Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan
kelupaan.”
Kemudian mencuci kedua telapak tangannya
sebanyak tiga kali . (Lihat Gambar. 1).
Mengambil air dengan telapak tangan kanannya
sambil sebagian dimasukkan kedalam mulut (
madhmadhoh ) dan sebagian dimasukkan / di
hirup ke dalam hidung ( istinsyaq ) kemudian
membuangnya dengan bantuan tangan kirinya
( istintsar ). Tatkala air masih di dalam mulut
maka di usahakan air tersebut dikumur-kumur
( Bhs jawa : kemu ), begitu juga dengan yang
ada di dalam hidung sehingga kotorannya dapat
keluar. (Lihat Gambar.2).
Disunnahkan ketika menghirup air di lakukan
dengan kuat, kecuali jika dalam keadaan
berpuasa maka ia tidak mengeraskannya,
karena dikhawatirkan air masuk ke dalam
tenggorokan. Rasulullah bersabda:
“Keraskanlah di dalam menghirup air dengan
hidung, kecuali jika kamu sedang berpuasa”.
( Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh
Albani dalam shahih Abu Dawud (629))
Lalu mencuci muka sebanyak tiga kali. Batas
muka adalah dari batas tumbuhnya rambut
kepala bagian atas sampai dagu (Gambar 3b),
dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga
kiri. (Gambar. 3a).
Dan jika rambut yang ada pada muka tipis,
maka wajib dicuci hingga pada kulit dasarnya.
Tetapi jika tebal maka wajib mencuci bagian
atasnya saja, namun disunnahkan mencelah-
celahi rambut yang tebal tersebut. Karena
Rasulullah selalu mencelah-celahi jenggotnya di
saat berwudhu. (Riwayat Abu Daud dan
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa (92))
(Lihat Gambar. 4)
Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku
sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman :
“dan kedua tanganmu hingga siku”. (Surah Al-
Ma’idah : 6).
Cara mencuci tangan adalah dimulai dengan
mencuci tangan kanan sampai siku sebanyak
tiga kali baru mencuci tangan kiri sampai siku
sebanyak tiga kali. ( Lihat Gambar 5).
Kemudian mengusap kepala ( bedakan
dengan mencuci / membasuh ) beserta kedua
telinga satu kali, dimulai dari bagian depan
kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu
mengembalikannya ke depan kepala. (Lihat
Gambar. 6).
Setelah itu langsung mengusap kedua telinga
dengan air yang tersisa pada tangannya. Cara
mengusap telinga adalah dengan memasukkan
jari telunjuk pada lubang telinga sedang ibu jari
mengusap bagian luar daun telinga. Perbuatan
ini dilakukan sebanyak satu kali saja. (Lihat
Gambar. 7).
Lalu mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki
sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman:
“dan kedua kakimu hingga dua mata kaki”.
(Surah Al-Ma’idah : 6).
Yang dimaksud mata kaki adalah benjolan yang
ada di sebelah bawah betis. Kedua mata kaki
tersebut wajib dicuci berbarengan dengan kaki.
Cara mencuci kaki adalah dimulai dari kaki kanan
dulu sebanyak tiga kali baru kaki kiri sebanyak
tiga kali. (Lihat Gambar. 8).
Orang yang tangan atau kakinya terpotong, maka
ia mencuci bagian yang tersisa yang wajib
dicuci. (Lihat Gambar. 9). Dan apabila tangan
atau kakinya itu terpotong semua maka cukup
mencuci bagian ujungnya saja.
Setelah selesai berwudhu mengucapkan do’a
sebagaimana yang diajarkan Nabi berdasarkan
hadist yang diriwayatkan oleh Umar, katanya,
“Berkata Rasulullah, ‘Tidaklah salah seorang
diantara kalian berwudhu dan meyempurnakan
wudhunya, kemudian mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Asyhadu allaa ilaaha illallooh wahdahulaa
syariikalah wa asyhadu anna muhammadan
‘abduhu wa rosuuluh
“Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada
sesembahan yang berhak disembah dengan
benar kecuali hanya Allah, dan aku bersaksi
bahwa sesungguhnya Muhammad adalah
hamba dan utusan Allah”.
Melainkan dibukakan untuknya delapan pintu
syurga, ia dapat masuk dari mana saja yang ia
kehendaki”(H.R. Muslim).
Boleh ditambah dengan :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ
التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ
الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
Allohummaj ‘alnii minattawwaabiina waj’alnii
minal mutathohhiriin
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang
bertobat dan jadikanlah aku sebagai bagian dari
orang-orang yang bersuci”.( dalam riwayat At-
Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Al Irwa (96) )
Ketika berwudhu wajib mencuci anggota-
anggota wudhunya secara berurutan, tidak
menunda pencucian salah satunya hingga yang
sebelumnya kering.
Boleh mengelap anggota-anggota wudhu seusai
berwudhu.
Maroji’
1. Sifat wudhu Nabi , Syaikh Abdullah bin
Abdurrahman Al-Jibrin.
2. Beberapa pelajaran penting untuk segenap
ummat, syaikh Abdul Aziz bin
Abdulloh Bin Baz.
3. Dan beberapa sumber yang lain
Wudhu adalah menggunakan air yang suci
dan mensucikan dengan cara yang khusus di
empat anggota badan yaitu, wajah, kedua
tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab
yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu
apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi
[terbagi menjadi dua macam, (hadats besar)
yaitu segala yang mewajibkan mandi dan
(hadats kecil) yaitu semua yang mewajibkan
wudhu]. Adapun
dalil_wajibnya_wudhu_adalah_firman_Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-
Maidah:6)
Adapun dalil tata cara wudhu secara sempurna
adalah hadist riwayat Abdullah bin Zaid tentang
tata_cara_wudhu_(terdapat_lafal):
“Kemudian Rasulullah memasukkan tangannya,
kemudian berkumur dan memasukkan air ke
dalam hidung dengan satu tangan sebanyak
tiga kali.” (Mutafaq ‘alaih).
-Dan dari Humran bahwa Utsman pernah
meminta dibawakan air wudhu, maka ia
membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, …
kemudian membasuh tangan kanannya sampai
ke siku tiga kali, kemudian tangan kirinya seperti
itu pula, kemudian mengusap kepalanya,
kemudian membasuh kaki kanannya sampai
mata kaki tiga kali, kemudian kaki kirinya seperti
itu pula, kemudian berkata, “Aku melihat
Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini.
(Mutafaq alaih).
Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam
tatacara wudhu, ia berkata,
“ Dan Rasulullah mengusap kepalanya,
menyapukannya ke belakang dan ke
depan.” (Mutafaq alaih).
Dan lafal yang lain,
“( Beliau) memulai dari bagian depan kepalanya
sampai ke tengkuk, kemudian menariknya lagi
ke bagian depan tempat semula memulai.”
Dan dalam riwayat Ibnu Amr tentang tata
cara berwudhu, katanya, “Kemudian
( Rasulullah ) mengusap kepalanya, dan
memasukkan dua jari telunjuknya ke masing-
masing telinganya, dan mengusapkan kedua
jari jempolnya ke permukaan daun
telinganya.” (H.R . Abu Dawud, Nasa`i dan
disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Takaran air dalam berwudhu adalah
satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter
menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut
ukuran orang Irak. (lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal
400). Adapun untuk mandi sebanyak satu sha’
sampai lima mud. Sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah
Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air
sebanyak) satu mud dan mandi (dengan
takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima
mud.” ) (H.R. Muttafaq alaih
Tata cara wudhu yang diajarkan Rosululloh
adalah sebagai berikut:
Apabila seorang muslim mau berwudhu atau
mandi (wajib / junub), maka hendaknya ia
berniat di dalam hatinya. Niat yang dimaksud
dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat
untuk menghilangkan hadats atau untuk
menjadikan boleh suatu perbuatan yang
diwajibkan bersuci, oleh karenanya amalan-
amalan yang dilakukan tanpa niat tidak
diterima. Dalilnya_adalah_firman_Allah:
“Dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan
agar beribadah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-
Bayyinah:5).
Dan _hadits_dari_Umar_bin_al-
Khaththab,_bahwa_Rasulullah_bersabda,
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain
tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-
tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan
dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa
hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-
Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan)
Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya
karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia
harapkan, atau karena seorang wanita yang
ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah
yang ditujunya.”.
Kemudian membaca Basmalah :
( Bismillaah) بِسْمِ اللهِ
sebab Rasulullah bersabda:
“Tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut
nama Allah” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
dan dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab
Al-Irwa’ (81).
Dan apabila ia lupa, maka dia bisa
membacanya tatkala dia ingat ketika masih
berwudhu, namun apabila dia ingat tatkala
selesai berwudhu maka tidaklah mengapa dia
tidak membaca basmalah. Adapun dalil
gugurnya kewajiban mengucapkan basmalah
kalau lupa atau tidak tahu adalah_hadits:
“Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan
kelupaan.”
Kemudian mencuci kedua telapak tangannya
sebanyak tiga kali . (Lihat Gambar. 1).
Mengambil air dengan telapak tangan kanannya
sambil sebagian dimasukkan kedalam mulut (
madhmadhoh ) dan sebagian dimasukkan / di
hirup ke dalam hidung ( istinsyaq ) kemudian
membuangnya dengan bantuan tangan kirinya
( istintsar ). Tatkala air masih di dalam mulut
maka di usahakan air tersebut dikumur-kumur
( Bhs jawa : kemu ), begitu juga dengan yang
ada di dalam hidung sehingga kotorannya dapat
keluar. (Lihat Gambar.2).
Disunnahkan ketika menghirup air di lakukan
dengan kuat, kecuali jika dalam keadaan
berpuasa maka ia tidak mengeraskannya,
karena dikhawatirkan air masuk ke dalam
tenggorokan. Rasulullah bersabda:
“Keraskanlah di dalam menghirup air dengan
hidung, kecuali jika kamu sedang berpuasa”.
( Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh
Albani dalam shahih Abu Dawud (629))
Lalu mencuci muka sebanyak tiga kali. Batas
muka adalah dari batas tumbuhnya rambut
kepala bagian atas sampai dagu (Gambar 3b),
dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga
kiri. (Gambar. 3a).
Dan jika rambut yang ada pada muka tipis,
maka wajib dicuci hingga pada kulit dasarnya.
