Saturday, January 8, 2011

WANITA YANG ADUANNYA DIDENGAR ALLAH DARI LANGIT KE 7

Wanita yang Aduannya Didengar
Allah dari Langit Ketujuh
Penyusun: Ummu Sufyan
Beliau adalah Khaulah binti
Tsa ’labah bin Ashram bin Fahar
bin Tsa’labah Ghanam bin Auf.
Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, yaitu Aus
bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk
sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk
perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama
Rabi ’.
Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya
sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut
kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah,
sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau
ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan
duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama
kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah.
Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah
membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap
kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah islam
(yaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang
jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh
menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang
telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-
Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa
kita. ”
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang
peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah
berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat
melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu
Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit
sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan.
Beliau berdo ’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu
tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-
hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan sebagaimana biasanya
beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda,
“Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-
Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau
membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah
telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan
gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan
(halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab
antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat …..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-
orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu
memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan
budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika
masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan
sebanyak enam puluh orang miskin.
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita
yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khaththab saat
berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat
kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi
Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya
kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan
menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia
kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka saya
akan mengerjakan shalat kemudian kembali untuk
mendengarkannya hingga selesai keperluannya. ”
Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk
meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak
ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta ’ala. Beliau
berdo’a tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh
dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang
mendalam. Sehingga do ’anya didengar Allah dari langit
ketujuh.
Allah berfirman yang artinya, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya
akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo ’a) kepada–
Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina. ” (QS. Al-Mu’min: 60)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi
Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu
terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua
tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya
dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan). ” (HR. Abu Dawud,
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hikmah
Tidak setiap do’a langsung dikabulkan oleh Allah. Ada faktor-
faktor yang menyebabkan do’a dikabulkan serta adab-adab
dalam berdo’a, diantaranya:
1. Ikhlash karena Allah semata adalah syarat yang
paling utama dan pertama, sebagaimana firman
Allah yang artinya, “Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-
orang kafir tidak menyukai(nya). ” (QS. Al-Mu’min:
14)
2. Mengawali do’a dengan pujian dan sanjungan
kepada Allah, diikuti dengan bacaan shalawat atas
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diakhiri
dengan shalawat lalu tahmid.
3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a
serta yakin akan dikabulkan. Sebagaimana yang
dilakukan oleh Khaulah binti Tsa ’labah radhiyallahu
‘anha.
4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam
berdo ’a, tidak terburu-buru serta khusyu’ dalam
berdo’a.
5. Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali
hanya kepada Allah semata.
6. Serta hal-hal lain yang sesuai tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain hal-hal di atas, agar do’a kita terkabul maka hendaknya
kita perhatikan waktu, keadaan, dan tempat ketika kita
berdo ’a. Disyari’atkan untuk berdo’a pada waktu, keadaan
dan tempat yang mustajab untuk berdo’a. Ketiga hal
tersebut merupakan faktor yang penting bagi terkabulnya
do ’a. Diantara waktu-waktu yang mustajab tersebut adalah:
1. Malam Lailatul qadar.
2. Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga
malam yang akhir.
3. Akhir setiap shalat wajib sebelum salam.
4. Waktu di antara adzan dan iqomah.
5. Pada saat turun hujan.
6. Serta waktu, keadaan, dan tempat lainnya yang
telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Semoga Allah memberikan kita taufiq agar kita semakin
bersemangat dan memperbanyak do ’a kepada Allah atas
segala hajat dan masalah kita. Saudariku, jangan sekali pun
kita berdo ’a kepada selain-Nya karena tiada Dzat yang berhak
untuk diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
janganlah kita berputus asa ketika do’a kita belum dikabulkan
oleh Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
1. Wanita-wanita Teladan di Masa Rasulullah (Pustaka
At-Tibyan)
2. Do’a dan Wirid (Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
– Pustaka Imam Syafi’i)
***
Artikel www.muslimah.or.id

No comments:

Post a Comment