Monday, December 20, 2010

Pahala Berhias bagi Wanita Sholehah

Pahala Bersolek Bagi Istri Shalihah
Barangkali para istri muslimah terpesona
dengan tema ini, sebab ini bukan perkara yang
aneh. Mereka semua pasti setuju. Ya, memang
benar bahwa bersoleknya seorang istri untuk
suaminya adalah merupakan proses ibadah yang
bernilai pahala. Istri yang muslimah diseru untuk
selalu memperhatikan kecantikan, keindahan, dan
kemolekannya, meski usia pernikahannya telah
melewati puluhan tahun lamanya.
Ini mengingat, meskipun suaminya sudah tua,
dia tetap akan merasakan kedamaian dari kata-
kata manis sang istri. Dia senantiasa menikmati
pemandangan indah istrinya. Dengan demikian,
minimal sang istri bisa menjaga suaminya, untuk
tidak melirik wanita lain.
Sebagian muslimah yang sudah beristri
terkadang menganggap bahwa berdandan
merupakan hak para model, artis, penyiar televisi,
dan wanita-wanita yang tidak agamis lainnya.
Pandangan tersebut jelas sangat keliru dan
tertolak kebenarannya. Sebab, bersolek dan
berdandan merupakan faktor terpenting untuk
memantapkan cinta dan menaklukkan hati suami.
Selain itu, berdandan juga bisa diakses untuk
merekonstruksi kokohnya bangunan rumah
tangga suami-istri.
Dalam bukunya Az-Zaujah Al-Mubdi’ah wa Asrar
Al-Jamal, Shabah Sa’id menegaskan, di antara
kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh
para istri adalah mengabaikan aktivitas berdandan
dan berhias, serta tidak menampakkan sisi
femininnya kepada suaminya. Penampilan apa
adanya sang istri di hadapan suaminya, atau
bahkan mengabaikan penampilan dirinya,
merupakan faktor potensial yang dapat merusak
kehidupan rumah tangga.
…di antara kesalahan-kesalahan fatal yang
dilakukan oleh para istri adalah
mengabaikan aktivitas berdandan dan
berhias, serta tidak menampakkan sisi
femininnya kepada suaminya …
Shabah Sa’id melanjutkan, yang lebih
menakjubkan lagi tentunya jika kita melihat
sebagian muslimah mengabaikan atau
menganggap remeh dandanan mereka di
hadapan suaminya. Sangat ironis jika kita
menyaksikan para muslimah tampil seadanya di
hadapan suami mereka, dan aroma dapur atau
bau masakan tercium dari mulut dan badan
mereka, namun di luar rumah kita bisa mencium
aroma wangi semerbak dari mulut dan pakaian
mereka.
Islam benar-benar mendorong kaum muslimah
agar merawat kecantikan dan kelembutannya.
Rasulullah SAW bersabda kepada Umar, “Maukah
kuberitahukan sebaik-baik simpanan seseorang?
Dia adalah wanita shalihah, yaitu jika suami
memandangnya, dia menyenangkannya.”
Dari hadits Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah
bersabda ”Sebaik-baik istri ialah istri yang
menyenangkan kamu bila engkau memandang
(nya), dan taat kepadamu bila engkau menyuruh
(nya), serta menjaga dirinya dan harta bendamu
di waktu engkau tidak berada bersamanya.”
Oleh karena itu, berdandan untuk suami
merupakan bagian dari ibadah. Sehingga istri
kelak akan mendapatkan balasan dan pahala dari
Allah di akhirat kelak. Selain itu, dia akan
mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam
hidupnya bersama suaminya.
…Istri wajib tampil cantik dan semenarik
mungkin di depan suami. Dan semua itu
akan melahirkan pahala yang besar dari
Allah …
Betapa tidak, barangsiapa yang menemui istrinya,
lalu dia mendapati istrinya dalam keadaan cantik
dan menarik, itu berarti sang istri telah
menyenangkan suaminya. Pun demikian, dia
harus bisa menarik hati suami dengan segenap
kecantikan dan sikap manjanya.
Berhias atau berdandan adalah sifat fitrah seorang
wanita, di mana secara naluri para wanita
umumnya punya kecenderungan untuk tampil
cantik dan menarik. Ini barangkali berhubungan
dengan jiwa wanita yang suka pada keindahan
dan kebersihan ketimbang laki-laki. Naluri ini
adalah karunia Allah yang harus disyukuri.
Dalam pelaksanaannya, naluri untuk tampil cantik
dan berhias ini telah Allah berikan petunjuk-Nya,
sehingga tidak salah jalan yang hanya akan