Tetapi jika tebal maka wajib mencuci bagian
atasnya saja, namun disunnahkan mencelah-
celahi rambut yang tebal tersebut. Karena
Rasulullah selalu mencelah-celahi jenggotnya di
saat berwudhu. (Riwayat Abu Daud dan
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa (92))
(Lihat Gambar. 4)
Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku
sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman :
“dan kedua tanganmu hingga siku”. (Surah Al-
Ma’idah : 6).
Cara mencuci tangan adalah dimulai dengan
mencuci tangan kanan sampai siku sebanyak
tiga kali baru mencuci tangan kiri sampai siku
sebanyak tiga kali. ( Lihat Gambar 5).
Kemudian mengusap kepala ( bedakan
dengan mencuci / membasuh ) beserta kedua
telinga satu kali, dimulai dari bagian depan
kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu
mengembalikannya ke depan kepala. (Lihat
Gambar. 6).
Setelah itu langsung mengusap kedua telinga
dengan air yang tersisa pada tangannya. Cara
mengusap telinga adalah dengan memasukkan
jari telunjuk pada lubang telinga sedang ibu jari
mengusap bagian luar daun telinga. Perbuatan
ini dilakukan sebanyak satu kali saja. (Lihat
Gambar. 7).
Lalu mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki
sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman:
“dan kedua kakimu hingga dua mata kaki”.
(Surah Al-Ma’idah : 6).
Yang dimaksud mata kaki adalah benjolan yang
ada di sebelah bawah betis. Kedua mata kaki
tersebut wajib dicuci berbarengan dengan kaki.
Cara mencuci kaki adalah dimulai dari kaki kanan
dulu sebanyak tiga kali baru kaki kiri sebanyak
tiga kali. (Lihat Gambar. 8).
Orang yang tangan atau kakinya terpotong, maka
ia mencuci bagian yang tersisa yang wajib
dicuci. (Lihat Gambar. 9). Dan apabila tangan
atau kakinya itu terpotong semua maka cukup
mencuci bagian ujungnya saja.
Setelah selesai berwudhu mengucapkan do’a
sebagaimana yang diajarkan Nabi berdasarkan
hadist yang diriwayatkan oleh Umar, katanya,
“Berkata Rasulullah, ‘Tidaklah salah seorang
diantara kalian berwudhu dan meyempurnakan
wudhunya, kemudian mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Asyhadu allaa ilaaha illallooh wahdahulaa
syariikalah wa asyhadu anna muhammadan
‘abduhu wa rosuuluh
“Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada
sesembahan yang berhak disembah dengan
benar kecuali hanya Allah, dan aku bersaksi
bahwa sesungguhnya Muhammad adalah
hamba dan utusan Allah”.
Melainkan dibukakan untuknya delapan pintu
syurga, ia dapat masuk dari mana saja yang ia
kehendaki”(H.R. Muslim).
Boleh ditambah dengan :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ
التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ
الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
Allohummaj ‘alnii minattawwaabiina waj’alnii
minal mutathohhiriin
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang
bertobat dan jadikanlah aku sebagai bagian dari
orang-orang yang bersuci”.( dalam riwayat At-
Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Al Irwa (96) )
Ketika berwudhu wajib mencuci anggota-
anggota wudhunya secara berurutan, tidak
menunda pencucian salah satunya hingga yang
sebelumnya kering.
Boleh mengelap anggota-anggota wudhu seusai
berwudhu.
Maroji’
1. Sifat wudhu Nabi , Syaikh Abdullah bin
Abdurrahman Al-Jibrin.
2. Beberapa pelajaran penting untuk segenap
ummat, syaikh Abdul Aziz bin
Abdulloh Bin Baz.
3. Dan beberapa sumber yang lain
WANITA YANG ADUANNYA DIDENGAR ALLAH DARI LANGIT KE 7
Wanita yang Aduannya Didengar
Allah dari Langit Ketujuh
Penyusun: Ummu Sufyan
Beliau adalah Khaulah binti
Tsa ’labah bin Ashram bin Fahar
bin Tsa’labah Ghanam bin Auf.
Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, yaitu Aus
bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk
sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk
perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama
Rabi ’.
Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya
sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut
kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah,
sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau
ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan
duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama
kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah.
Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah
membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap
kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah islam
(yaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang
jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh
menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang
telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-
Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa
kita. ”
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang
peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah
berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat
melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu
Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit
sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan.
Beliau berdo ’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu
tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-
hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan sebagaimana biasanya
beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda,
“Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-
Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau
membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah
telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan
gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan
(halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab
antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat …..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-
orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu
memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan
budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika
masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan
sebanyak enam puluh orang miskin.
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita
yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khaththab saat
berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat
kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi
Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya
kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan
menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia
kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka saya
akan mengerjakan shalat kemudian kembali untuk
mendengarkannya hingga selesai keperluannya. ”
Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk
meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak
ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta ’ala. Beliau
berdo’a tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh
dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang
mendalam. Sehingga do ’anya didengar Allah dari langit
ketujuh.
Allah berfirman yang artinya, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya
akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo ’a) kepada–
Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina. ” (QS. Al-Mu’min: 60)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi
Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu
terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua
tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya
dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan). ” (HR. Abu Dawud,
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hikmah
Tidak setiap do’a langsung dikabulkan oleh Allah. Ada faktor-
faktor yang menyebabkan do’a dikabulkan serta adab-adab
dalam berdo’a, diantaranya:
1. Ikhlash karena Allah semata adalah syarat yang
paling utama dan pertama, sebagaimana firman
Allah yang artinya, “Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-
orang kafir tidak menyukai(nya). ” (QS. Al-Mu’min:
14)
2. Mengawali do’a dengan pujian dan sanjungan
kepada Allah, diikuti dengan bacaan shalawat atas
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diakhiri
dengan shalawat lalu tahmid.
3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a
serta yakin akan dikabulkan. Sebagaimana yang
dilakukan oleh Khaulah binti Tsa ’labah radhiyallahu
‘anha.
4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam
berdo ’a, tidak terburu-buru serta khusyu’ dalam
berdo’a.
5. Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali
hanya kepada Allah semata.
6. Serta hal-hal lain yang sesuai tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain hal-hal di atas, agar do’a kita terkabul maka hendaknya
kita perhatikan waktu, keadaan, dan tempat ketika kita
berdo ’a. Disyari’atkan untuk berdo’a pada waktu, keadaan
dan tempat yang mustajab untuk berdo’a. Ketiga hal
tersebut merupakan faktor yang penting bagi terkabulnya
do ’a. Diantara waktu-waktu yang mustajab tersebut adalah:
1. Malam Lailatul qadar.
2. Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga
malam yang akhir.
3. Akhir setiap shalat wajib sebelum salam.
4. Waktu di antara adzan dan iqomah.
5. Pada saat turun hujan.
6. Serta waktu, keadaan, dan tempat lainnya yang
telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Semoga Allah memberikan kita taufiq agar kita semakin
bersemangat dan memperbanyak do ’a kepada Allah atas
segala hajat dan masalah kita. Saudariku, jangan sekali pun
kita berdo ’a kepada selain-Nya karena tiada Dzat yang berhak
untuk diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
janganlah kita berputus asa ketika do’a kita belum dikabulkan
oleh Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
1. Wanita-wanita Teladan di Masa Rasulullah (Pustaka
At-Tibyan)
2. Do’a dan Wirid (Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
– Pustaka Imam Syafi’i)
***
Artikel www.muslimah.or.id
Allah dari Langit Ketujuh
Penyusun: Ummu Sufyan
Beliau adalah Khaulah binti
Tsa ’labah bin Ashram bin Fahar
bin Tsa’labah Ghanam bin Auf.
Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, yaitu Aus
bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk
sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk
perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama
Rabi ’.
Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya
sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut
kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah,
sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau
ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan
duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama
kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah.
Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah
membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap
kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah islam
(yaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang
jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh
menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang
telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-
Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa
kita. ”
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang
peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah
berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat
melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu
Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit
sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan.
Beliau berdo ’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu
tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-
hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan sebagaimana biasanya
beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda,
“Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-
Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau
membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah
telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan
gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan
(halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab
antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat …..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-
orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu
memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan
budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika
masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan
sebanyak enam puluh orang miskin.
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita
yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khaththab saat
berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat
kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi
Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya
kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan
menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia
kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka saya
akan mengerjakan shalat kemudian kembali untuk
mendengarkannya hingga selesai keperluannya. ”
Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk
meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak
ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta ’ala. Beliau
berdo’a tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh
dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang
mendalam. Sehingga do ’anya didengar Allah dari langit
ketujuh.
Allah berfirman yang artinya, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya
akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo ’a) kepada–
Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina. ” (QS. Al-Mu’min: 60)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi
Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu
terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua
tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya
dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan). ” (HR. Abu Dawud,
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hikmah
Tidak setiap do’a langsung dikabulkan oleh Allah. Ada faktor-
faktor yang menyebabkan do’a dikabulkan serta adab-adab
dalam berdo’a, diantaranya:
1. Ikhlash karena Allah semata adalah syarat yang
paling utama dan pertama, sebagaimana firman
Allah yang artinya, “Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-
orang kafir tidak menyukai(nya). ” (QS. Al-Mu’min:
14)
2. Mengawali do’a dengan pujian dan sanjungan
kepada Allah, diikuti dengan bacaan shalawat atas
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diakhiri
dengan shalawat lalu tahmid.
3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a
serta yakin akan dikabulkan. Sebagaimana yang
dilakukan oleh Khaulah binti Tsa ’labah radhiyallahu
‘anha.
4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam
berdo ’a, tidak terburu-buru serta khusyu’ dalam
berdo’a.
5. Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali
hanya kepada Allah semata.
6. Serta hal-hal lain yang sesuai tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain hal-hal di atas, agar do’a kita terkabul maka hendaknya
kita perhatikan waktu, keadaan, dan tempat ketika kita
berdo ’a. Disyari’atkan untuk berdo’a pada waktu, keadaan
dan tempat yang mustajab untuk berdo’a. Ketiga hal
tersebut merupakan faktor yang penting bagi terkabulnya
do ’a. Diantara waktu-waktu yang mustajab tersebut adalah:
1. Malam Lailatul qadar.
2. Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga
malam yang akhir.
