Surat Cinta untuk Saudariku (1)
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan
Khadafi
Tulisan ini bermula dari rasa
gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai
bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat,
sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita
tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen
sama rok…”
Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu
kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan
kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan
terus memperbaiki diri.
Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita
bersaudara di atas ikatan iman.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling
menyayangi di atas ikatan tersebut.
Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.
Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu
sama lainnya.
Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal
untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan
orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar
ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat
yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar
dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang
taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang
enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta ’ala telah
mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh
mereka dengan jilbab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab
ayat 59 yang artinya,
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. ”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya,
“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang
berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala
mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena
sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk. ”
Di dalam hadis lain terdapat tambahan:
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan
memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat
dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan
sekian. ” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-
Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad
shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh
muslim dari riwayat Abu Hurairah)
Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita
keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa
diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba
pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*
Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“ cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar
rumah dan berhadapan dengan orang-orang?
Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita
yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan
beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk
menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.
Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah
yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa
yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan
merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih
mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada
Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?
Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa
yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung
hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok
parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa
yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh
badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan
kebolehan tubuh dan kecantikan.
Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang
tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah
mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal
pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun
mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi
dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.
Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita
memilih untuk diri kita sendiri.
Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya
lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.
Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan
kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan
menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda
tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?
Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti
membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa
dinikmati sembarang orang.
Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab
untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan
keluar dari ketaatan?
-bersambung insya Allah-
***
Artikel www.muslimah.or.id
No comments:
Post a Comment