mengakibatkan kerugian dan kerusakan bagi
pelakunya.
Ini mirip dengan naluri untuk makan yang
merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun
naluri itu perlu dibuatkan koridornya agar tidak
mencelakakan diri sendiri. Misalnya Allah
melarang untuk memakan makanan yang
merusak diri sendiri dan juga yang
menghilangkan akal pikiran. Semua itu
diberlakukan agar nikmat ini terjaga dan
berfaedah, bukan merusak dan menghancurkan
sang hamba.
Dalam persoalan berhias, maka batasan yang
Allah tetapkan adalah:
1. Kepada suami
Istri wajib tampil cantik dan semenarik mungkin
di depan suami. Dan semua itu akan melahirkan
pahala yang besar dari Allah.
2. Kepada laki-laki yang mahram dan
sesama wanita muslimah
Seorang wanita boleh menampakkan sebagian
tubuhhya seperti kepala, leher, tangan, kaki dan
bagian lain yang memang dibolehkan secara
syar‘i di depan keluarganya yang masih mahram.
Namun tidak boleh menampakkan bagian seperti
aurat-aurat ‘besar’ dan lainnya. Berdandan di
depan mereka pun tidak menjadi masalah asal
masih dalam batas yang wajar dan tidak vulgar.
…Selain itu, Islam menentang sikap
berlebih-lebihan dalam berhias sampai
pada tahapan menjurus pengubahan
ciptaan Allah …
3. Tidak berdandan untuk laki-laki non-
mahram dan wanita kafir
Keduanya punya kedudukan yang sama yaitu
diharamkan menampakkan bagian tubuh dan
berhias di depan mereka. Apalagi melenggak-
lenggokkan tubuh untuk menarik syahwat laki-laki
asing atau non-mahram.
Selain itu, Islam menentang sikap berlebih-lebihan
dalam berhias sampai pada tahapan menjurus
pengubahan ciptaan Allah yang oleh Al-Qur‘an
dinilai bahwa mengubah ciptaan Allah adalah
ajakan setan kepada pengikut-pengikutnya.
Pasalnya, setan akan berkata, “Sungguh akan
kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka
mau mengubah ciptaan Allah.” (An-Nisa’ 119)
Berdandan tidak harus dengan memakai make up
dan perhiasan yang mahal. Rajin membersihkan
diri dengan mandi, bersiwak, memakai parfum
dan berpakaian rapi dan serasi, sudah termasuk
bagian dari berdandan.
…Dandanan yang memikat dan aroma
parfum yang harum akan menjaga dan
memagari suami dari maksiat …
Demikian pula menyisir rambut, mencabuti bulu
ketiak dan memotong rambut kemaluan, juga
termasuk berdandan. Jika suka dan memang
punya, bolehlah memoleskan sedikit bedak ke
wajah, dan lipstik tipis di bibirmu. Itu akan
menambah cantik penampilan. Kalau ada, tak ada
salahnya pula memakai perhiasan, atau
berpakaian menarik di hadapan suami. Tentu,
semua itu harus diikuti dengan keindahan
akhlakmu.
Berpakaian model apapun yang diinginkan dan
disenangi suami, maka itu dibolehkan dalam
syariat Islam, karena tidak ada batasan aurat
antara istri dan suaminya. Dandanan yang
memikat dan aroma parfum yang harum akan
menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata
suami akan tertutup dari melihat pemandangan
haram di luar rumah, bila mata itu dipuaskan oleh
istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat
memuaskan atau menyenangkan suami sehingga
suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan
(tertarik melihat pemandangan haram di luar
rumah) maka berarti si istri turut berperan
membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.
…Mata suami akan tertutup dari melihat
pemandangan haram di luar rumah, bila
mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam
rumah …
Benar, bahwa dunia ini hanya sekedar jembatan,
dan tujuan hidup seorang mukmin tidak hanya
untuk melahap kenikmatan. tetapi menikmati
yang mubah juga dianjurkan, sebagaimana
melakukan yang haram juga dilarang. Maka telah
disebutkan di dalam hadits, bahwa Nabi
Muhammad bersabda, “Di dalam diri di antara
kalian terdapat sedekah.” (HR. Muslim).
Maka ‘bersedekahlah’ kepada para suami dengan
berdandan semenarik mungkin, demi keridhaan
Allah dan pahala-Nya. [ganna pryadha/berbagai
sumber/voa-islam.com]

No comments:

Post a Comment