3. Akhir setiap shalat wajib sebelum salam.
4. Waktu di antara adzan dan iqomah.
5. Pada saat turun hujan.
6. Serta waktu, keadaan, dan tempat lainnya yang
telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Semoga Allah memberikan kita taufiq agar kita semakin
bersemangat dan memperbanyak do ’a kepada Allah atas
segala hajat dan masalah kita. Saudariku, jangan sekali pun
kita berdo ’a kepada selain-Nya karena tiada Dzat yang berhak
untuk diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
janganlah kita berputus asa ketika do’a kita belum dikabulkan
oleh Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
1. Wanita-wanita Teladan di Masa Rasulullah (Pustaka
At-Tibyan)
2. Do’a dan Wirid (Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
– Pustaka Imam Syafi’i)
***
Artikel www.muslimah.or.id
SURAT CINTA UNTUK SAUDARIKU2
Surat Cinta untuk Saudariku (2)
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan
Khadafi
Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan
bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau
surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu
hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?
Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at
ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan
dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah
diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?
Duhai …
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada
apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya …
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para
muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?
Jilbab kan modelnya banyak …
*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian
untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*
Iya, saudariku.
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa
yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita
tidak salah sangka.
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa
yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti
yang Allah maksud.
“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga
rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”
“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang
penting kan saya pake jilbab!”
Mmm…
Tidak seperti ini kan?
Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus
untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-
dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al
Mar ’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh
Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak
diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.
Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai
beberapa persyaratan, yaitu:
1. Menutup seluruh badan
Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama
berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib
untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh
Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas
mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat
berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak.
Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya
memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib
sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan
karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang
mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula
memandang saudara kita yang mengambil pendapat
sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan
menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka
dalam bertakwa dan berittiba ’ (mengikuti) sunnah nabi.
Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.
*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih
dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang
lain*
2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan
3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis
4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat
menggambarkan bentuk tubuh
5. Tidak diberi wewangian atau parfum
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari
popularitas)
“BERAT!
Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?
Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok
gimana ?”
“RIWEH!
Harus pakai kaus kaki terus.
Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”
“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style
ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self!
Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa
leluasa !”
Saudariku,
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja
ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan
membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan
sehingga kita mengurungkan niat.
Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman yang artinya:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat,
maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka
dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan
dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati
kebanyakan mereka tidak bersyukur. ” (Qs. Al A’raf: 16-17)
Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan
ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha
melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan
membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan
tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka
setan akan membantu dan memanjangkan angan dan
keinginannya. ”
Mungkin setan membisikkan
“ Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat
cantik!”
Sebentar!
Apa definisi cantik yang dimaksud?
Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan
banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan
cantik?
Sungguh!
Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para shohabiyah!
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang
mulia?
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa
yang ada di dalam dada-dada mereka.
Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?
Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.
Wahai saudariku,
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang
muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya,
istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Atau… mungkin setan membisikkan
“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”
Wahai saudariku,
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api
neraka.
Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar
terhadap panasnya neraka.
Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat
membakar kulit kita?
Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang
komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?
Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan
kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti
beberapa tetes keringat yang ada di dahi.
Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di
hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan
patuh kepada syariat.
“Riweh pake kaus kaki.”
“Ribet pake baju cewek.”
“Panas! Gerah!”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa
yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.
Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan
pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji
Allah dan janji-Nya adalah haq.
“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”
“Baju sempit itu?”
“Minyak wangiku?”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa
saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah,
niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam
ketaatan,
Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka
tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka
dengan kain yang ada.
Saudariku,
Jadi bukan melulu soal penampilan!
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang
telah menciptakan kita.
Tetapi …
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,
Berhias dengan akhlak yang mulia.
Hiasi diri kita dengan rasa malu!
Tutupi aurat kita!
Jangan pamerkan!
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang
sangat kita sayangi.
Simpanlah kecantikannya,
Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!
Simpan untuk suami saja,
Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa
untuknya.
Saudariku,
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau
mengikuti peringatan dan takut pada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada
orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut
kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-
Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan
dan pahala yang mulia. ” (QS. Yasin: 11)
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-
orang yang mau mengikuti peringatan,
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-
orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita
tidak melihat-Nya,
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-
orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan
pahala yang mulia.
Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau
mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga
kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan
dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):
“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan
kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan
kepada mereka, mereka tidak akan beriman. ” (QS. Yasin: 10)
***
Artikel www.muslimah.or.id
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan
Khadafi
Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan
bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau
surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu
hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?
Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at
ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan
dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah
diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?
Duhai …
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada
apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya …
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para
muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?
Jilbab kan modelnya banyak …
*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian
untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*
Iya, saudariku.
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa
yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita
tidak salah sangka.
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa
yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti
yang Allah maksud.
“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga
rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”
“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang
penting kan saya pake jilbab!”
Mmm…
Tidak seperti ini kan?
Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus
untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-
dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al
Mar ’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh
Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak
diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.
Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai
beberapa persyaratan, yaitu:
1. Menutup seluruh badan
Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama
berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib
untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh
Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas
mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat
berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak.
Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya
memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib
sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan
karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang
mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula
memandang saudara kita yang mengambil pendapat
sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan
menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka
dalam bertakwa dan berittiba ’ (mengikuti) sunnah nabi.
Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.
*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih
dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang
lain*
2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan
3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis
4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat
menggambarkan bentuk tubuh
5. Tidak diberi wewangian atau parfum
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari
popularitas)
“BERAT!
Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?
Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok
gimana ?”
“RIWEH!
Harus pakai kaus kaki terus.
Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”
“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style
ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self!
Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa
leluasa !”
Saudariku,
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja
ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan
membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan
sehingga kita mengurungkan niat.
Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman yang artinya:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat,
maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka
dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan
dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati
kebanyakan mereka tidak bersyukur. ” (Qs. Al A’raf: 16-17)
Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan
ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha
melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan
membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan
tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka
setan akan membantu dan memanjangkan angan dan
keinginannya. ”
Mungkin setan membisikkan
“ Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat
cantik!”
Sebentar!
Apa definisi cantik yang dimaksud?
Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan
banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan
cantik?
Sungguh!
Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para shohabiyah!
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang
mulia?
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa
yang ada di dalam dada-dada mereka.
Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?
Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.
Wahai saudariku,
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang
muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya,
istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Atau… mungkin setan membisikkan
“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”
Wahai saudariku,
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api
neraka.
Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar
terhadap panasnya neraka.
Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat
membakar kulit kita?
Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang
komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?
Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan
kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti
beberapa tetes keringat yang ada di dahi.
Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di
hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan
patuh kepada syariat.
“Riweh pake kaus kaki.”
“Ribet pake baju cewek.”
“Panas! Gerah!”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa
yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.
Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan
pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji
Allah dan janji-Nya adalah haq.
“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”
“Baju sempit itu?”
“Minyak wangiku?”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa
saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah,
niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam
ketaatan,
Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka
tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka
dengan kain yang ada.
Saudariku,
Jadi bukan melulu soal penampilan!
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang
telah menciptakan kita.
Tetapi …
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,
Berhias dengan akhlak yang mulia.
Hiasi diri kita dengan rasa malu!
Tutupi aurat kita!
Jangan pamerkan!
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang
sangat kita sayangi.
Simpanlah kecantikannya,
Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!
Simpan untuk suami saja,
Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa
untuknya.
Saudariku,
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau
mengikuti peringatan dan takut pada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada
orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut
kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-
Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan
dan pahala yang mulia. ” (QS. Yasin: 11)
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-
orang yang mau mengikuti peringatan,
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-
orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita
tidak melihat-Nya,
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-
orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan
pahala yang mulia.
Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau
mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga
kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan
dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):
“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan
kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan
kepada mereka, mereka tidak akan beriman. ” (QS. Yasin: 10)
***
Artikel www.muslimah.or.id
SURAT CINTA UNTUK SAUDARIKU1
Surat Cinta untuk Saudariku (1)
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan
Khadafi
Tulisan ini bermula dari rasa
gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai
bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat,
sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita
tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen
sama rok…”
Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu
kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan
kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan
terus memperbaiki diri.
Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita
bersaudara di atas ikatan iman.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling
menyayangi di atas ikatan tersebut.
Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.
Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu
sama lainnya.
Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal
untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan
orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar
ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat
yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar
dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang
taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang
enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta ’ala telah
mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh
mereka dengan jilbab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab
ayat 59 yang artinya,
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. ”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya,
“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang
berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala
mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena
sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk. ”
Di dalam hadis lain terdapat tambahan:
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan
memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat
dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan
sekian. ” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-
Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad
shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh
muslim dari riwayat Abu Hurairah)
Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita
keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa
diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba
pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*
Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“ cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar
rumah dan berhadapan dengan orang-orang?
Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita
yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan
beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk
menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.
Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah
yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa
yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan
merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih
mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada
Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?
Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa
yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung
hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok
parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa
yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh
badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan
kebolehan tubuh dan kecantikan.
Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang
tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah
mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal
pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun
mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi
dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.
Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita
memilih untuk diri kita sendiri.
Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya
lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.
Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan
kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan
menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda
tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?
Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti
membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa
dinikmati sembarang orang.
Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
keluar dari ketaatan?
-bersambung insya Allah-
***
Artikel www.muslimah.or.id
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan
Khadafi
Tulisan ini bermula dari rasa
gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai
bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat,
sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita
tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen
sama rok…”
Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu
kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan
kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan
terus memperbaiki diri.
Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita
bersaudara di atas ikatan iman.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling
menyayangi di atas ikatan tersebut.
Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.
Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu
sama lainnya.
Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal
untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan
orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar
ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat
yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar
dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang
taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang
enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta ’ala telah
mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh
mereka dengan jilbab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab
ayat 59 yang artinya,
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. ”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya,
“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang
berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala
mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena
sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk. ”
Di dalam hadis lain terdapat tambahan:
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan
memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat
dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan
sekian. ” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-
Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad
shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh
muslim dari riwayat Abu Hurairah)
Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita
keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa
diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba
pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*
Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“ cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar
rumah dan berhadapan dengan orang-orang?
Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita
yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan
beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk
menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.
Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah
yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa
yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan
merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih
mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada
Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?
Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa
yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung
hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok
parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa
yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh
badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan
kebolehan tubuh dan kecantikan.
Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang
tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah
mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal
pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun
mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi
dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.
Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita
memilih untuk diri kita sendiri.
Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya
lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.
Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan
kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan
menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda
tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?
Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti
membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa
dinikmati sembarang orang.
Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
keluar dari ketaatan?
-bersambung insya Allah-
***
Artikel www.muslimah.or.id
YANG TERLUPA DARI KEIKHLASAN
Yang Terlupa Dari Keikhlasan
Ikhlas, suatu kata yang sudah
tidak asing lagi di telinga kaum
muslimin. Sebuah kata yang
singkat namun sangat besar
maknanya. Sebuah kata yang seandainya
seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal
bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi
kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah
keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika
amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama
kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal
perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti
tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan
perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali
dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula
perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang
sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam) ”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka
dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat
erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam
Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam
kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain
An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi
dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut.
namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah
ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu
amalan hanyalah karena Allah semata, engkau
melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya
(ingin dilihat manusia) ataupun sum ’ah (ingin didengar
manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan
pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan
juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia.
Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah
semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah
saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh
berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik,
meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya
keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah
semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur ’an , haji
dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah,
ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-
amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika
engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus
ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus
ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang
dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau
lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau
tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat
baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau
membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika
engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan
dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut
dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku,
jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada
seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain,
maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika
malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya,
“ Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin
mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka
malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu
kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang
itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya
karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun
berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk
mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah
mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu
karena-Nya. ” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini
mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena
Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang
tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai
ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang
dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah
Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah,
bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di
mulut istrimu. ” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya”
dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di
mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka
Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan
pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan
ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat
ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh
merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar
seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam
seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah,
sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita
bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal
yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya
ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat
gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin
Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi
besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar
menjadi kecil hanya karena niat. ”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang
laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata:
Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak
mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga
karenanya. ” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan,
namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga
karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-
putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir
mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh
salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi
sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum
kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni
dosanya. ” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah
hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh
perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah
mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula
apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ?
Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar
nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak
akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu
Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah,
bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang
untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh
orang lain ?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak
mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi
pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak
mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan
kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits
Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini
dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan
yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam
amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak
mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami
akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan
oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas
karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan
tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka
keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk
menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang
perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab:
“ Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara
mereka. ” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan
oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga
dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah
berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah,
agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba
Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah
mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf
sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-
faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan
tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf
termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun
menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai
ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam
perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal
tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya
keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan
perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita
dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk
orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
***
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Artikel www.muslimah.or.id
Ikhlas, suatu kata yang sudah
tidak asing lagi di telinga kaum
muslimin. Sebuah kata yang
singkat namun sangat besar
maknanya. Sebuah kata yang seandainya
seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal
bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi
kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah
keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika
amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama
kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal
perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti
tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan
perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali
dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula
perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang
sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam) ”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka
dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat
erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam
Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam
kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain
An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi
dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut.
namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah
ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu
amalan hanyalah karena Allah semata, engkau
melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya
(ingin dilihat manusia) ataupun sum ’ah (ingin didengar
manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan
pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan
juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia.
Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah
semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah
saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh
berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik,
meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya
keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah
semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur ’an , haji
dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah,
ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-
amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika
engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus
ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus
ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang
dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau
lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau
tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat
baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau
membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika
engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan
dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut
dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku,
jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada
seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain,
maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika
malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya,
“ Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin
mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka
malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu
kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang
itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya
karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun
berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk
mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah
mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu
karena-Nya. ” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini
mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena
Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang
tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai
ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang
dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah
Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah,
bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di
mulut istrimu. ” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya”
dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di
mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka
Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan
pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan
ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat
ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh
merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar
seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam
seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah,
sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita
bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal
yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya
ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat
gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin
Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi
besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar
menjadi kecil hanya karena niat. ”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang
laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata:
Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak
mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga
karenanya. ” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan,
namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga
karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-
putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir
mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh
salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi
sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum
kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni
dosanya. ” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah
hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh
perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah
mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula
apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ?
Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar
nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak
akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu
Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah,
bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang
untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh
orang lain ?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak
mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi
pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak
mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan
kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits
Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini
dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan
yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam
amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak
mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami
akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan
oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas
karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan
tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka
keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk
menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang
perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab:
“ Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara
mereka. ” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan
oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga
dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah
berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah,
agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba
Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah
mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf
sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-
faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan
tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf
termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun
menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai
ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam
perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal
tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya
keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan
perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita
dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk
orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
***
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Artikel www.muslimah.or.id
Sepuluh Wasiat untuk Istri yangMendambakan “Keluarga Bahagia tanpaProblema”
Penulis: Mazin bin Abdul Karim Al Farih
Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk
istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-
anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai
pondok yang tenang dan tempat nan aman yang
dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan
kelembutan.
Wahai wanita mukminah!
Sepuluh wasiat ini aku persembahkan untukmu,
yang dengannya engkau membuat ridla
Tuhanmu, engau dapat membahagiakan
suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu.
Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan
menjauhi maksiat
Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di
rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah
kepada Allah!!
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan
negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka
janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan
berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau
seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada
Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh
tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan
menyatukan kami dan maksiat menceraikan
kami…”
Wahai hamba Allah… Jagalah Allah niscaya Dia
akan menjagamu dan menjaga untukmu
suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya
ketaatan akan mengumpulkan hati dan
mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan
akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan
keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika
mendapatkan sikap keras dan berpaling dari
suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada
Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku
(kesalahanku)…”
Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari
berbuat maksiat, khususnya:
- Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau
menunaikannya dengan cara yang tidak benar.
Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat
riya’ dan sum’ah.
- Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah
berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)
dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan)
wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita
(yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)
- Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang
sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ُّبَحَأ ِدالِبْلا ىَلِإ ِهللا
ْمُهُدِجاَسَم َضَغْبَأَو ِدالِبْلا
ىَلِإ ِهللا ْمُهُقاَوْسَأ
“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-
masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah
adalah pasar-pasarnya.”1
- Mendidik anak dengan pendidikan barat atau
menyerahkan pendidikan anak kepada para
pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
- Meniru wanita-wanita kafir. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
ْنَم َهَّبَشَت ٍمْوَقِب َوُهَف ْمُهْنِم
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia
termasuk golongan mereka.”2
- Menyaksikan film-film porno dan
mendengarkan nyanyian.
- Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
- Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke
dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
- Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.3
- Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ُءْرَمْلا ىَلَع ِنْيِد ِهِلْيِلَخ
“Seseorang itu menurut agama temannya.”4
- Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur
(membuka wajah)
Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan
memahami suami
Hendaknya seorang istri berupaya memahami
suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka
ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang
dibenci suami maka ia berupaya untuk
menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam
perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini
dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana
yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama
dua puluh tahun hidup bersama belum pernah
aku melihat dari istriku perkara yang dapat
membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran:
“Bagaimana hal itu bisa terjadi.”
Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku
masuk menemui istriku, aku mendekat padanya
dan aku hendak menggapainya dengan tanganku,
maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu
Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah
dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita
asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka
terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai
niscaya aku akan melakukannya dan apa yang
engkau tidak sukai niscaya aku akan
meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku
ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun
kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi
Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah
pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan:
‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan
shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya.
Sungguh engkau telah mengucapkan suatu
kalimat yang bila engkau tetap berpegang
padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu
dan jika engkau tinggalkan (tidak
melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk
menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan
aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari
kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau
lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata:
‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi
keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka
kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami
tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).
Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang
engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka
aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang
engkau tidak sukai maka akupun tidak
menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah
kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum
yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku
melewati malam yang paling indah bersamanya.
Dan aku hidup bersamanya selama setahun
dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali
apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan
tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku
dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu
mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana
pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah..
Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di
rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada
istri penentang (lancang). Maka didiklah dan
perbaikilah akhlaknya sesuai dengan
kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku
selama dua puluh tahun, belum pernah aku
mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali
sekali, itupun karena aku berbuat dhalim
padanya.”5
Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah,
aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada
istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya?
Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan
yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap
sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu
adalah keutamaan Allah yang diberikannya
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada
suami dan bergaul dengan baik
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ْوَل ُتْنُك اَرِمآ اًدَحَأ ْنَأ َدُجْسَي
ٍدَحَأل ُتْرَمَأل َةَأْرَمْلا ْنَأ
َدُجْسَت اَهِجْوَزِل
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang
untuk sujud kepada orang lain niscaya aku
perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”6
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam
perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan
baik dalam bergaul dengannya serta tidak
mendurhakainya. Bersabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam:
ِناَنْثِإ ال ُزِواَجُت اَمُهُتالَص
اَمُهُسْوُؤُر: ٌدْبَع قَبآ ْنِم
ِهْيِلاَوَم ىَّتَح َعِجْرَي ٌةَأَرْماَو
ْتَصَع اَهَجْوَز ىَّتَح َعِجْرَت
“Dua golongan yang shalatnya tidak akan
melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari
tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka
kepada suaminya hingga ia kembali.”7
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata
dalam memberi nasehat kepada para wanita:
“Wahai sekalian wanita, seandainya kalian
mengetahui hak suami-suami kalian atas diri
kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara
kalian yang mengusap debu dari kedua kaki
suaminya dengan pipinya.”8
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan
baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan
menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah.
Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita
bagaimanakah yang terbaik?” Beliau menjawab:
ىِتَّلَا ُهُّرِسَت اَذِإ َرَظَن،
ُهُعْيِطُتَو اَذِإ َرَمَأ، الَو
ُهُفِلاَخُت ْيِف اَهِسْفَن الَو اَهِلاَم
اَمِب ُهَرْكَي
“Yang menyenangkan suami ketika dipandang,
taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak
menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan
yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga
dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada
Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
ُةَأْرَمْلَا اَذِإ ْتَّلَص اَهَسْمَخ
ْتَماَصَو اَهَرْهَش ْتَنَصْحَأَو
اَهَجْرَف، ْتَعاَطَأَو اَهَجْوَز،
ُلُخْدَتْلَف ْنِم ِّيَأ ِباَوْبَأ
ِةَّنَجْلا ْتَءاَش
“Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa
pada bulan Ramadlan, menjaga kemaluannya dan
taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari
pintu mana saja yang ia inginkan.”9
Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa
cukup)
Kami menginginkan wanita muslimah ridla
dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik
itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia
menuntut di luar kesanggupan suaminya atau
meminta sesuatu yang tidak perlu. Dalam riwayat
disebutkan “Wanita yang paling besar
barakahnya.” Wahai siapa gerangan wanita itu?!
Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta
menuruti selera syahwatnya dan
mengenyangkan keinginannya? Ataukah dia yang
biasa mengenakan pakaian termahal walau
suaminya harus berhutang kepada teman-
temannya untuk membayar harganya?! Sekali-kali
tidak… demi Allah, namun (mereka adalah):
ُمَظْعَأ ِءاَسِّنلا ٌةَكَرَب،
َّنُهُّرَسْيَأ ًةَنْؤُم
“Wanita yang paling besar barakahnya adalah
yang paling ringan maharnya.”10
Renungkanlah wahai suadariku muslimah
adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah
seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar
rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa
wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami: “Hati-
hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan
yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa
lapar namun kami tidak bisa sabar dari api
neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa
yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika
hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini
dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu
jawabannya dari pada diriku.
Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan
rumah, seperti mendidik anak-anak dan
tidak menyerahkannya pada pembantu,
menjaga kebersihan rumah dan menatanya
dengan baik dan menyiapkan makan pada
waktunya. Termasuk pengaturan yang baik
adalah istri membelanjakan harta suaminya
pada tempatnya (dengan baik), maka ia
tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan
alat-alat kecantikan.
Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah
seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia
bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu
(mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut
merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari
rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang
sangat di gunung hingga hampir-hampir
tenggorokanku terbakar. Maka aku persiapkan
untuknya air yang dingin hingga ia dapat
meminumnya jika ia datang. Aku menata dan
merapikan barang-barangku (perabot rumah
tangga) dan aku persiapkan hidangan makan
untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya
dengan mengenakan pakaianku yang paling
bagus. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku
menyambutnya sebagaimana pengantin
menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam
keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia
ingin beristirahat maka aku membantunya dan
jika ia menginginkan diriku aku pun berada di
antara kedua tangannya seperti anak perempuan
kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”
Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan
keluarga suami dan kerabat-kerabatnya,
khususnya dengan ibu suami sebagai orang
yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu
untuk menampakkan kecintaan kepadanya,
bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat,
bersabar atas kekeliruannya dan engkau
melaksanakan semua perintahnya selama
tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang masuk
padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan
buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan
tidak adanya perhatian akan haknya. Ingatlah
wahai hamba Allah, sesungguhnya yang
bergadang dan memelihara pria yang sekarang
menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia
atas kesungguhannya dan hargailah apa yang
telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan
memeliharamu. Maka adakah balasan bagi
kebaikan selain kebaikan?
Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam
perasaannya dan turut merasakan duka cita
dan kesedihannya.
Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu
maka sertailah dia dalam duka cita dan
kesedihannya. Aku ingin mengingatkan engkau
dengan seorang wanita yang terus hidup dalam
hati suaminya sampaipun ia telah meninggal
dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak
dapat mengikis kecintaan sang suami padanya
dan panjangnya masa tidak dapat menghapus
kenangan bersamanya di hati suami. Bahkan ia
terus mengenangnya dan bertutur tentang
andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang
dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan
kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari
istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya.
Suatu hari istri yang lain itu (yakni Aisyah
radliallahu ‘anha) berkata:
اَم ُتْرِغ ىَلَع ٍةَأَرْما ؟ِّيِبَّنلِل
اَم ُتْرِغ ىَلَع َةَجْيِدَخ ْتَكَلَه
َلْبَق ْنَأ يِنَجَّوَزَتَي، اَّمَل
ُتْنُك ُهُعَمْسَأ اَهُرُكْذَي
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun
dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti
cemburuku pada Khadijah, padahal ia meninggal
sebelum beliau menikahiku, mana kala aku
mendengar beliau selalu menyebutnya.”11
Dalam riwayat lain:
اَم ُتْرِغ ىَلَع ٍدَحَأ ْنِم ِءاَسِن
ِّيِبَّنلا ىَّلَص ُهللا ِهْيَلَع
َمَّلَسَو اَم ُتْرِغ ىَلَع َةَجْيِدَخ
اَمَو اَهُتْيَأَر ْنِكَلَو َناَك
ُّيِبَّنلا ىَّلَص ُهللا ِهْيَلَع
َمَّلَسَو ُرِثْكُي اَهَرْكِذ
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorangpun
dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti
cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak
pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam banyak menyebutnya.”12
Suatu kali Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam setelah beliau menyebut Khadijah:
ُهَّنَأَك ْمَل ْنُكَي يِف اَيْنُّدلا
ٌةَأَرْما الِإ ُةَجْيِدَخ ُلوُقَيَف
اَهَل اَهَّنِإ ْتَناَك ْتَناَكَو
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain
Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada Aisyah:
‘Khadijah itu begini dan begini.’”13
Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini
dan begini” (dalam hadits diatas) adalah sabda
beliau:
يِبْتَنَمآ َنْيِح َرَفَك ُساَّنلا
يِنْتَقَّدَصَو يِنَبَّذَكْذِإ ُساَّنلا
يِنْتَساَوَر اَهِلاَمِب يِنَمَرَحْذِإ
ُساَّنلا يِنَقَزَرَو ُهللا اَهْنِم
دَلَولا
“Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur,
ia membenarkan aku ketika semua orang
mendustakanku, ia melapangkan aku dengan
hartanya ketika semua orang meng-haramkan
(menghalangi) aku dan Allah memberiku rezki
berupa anak darinya.”14
Dialah Khadijah yang seorangpun tak akan lupa
bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dan memberi dorongan kepada
beliau. Dan ia menyerahkan semua yang
dimilikinya di bawah pengaturan beliau dalam
rangka menyampaikan agama Allah kepada
seluruh alam.
Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang
masyhur yang menjadikan Nabi merasakan
tenang setelah terguncang dan merasa bahagia
setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali
yang pertama:
ُهللاَو ال َكْيِزْخُي ُهللا اًدَبَأ
َكَّنِإ ُلِصَتَل َمِحَّرلا ُلِمْحَتَو
َّلَكْلا ُبِسْكَتَو َمْوُدْعَمْلا
ُنْيِعُتَو ىَلَع ِبِئاَوَن ِّقَحْلا
“Demi Allah, Allah tidak akan
menghinakanmu selama-lamanya. Karena
sungguh engkau menyambung silaturahmi,
menanggung orang lemah, menutup
kebutuhan orang yang tidak punya dan
engkau menolong setiap upaya
menegakkan kebenaran.”15
Jadilah engkau wahai saudari muslimah seperi
Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai
kita semua.
Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima
kasih) kepada suami atas kebaikannya dan
tidak melupakan keutamaanya.
Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada
manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada
Allah. Maka janganlah meniru wanita yang jika
suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang
masa (tahun), kemudian ia melihat sedikit
kesalahan dari suaminya, ia berkata: “Aku sama
sekali tidak melihat kebaikan darimu…” Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
اَي َرَشْعَم ِءاَسِّنلا َنْقَّدَصَت
يِّنِإَف َّنُكُتْيَأَر َرَثْكَأ ِلْهَا
ِراَّنلا َنْلُقَف اَي َلوُسَر ِهللا
ْمَلَو َكِلَذ َلاَق َنْرِثْكُت َنْعَّللا
َنْرُفْكَتَو َرْيِشَعْلا
“Wahai sekalian wanita bersedekahlah karena aku
melihat mayoritas penduduk nereka adalah
kalian.” Maka mereka (para wanita) berkata: “Ya
Rasulullah kepada demikian?” Beliau menjawab:
“Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri
kebaikan suami.”16
Mengkufuri kebikan suami adalah menentang
keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.
Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada
suami dapat engkau tunjukkan dengan
senyuman manis di wajahmu yang
menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa
ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam
pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan
kata-kata cinta yang memikat yang dapat
menyegarkan kembali cintamu dalam hatinya.
Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya
dalam menunaikan hakmu. Namun di mana
bandingan kesalahan itu dengan lautan
keutamaan dan kebaikannya padamu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ال ُرُظْنَي َهللا ىَلِإ ٍةَأَرْما ال
ُرُكْشَت اَهَجْوَز َيِهَو ال
َيِنْغَتْسَت ُهْنَع
“Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak
tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak
merasa cukup darinya.”17
Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia
suami dan menutupi kekurangannya (aibnya)
.
Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang
paling dekat dengannya serta paling tahu
kekhususannya (yang paling pribadi dari diri
suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan
sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapa pun
maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.
Sesungguhnya majelis sebagian wanita tidak
luput dari membuka dan menyebarkan aib-aib
suami atau sebagian rahasianya. Ini merupakan
bahaya besar dan dosa yang besar. Karena itulah
ketika salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam menyebarkan satu rahasia beliau,
datang hukuman keras, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersumpah untuk tidak
mendekati isti tersebut selama satu bulan penuh.
Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya
berkenaan dengan peristiwa tersebut.
ْذِإَو َّرَسَأ ُّيِبَّنلا ىَلِإ ِضْعَب
ِهِجاَوْزَأ اًثيِدَح اَّمَلَف ْتَأَّبَن
ِهِب ُهَرَهْظَأَو ُهللا ِهْيَلَع َفَّرَع
ُهَضْعَب َضَرْعَأَو ْنَع ٍضْعَب
“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara
rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya
suatu peristiwa. Maka tatkala si istri menceritakan
peristiwa itu (kepada yang lain), dan Allah
memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu
Muhammad memberitahukan sebagian (yang
diberitakan Allah kepada beliau) dan
menyembunyikan sebagian yang lain.” (At
Tahriim: 3)
Suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam
mengunjungi putranya Ismail, namun beliau tidak
mejumpainya. Maka beliau tanyakan kepada istri
putranya, wanita itu menjawab: “Dia keluar
mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrahim
bertanya lagi tentang kehidupan dan keadaan
mereka. Wanita itu menjawab dengan mengeluh
kepada Ibrahim: “Kami adalah manusia, kami
dalam kesempitan dan kesulitan.” Ibrahim ‘Alaihis
Salam berkata: “Jika datang suamimu,
sampaikanlah salamku padanya dan katakanlah
kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.”
Maka ketika Ismail datang, istrinya menceritakan
apa yang terjadi. Mendengar hal itu, Ismail
berkata: “Itu ayahku, dan ia memerintahkan aku
untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada
keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.
(Riwayat Bukhari)
Ibrahim ‘Alaihis Salam memandang bahwa
wanita yang membuka rahasia suaminya dan
mengeluhkan suaminya dengan kesialan, tidak
pantas untuk menjadi istri Nabi maka beliau
memerintahkan putranya untuk menceraikan
istrinya.
Oleh karena itu, wahai saudariku muslimah,
simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah
aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali
karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan
perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli
fatwa) atau orang yang engkau harapkan
nasehatnya. Sebagimana yang dilakukan Hindun
radliallahu ‘anha di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Hindun berkata: “Abu Sufyan adalah
pria yang kikir, ia tidak memberiku apa yang
mencukupiku dan anak-anakku. Apakah boleh
aku mengambil dari hartanya tanpa izinnya?!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ambillah yang mencukupimu dan anakmu
dengan cara yang ma`ruf.”
Cukup bagimu wahai saudariku muslimah sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
َّنِإ ْنِم ِرَش ِساَّنلا َدْنِع ِهللا
ًةَلِزْنَم َمْوَي ِةَماَيِقْلا
َلُجَّرلا يِضْفُي ىَلِإ ِهِتَأَرْما
يِضْفُتَو ِهْيَلِإ َّمُث ُرُشْنَي
اَمُهُدَحَأ ُّرِس ُهَبِحاَص
“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek
kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah
adalah pria yang bersetubuh dengan istrinya dan
istri yang bersetubuh dengan suaminya,
kemudian salah seorang dari keduanya
menyebarkan rahasia pasanannya.”18
Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan
serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
- Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri
menceritakan dan menggambarkan kecantikan
sebagian wanita yang dikenalnya kepada
suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam telah melarang yang demikian itu
dengan sabdanya:
ال ُرِشاَبُت ُةَأْرَم َةَأْرَمْلا
اَهَتَعْنَتَف اَهِجْوَزِل ُهَّنَأَك
ُرُظْنَي اَهْيَلِإ
“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita
lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada
suaminya sehingga seakan-akan suaminya
melihatnya.”19
Tahukah engkau mengapa hal itu dilarang?!
- Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan
sebagian besar istri ketika suaminya baru kembali
dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan
enak, ia sudah mengingatkannya tentang
kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan
dan uang jajan anak-anak. Dan biasanya suami
tidak menolak pembicaraan seperti ini, akan tetapi
seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang
tepat untuk menyampaikannya.
- Termasuk kesalahan adalah memakai pakaian
yang paling bagus dan berhias dengan hiasan
yang paling bagus ketika keluar rumah. Adapun
di hadapan suami, tidak ada kecantikan dan tidak
ada perhiasan.
Dan masih banyak lagi kesalahan lain yang
menjadi batu sandungan (penghalang) bagi
suami untuk menikmati kesenangan dengan
istrinya. Istri yang cerdas adalah yang menjauhi
semua kesalahan itu.
Footnote:
1Riwayat Muslim dalam Al-Masajid: (bab Fadlul
Julus fil Mushallahu ba’dash Shubhi wa Fadlul
Masajid)
2Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud,
dishahihkan oleh Al Albany, lihat “Irwaul Ghalil“,
no. 1269 dan “Shahihul Jami’” no. 6149
3Lihat kitab “Kaif Taksabina Zaujak?!” oleh
Syaikh Ibrahim bin Shaleh Al Mahmud, hal. 13
4Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits
hasan gharib. Berkata Al Albany: “Hadits ini
sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi.” Lihat
takhrij “Misykatul Masabih” no. 5019
5Al Masyakil Az Zaujiyyah wa Hululuha fi
Dlaw`il Kitab wa Sunnah wal Ma’ariful
Haditsiyah oleh Muhammad Utsman Al Khasyat,
hal. 28-29
6Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al
Albany, lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no.
5294
7Riwayat Thabrani dan Hakim dalam
“Mustadrak“nya, dishahihkan Al Albany
hafidhahullah sebagaimana dalam “Silsilah Al
Ahadits Ash Shahihah” no. 288
8Lihat kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal.
173, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah
9Riwayat Ibnu Nuaim dalam “Al Hilyah“. Berkata
Syaikh Al Albany: “Hadits ini memiliki penguat
yang menaikkannya ke derajat hasan atau
shahih.” Lihat “Misykatul Mashabih” no. 3254
10Hadits lemah, diriwayatkan Hakim dan
dishahihkannya dan disepakati Dzahabi. Namun
Al Albany mengisyaratkan kelemahan hadits ini.
Illatnya pada Ibnu Sukhairah dan pembicaraaan
tentangnya disebutkan secara panjang lebar pada
tempatnya, lihatlah dalam “Silsilah Al Ahadits
Ad Dlaifah” no. 1117
11Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
12Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
13Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
14Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 6/118
no. 24908. Aku katakan: Al Hafidh Ibnu Hajar
membawakan riwayat ini dalam “Fathul Bari“, ia
berkata: “Dalam riwayat Ahmad dari hadits
Masruq dari Aisyah.” Dan ia menyebutkannya,
kemudian mendiamkannya. Di tempat lain (juz
7/138), ia berkata: “Diriwayatkan Ahmad dan
Thabrani.” Kemudian membawakan hadits
tersebut. Berkata Syaikh kami Abdullah Al Hakami
hafidhahullah: “Mungkin sebab diamnya Al Hafidh
rahimahullah karena dalam sanadnya ada rawi
yang bernama Mujalid bin Said Al Hamdani.
Dalam “At Taqrib” hal. 520, Al Hafidh berkata: “Ia
tidak kuat dan berubah hapalannya pada akhir
umurnya.” Al Haitsami bersikap tasahul
(bermudah-mudah) dalam menghasankan hadits
ini, beliau berkata dalam Al Majma’ (9/224):
“Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya hasan.”
15Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam
“Kitab Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul
Iman”
16Diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Al Haidl“,
(bab Tarkul Haidl Ash Shaum) dan diriwayatkan
Muslim dalam “Kitabul Iman” (bab Nuqshanul
Iman binuqshanith Thaat)
17Diriwayatkan Nasa’i dalam “Isyratun Nisa’”
dengan isnad yang shahih.
18Diriwayatkan Muslim dalam “An Nikah” (bab
Tahrim Ifsya’i Sirril Mar’ah).
19Diriwayatkan Bukhari dalam “An Nikah” (bab
Laa Tubasyir Al Mar’atul Mar’ah). Berkata sebagian
ulama: “Hikmah dari larangan itu adalah
kekhawatiran kagumnya orang yang diceritakan
terhadap wanita yang sedang digambarkan,
maka hatinya tergantung dengannya
(menerawang membayangkannya) sehingga ia
jatuh kedalam fitnah. Terkadang yang
menceritakan itu adalah istrinya -sebagaimana
dalam hadits dia atas- maka bisa jadi hal itu
mengantarkan pada perceraiannya. Menceritakan
kebagusan wanita lain kepada suami
mengandung kerusakan-kerusakan yang tidak
terpuji akibatnya.
Sumber: ةرسألا الب لكاشم karya Mazin bin
Abdul Karim Al Farih. Edisi Indonesia: Rumah
Tangga Tanpa Problema; bab Sepuluh
Wasiat untuk Istri yang Mendambakan
“Keluarga Bahagia tanpa Problema“, hal.
59-82. Penerjemah: Ummu Ishâq Zulfâ bintu
Husein. Editor: Abû ‘Umar ‘Ubadah. Penerbit:
Pustaka Al-Haura’, cet. ke-2, Jumadits Tsani
1424H. Dinukil untuk http://akhwat.web.id.
Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk
istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-
anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai
pondok yang tenang dan tempat nan aman yang
dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan
kelembutan.
Wahai wanita mukminah!
Sepuluh wasiat ini aku persembahkan untukmu,
yang dengannya engkau membuat ridla
Tuhanmu, engau dapat membahagiakan
suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu.
Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan
menjauhi maksiat
Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di
rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah
kepada Allah!!
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan
negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka
janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan
berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau
seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada
Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh
tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan
menyatukan kami dan maksiat menceraikan
kami…”
Wahai hamba Allah… Jagalah Allah niscaya Dia
akan menjagamu dan menjaga untukmu
suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya
ketaatan akan mengumpulkan hati dan
mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan
akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan
keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika
mendapatkan sikap keras dan berpaling dari
suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada
Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku
(kesalahanku)…”
Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari
berbuat maksiat, khususnya:
- Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau
menunaikannya dengan cara yang tidak benar.
Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat
riya’ dan sum’ah.
- Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah
berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)
dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan)
wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita
(yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)
- Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang
sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ُّبَحَأ ِدالِبْلا ىَلِإ ِهللا
ْمُهُدِجاَسَم َضَغْبَأَو ِدالِبْلا
ىَلِإ ِهللا ْمُهُقاَوْسَأ
“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-
masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah
adalah pasar-pasarnya.”1
- Mendidik anak dengan pendidikan barat atau
menyerahkan pendidikan anak kepada para
pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
- Meniru wanita-wanita kafir. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
ْنَم َهَّبَشَت ٍمْوَقِب َوُهَف ْمُهْنِم
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia
termasuk golongan mereka.”2
- Menyaksikan film-film porno dan
mendengarkan nyanyian.
- Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
- Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke
dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
- Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.3
- Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ُءْرَمْلا ىَلَع ِنْيِد ِهِلْيِلَخ
“Seseorang itu menurut agama temannya.”4
- Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur
(membuka wajah)
Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan
memahami suami
Hendaknya seorang istri berupaya memahami
suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka
ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang
dibenci suami maka ia berupaya untuk
menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam
perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini
dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana
yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama
dua puluh tahun hidup bersama belum pernah
aku melihat dari istriku perkara yang dapat
membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran:
“Bagaimana hal itu bisa terjadi.”
Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku
masuk menemui istriku, aku mendekat padanya
dan aku hendak menggapainya dengan tanganku,
maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu
Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah
dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita
asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka
terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai
niscaya aku akan melakukannya dan apa yang
engkau tidak sukai niscaya aku akan
meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku
ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun
kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi
Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah
pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan:
‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan
shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya.
Sungguh engkau telah mengucapkan suatu
kalimat yang bila engkau tetap berpegang
padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu
dan jika engkau tinggalkan (tidak
melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk
menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan
aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari
kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau
lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata:
‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi
keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka
kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami
tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).
Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang
engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka
aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang
engkau tidak sukai maka akupun tidak
menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah
kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum
yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku
melewati malam yang paling indah bersamanya.
Dan aku hidup bersamanya selama setahun
dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali
apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan
tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku
dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu
mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana
pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah..
Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di
rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada
istri penentang (lancang). Maka didiklah dan
perbaikilah akhlaknya sesuai dengan
kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku
selama dua puluh tahun, belum pernah aku
mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali
sekali, itupun karena aku berbuat dhalim
padanya.”5
Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah,
aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada
istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya?
Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan
yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap
sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu
adalah keutamaan Allah yang diberikannya
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada
suami dan bergaul dengan baik
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ْوَل ُتْنُك اَرِمآ اًدَحَأ ْنَأ َدُجْسَي
ٍدَحَأل ُتْرَمَأل َةَأْرَمْلا ْنَأ
َدُجْسَت اَهِجْوَزِل
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang
untuk sujud kepada orang lain niscaya aku
perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”6
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam
perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan
baik dalam bergaul dengannya serta tidak
mendurhakainya. Bersabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam:
ِناَنْثِإ ال ُزِواَجُت اَمُهُتالَص
اَمُهُسْوُؤُر: ٌدْبَع قَبآ ْنِم
ِهْيِلاَوَم ىَّتَح َعِجْرَي ٌةَأَرْماَو
ْتَصَع اَهَجْوَز ىَّتَح َعِجْرَت
“Dua golongan yang shalatnya tidak akan
melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari
tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka
kepada suaminya hingga ia kembali.”7
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata
dalam memberi nasehat kepada para wanita:
“Wahai sekalian wanita, seandainya kalian
mengetahui hak suami-suami kalian atas diri
kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara
kalian yang mengusap debu dari kedua kaki
suaminya dengan pipinya.”8
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan
baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan
menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah.
Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita
bagaimanakah yang terbaik?” Beliau menjawab:
ىِتَّلَا ُهُّرِسَت اَذِإ َرَظَن،
ُهُعْيِطُتَو اَذِإ َرَمَأ، الَو
ُهُفِلاَخُت ْيِف اَهِسْفَن الَو اَهِلاَم
اَمِب ُهَرْكَي
“Yang menyenangkan suami ketika dipandang,
taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak
menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan
yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga
dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada
Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
ُةَأْرَمْلَا اَذِإ ْتَّلَص اَهَسْمَخ
ْتَماَصَو اَهَرْهَش ْتَنَصْحَأَو
اَهَجْرَف، ْتَعاَطَأَو اَهَجْوَز،
ُلُخْدَتْلَف ْنِم ِّيَأ ِباَوْبَأ
ِةَّنَجْلا ْتَءاَش
“Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa
pada bulan Ramadlan, menjaga kemaluannya dan
taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari
pintu mana saja yang ia inginkan.”9
Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa
cukup)
Kami menginginkan wanita muslimah ridla
dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik
itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia
menuntut di luar kesanggupan suaminya atau
meminta sesuatu yang tidak perlu. Dalam riwayat
disebutkan “Wanita yang paling besar
barakahnya.” Wahai siapa gerangan wanita itu?!
Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta
menuruti selera syahwatnya dan
mengenyangkan keinginannya? Ataukah dia yang
biasa mengenakan pakaian termahal walau
suaminya harus berhutang kepada teman-
temannya untuk membayar harganya?! Sekali-kali
tidak… demi Allah, namun (mereka adalah):
ُمَظْعَأ ِءاَسِّنلا ٌةَكَرَب،
َّنُهُّرَسْيَأ ًةَنْؤُم
“Wanita yang paling besar barakahnya adalah
yang paling ringan maharnya.”10
Renungkanlah wahai suadariku muslimah
adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah
seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar
rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa
wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami: “Hati-
hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan
yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa
lapar namun kami tidak bisa sabar dari api
neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa
yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika
hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini
dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu
jawabannya dari pada diriku.
Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan
rumah, seperti mendidik anak-anak dan
tidak menyerahkannya pada pembantu,
menjaga kebersihan rumah dan menatanya
dengan baik dan menyiapkan makan pada
waktunya. Termasuk pengaturan yang baik
adalah istri membelanjakan harta suaminya
pada tempatnya (dengan baik), maka ia
tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan
alat-alat kecantikan.
Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah
seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia
bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu
(mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut
merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari
rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang
sangat di gunung hingga hampir-hampir
tenggorokanku terbakar. Maka aku persiapkan
untuknya air yang dingin hingga ia dapat
meminumnya jika ia datang. Aku menata dan
merapikan barang-barangku (perabot rumah
tangga) dan aku persiapkan hidangan makan
untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya
dengan mengenakan pakaianku yang paling
bagus. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku
menyambutnya sebagaimana pengantin
menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam
keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia
ingin beristirahat maka aku membantunya dan
jika ia menginginkan diriku aku pun berada di
antara kedua tangannya seperti anak perempuan
kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”
Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan
keluarga suami dan kerabat-kerabatnya,
khususnya dengan ibu suami sebagai orang
yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu
untuk menampakkan kecintaan kepadanya,
bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat,
bersabar atas kekeliruannya dan engkau
melaksanakan semua perintahnya selama
tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang masuk
padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan
buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan
tidak adanya perhatian akan haknya. Ingatlah
wahai hamba Allah, sesungguhnya yang
bergadang dan memelihara pria yang sekarang
menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia
atas kesungguhannya dan hargailah apa yang
telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan
memeliharamu. Maka adakah balasan bagi
kebaikan selain kebaikan?
Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam
perasaannya dan turut merasakan duka cita
dan kesedihannya.
Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu
maka sertailah dia dalam duka cita dan
kesedihannya. Aku ingin mengingatkan engkau
dengan seorang wanita yang terus hidup dalam
hati suaminya sampaipun ia telah meninggal
dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak
dapat mengikis kecintaan sang suami padanya
dan panjangnya masa tidak dapat menghapus
kenangan bersamanya di hati suami. Bahkan ia
terus mengenangnya dan bertutur tentang
andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang
dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan
kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari
istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya.
Suatu hari istri yang lain itu (yakni Aisyah
radliallahu ‘anha) berkata:
اَم ُتْرِغ ىَلَع ٍةَأَرْما ؟ِّيِبَّنلِل
اَم ُتْرِغ ىَلَع َةَجْيِدَخ ْتَكَلَه
َلْبَق ْنَأ يِنَجَّوَزَتَي، اَّمَل
ُتْنُك ُهُعَمْسَأ اَهُرُكْذَي
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun
dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti
cemburuku pada Khadijah, padahal ia meninggal
sebelum beliau menikahiku, mana kala aku
mendengar beliau selalu menyebutnya.”11
Dalam riwayat lain:
اَم ُتْرِغ ىَلَع ٍدَحَأ ْنِم ِءاَسِن
ِّيِبَّنلا ىَّلَص ُهللا ِهْيَلَع
َمَّلَسَو اَم ُتْرِغ ىَلَع َةَجْيِدَخ
اَمَو اَهُتْيَأَر ْنِكَلَو َناَك
ُّيِبَّنلا ىَّلَص ُهللا ِهْيَلَع
َمَّلَسَو ُرِثْكُي اَهَرْكِذ
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorangpun
dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti
cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak
pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam banyak menyebutnya.”12
Suatu kali Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam setelah beliau menyebut Khadijah:
ُهَّنَأَك ْمَل ْنُكَي يِف اَيْنُّدلا
ٌةَأَرْما الِإ ُةَجْيِدَخ ُلوُقَيَف
اَهَل اَهَّنِإ ْتَناَك ْتَناَكَو
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain
Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada Aisyah:
‘Khadijah itu begini dan begini.’”13
Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini
dan begini” (dalam hadits diatas) adalah sabda
beliau:
يِبْتَنَمآ َنْيِح َرَفَك ُساَّنلا
يِنْتَقَّدَصَو يِنَبَّذَكْذِإ ُساَّنلا
يِنْتَساَوَر اَهِلاَمِب يِنَمَرَحْذِإ
ُساَّنلا يِنَقَزَرَو ُهللا اَهْنِم
دَلَولا
“Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur,
ia membenarkan aku ketika semua orang
mendustakanku, ia melapangkan aku dengan
hartanya ketika semua orang meng-haramkan
(menghalangi) aku dan Allah memberiku rezki
berupa anak darinya.”14
Dialah Khadijah yang seorangpun tak akan lupa
bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dan memberi dorongan kepada
beliau. Dan ia menyerahkan semua yang
dimilikinya di bawah pengaturan beliau dalam
rangka menyampaikan agama Allah kepada
seluruh alam.
Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang
masyhur yang menjadikan Nabi merasakan
tenang setelah terguncang dan merasa bahagia
setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali
yang pertama:
ُهللاَو ال َكْيِزْخُي ُهللا اًدَبَأ
َكَّنِإ ُلِصَتَل َمِحَّرلا ُلِمْحَتَو
َّلَكْلا ُبِسْكَتَو َمْوُدْعَمْلا
ُنْيِعُتَو ىَلَع ِبِئاَوَن ِّقَحْلا
“Demi Allah, Allah tidak akan
menghinakanmu selama-lamanya. Karena
sungguh engkau menyambung silaturahmi,
menanggung orang lemah, menutup
kebutuhan orang yang tidak punya dan
engkau menolong setiap upaya
menegakkan kebenaran.”15
Jadilah engkau wahai saudari muslimah seperi
Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai
kita semua.
Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima
kasih) kepada suami atas kebaikannya dan
tidak melupakan keutamaanya.
Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada
manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada
Allah. Maka janganlah meniru wanita yang jika
suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang
masa (tahun), kemudian ia melihat sedikit
kesalahan dari suaminya, ia berkata: “Aku sama
sekali tidak melihat kebaikan darimu…” Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
اَي َرَشْعَم ِءاَسِّنلا َنْقَّدَصَت
يِّنِإَف َّنُكُتْيَأَر َرَثْكَأ ِلْهَا
ِراَّنلا َنْلُقَف اَي َلوُسَر ِهللا
ْمَلَو َكِلَذ َلاَق َنْرِثْكُت َنْعَّللا
َنْرُفْكَتَو َرْيِشَعْلا
“Wahai sekalian wanita bersedekahlah karena aku
melihat mayoritas penduduk nereka adalah
kalian.” Maka mereka (para wanita) berkata: “Ya
Rasulullah kepada demikian?” Beliau menjawab:
“Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri
kebaikan suami.”16
Mengkufuri kebikan suami adalah menentang
keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.
Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada
suami dapat engkau tunjukkan dengan
senyuman manis di wajahmu yang
menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa
ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam
pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan
kata-kata cinta yang memikat yang dapat
menyegarkan kembali cintamu dalam hatinya.
Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya
dalam menunaikan hakmu. Namun di mana
bandingan kesalahan itu dengan lautan
keutamaan dan kebaikannya padamu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ال ُرُظْنَي َهللا ىَلِإ ٍةَأَرْما ال
ُرُكْشَت اَهَجْوَز َيِهَو ال
َيِنْغَتْسَت ُهْنَع
“Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak
tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak
merasa cukup darinya.”17
Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia
suami dan menutupi kekurangannya (aibnya)
.
Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang
paling dekat dengannya serta paling tahu
kekhususannya (yang paling pribadi dari diri
suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan
sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapa pun
maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.
Sesungguhnya majelis sebagian wanita tidak
luput dari membuka dan menyebarkan aib-aib
suami atau sebagian rahasianya. Ini merupakan
bahaya besar dan dosa yang besar. Karena itulah
ketika salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam menyebarkan satu rahasia beliau,
datang hukuman keras, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersumpah untuk tidak
mendekati isti tersebut selama satu bulan penuh.
Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya
berkenaan dengan peristiwa tersebut.
ْذِإَو َّرَسَأ ُّيِبَّنلا ىَلِإ ِضْعَب
ِهِجاَوْزَأ اًثيِدَح اَّمَلَف ْتَأَّبَن
ِهِب ُهَرَهْظَأَو ُهللا ِهْيَلَع َفَّرَع
ُهَضْعَب َضَرْعَأَو ْنَع ٍضْعَب
“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara
rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya
suatu peristiwa. Maka tatkala si istri menceritakan
peristiwa itu (kepada yang lain), dan Allah
memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu
Muhammad memberitahukan sebagian (yang
diberitakan Allah kepada beliau) dan
menyembunyikan sebagian yang lain.” (At
Tahriim: 3)
Suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam
mengunjungi putranya Ismail, namun beliau tidak
mejumpainya. Maka beliau tanyakan kepada istri
putranya, wanita itu menjawab: “Dia keluar
mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrahim
bertanya lagi tentang kehidupan dan keadaan
mereka. Wanita itu menjawab dengan mengeluh
kepada Ibrahim: “Kami adalah manusia, kami
dalam kesempitan dan kesulitan.” Ibrahim ‘Alaihis
Salam berkata: “Jika datang suamimu,
sampaikanlah salamku padanya dan katakanlah
kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.”
Maka ketika Ismail datang, istrinya menceritakan
apa yang terjadi. Mendengar hal itu, Ismail
berkata: “Itu ayahku, dan ia memerintahkan aku
untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada
keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.
(Riwayat Bukhari)
Ibrahim ‘Alaihis Salam memandang bahwa
wanita yang membuka rahasia suaminya dan
mengeluhkan suaminya dengan kesialan, tidak
pantas untuk menjadi istri Nabi maka beliau
memerintahkan putranya untuk menceraikan
istrinya.
Oleh karena itu, wahai saudariku muslimah,
simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah
aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali
karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan
perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli
fatwa) atau orang yang engkau harapkan
nasehatnya. Sebagimana yang dilakukan Hindun
radliallahu ‘anha di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Hindun berkata: “Abu Sufyan adalah
pria yang kikir, ia tidak memberiku apa yang
mencukupiku dan anak-anakku. Apakah boleh
aku mengambil dari hartanya tanpa izinnya?!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ambillah yang mencukupimu dan anakmu
dengan cara yang ma`ruf.”
Cukup bagimu wahai saudariku muslimah sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
َّنِإ ْنِم ِرَش ِساَّنلا َدْنِع ِهللا
ًةَلِزْنَم َمْوَي ِةَماَيِقْلا
َلُجَّرلا يِضْفُي ىَلِإ ِهِتَأَرْما
يِضْفُتَو ِهْيَلِإ َّمُث ُرُشْنَي
اَمُهُدَحَأ ُّرِس ُهَبِحاَص
“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek
kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah
adalah pria yang bersetubuh dengan istrinya dan
istri yang bersetubuh dengan suaminya,
kemudian salah seorang dari keduanya
menyebarkan rahasia pasanannya.”18
Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan
serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
- Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri
menceritakan dan menggambarkan kecantikan
sebagian wanita yang dikenalnya kepada
suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam telah melarang yang demikian itu
dengan sabdanya:
ال ُرِشاَبُت ُةَأْرَم َةَأْرَمْلا
اَهَتَعْنَتَف اَهِجْوَزِل ُهَّنَأَك
ُرُظْنَي اَهْيَلِإ
“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita
lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada
suaminya sehingga seakan-akan suaminya
melihatnya.”19
Tahukah engkau mengapa hal itu dilarang?!
- Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan
sebagian besar istri ketika suaminya baru kembali
dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan
enak, ia sudah mengingatkannya tentang
kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan
dan uang jajan anak-anak. Dan biasanya suami
tidak menolak pembicaraan seperti ini, akan tetapi
seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang
tepat untuk menyampaikannya.
- Termasuk kesalahan adalah memakai pakaian
yang paling bagus dan berhias dengan hiasan
yang paling bagus ketika keluar rumah. Adapun
di hadapan suami, tidak ada kecantikan dan tidak
ada perhiasan.
Dan masih banyak lagi kesalahan lain yang
menjadi batu sandungan (penghalang) bagi
suami untuk menikmati kesenangan dengan
istrinya. Istri yang cerdas adalah yang menjauhi
semua kesalahan itu.
Footnote:
1Riwayat Muslim dalam Al-Masajid: (bab Fadlul
Julus fil Mushallahu ba’dash Shubhi wa Fadlul
Masajid)
2Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud,
dishahihkan oleh Al Albany, lihat “Irwaul Ghalil“,
no. 1269 dan “Shahihul Jami’” no. 6149
3Lihat kitab “Kaif Taksabina Zaujak?!” oleh
Syaikh Ibrahim bin Shaleh Al Mahmud, hal. 13
4Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits
hasan gharib. Berkata Al Albany: “Hadits ini
sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi.” Lihat
takhrij “Misykatul Masabih” no. 5019
5Al Masyakil Az Zaujiyyah wa Hululuha fi
Dlaw`il Kitab wa Sunnah wal Ma’ariful
Haditsiyah oleh Muhammad Utsman Al Khasyat,
hal. 28-29
6Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al
Albany, lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no.
5294
7Riwayat Thabrani dan Hakim dalam
“Mustadrak“nya, dishahihkan Al Albany
hafidhahullah sebagaimana dalam “Silsilah Al
Ahadits Ash Shahihah” no. 288
8Lihat kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal.
173, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah
9Riwayat Ibnu Nuaim dalam “Al Hilyah“. Berkata
Syaikh Al Albany: “Hadits ini memiliki penguat
yang menaikkannya ke derajat hasan atau
shahih.” Lihat “Misykatul Mashabih” no. 3254
10Hadits lemah, diriwayatkan Hakim dan
dishahihkannya dan disepakati Dzahabi. Namun
Al Albany mengisyaratkan kelemahan hadits ini.
Illatnya pada Ibnu Sukhairah dan pembicaraaan
tentangnya disebutkan secara panjang lebar pada
tempatnya, lihatlah dalam “Silsilah Al Ahadits
Ad Dlaifah” no. 1117
11Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
12Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
13Semuanya dari riwayat Bukhari dalam
shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab
Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
14Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 6/118
no. 24908. Aku katakan: Al Hafidh Ibnu Hajar
membawakan riwayat ini dalam “Fathul Bari“, ia
berkata: “Dalam riwayat Ahmad dari hadits
Masruq dari Aisyah.” Dan ia menyebutkannya,
kemudian mendiamkannya. Di tempat lain (juz
7/138), ia berkata: “Diriwayatkan Ahmad dan
Thabrani.” Kemudian membawakan hadits
tersebut. Berkata Syaikh kami Abdullah Al Hakami
hafidhahullah: “Mungkin sebab diamnya Al Hafidh
rahimahullah karena dalam sanadnya ada rawi
yang bernama Mujalid bin Said Al Hamdani.
Dalam “At Taqrib” hal. 520, Al Hafidh berkata: “Ia
tidak kuat dan berubah hapalannya pada akhir
umurnya.” Al Haitsami bersikap tasahul
(bermudah-mudah) dalam menghasankan hadits
ini, beliau berkata dalam Al Majma’ (9/224):
“Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya hasan.”
15Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam
“Kitab Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul
Iman”
16Diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Al Haidl“,
(bab Tarkul Haidl Ash Shaum) dan diriwayatkan
Muslim dalam “Kitabul Iman” (bab Nuqshanul
Iman binuqshanith Thaat)
17Diriwayatkan Nasa’i dalam “Isyratun Nisa’”
dengan isnad yang shahih.
18Diriwayatkan Muslim dalam “An Nikah” (bab
Tahrim Ifsya’i Sirril Mar’ah).
19Diriwayatkan Bukhari dalam “An Nikah” (bab
Laa Tubasyir Al Mar’atul Mar’ah). Berkata sebagian
ulama: “Hikmah dari larangan itu adalah
kekhawatiran kagumnya orang yang diceritakan
terhadap wanita yang sedang digambarkan,
maka hatinya tergantung dengannya
(menerawang membayangkannya) sehingga ia
jatuh kedalam fitnah. Terkadang yang
menceritakan itu adalah istrinya -sebagaimana
dalam hadits dia atas- maka bisa jadi hal itu
mengantarkan pada perceraiannya. Menceritakan
kebagusan wanita lain kepada suami
mengandung kerusakan-kerusakan yang tidak
terpuji akibatnya.
Sumber: ةرسألا الب لكاشم karya Mazin bin
Abdul Karim Al Farih. Edisi Indonesia: Rumah
Tangga Tanpa Problema; bab Sepuluh
Wasiat untuk Istri yang Mendambakan
“Keluarga Bahagia tanpa Problema“, hal.
59-82. Penerjemah: Ummu Ishâq Zulfâ bintu
Husein. Editor: Abû ‘Umar ‘Ubadah. Penerbit:
Pustaka Al-Haura’, cet. ke-2, Jumadits Tsani
1424H. Dinukil untuk http://akhwat.web.id.
Subscribe to:
Comments (Atom)