Tuesday, January 4, 2011

Istri Umar bin Khatab Cerewet?

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit
menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber
Umar bin Khatab pun sama.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju
kediaman khalifah Umar
bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak
tahan dengan
kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan
rumah khalifah, laki-laki
itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri
Umar sedang ngomel,
marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang
akan diadukannya pada Umar.
Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari
mulut khalifah. Umar
diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang
gundah. Akhirnya lelaki
itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan
istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab
yang disegani kawan maupun
lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel?
Mengapa ia hanya
mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu
tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya
berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?
1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa
menundukkan pandangannya, niscaya panah-
panah setan berlesatan dari matanya, membidik
tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang
tertancap membuat darah mendesir, bergolak,
membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang
raksasa dapat melakukan apapun demi
terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri
yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi
laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di
kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan
berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang
kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua
kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar
terpikat pada liukan penari yang datang dari
kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada
penyelamat yang melindunginya dari liukan indah
namun membakar. Bukankah sang istri dapat
menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih
indah malah. Membawanya ke langit biru.
Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih
dari itu istri yang salihah selalu menjadi
penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh.
Terkadang sampai mejelang malam.
Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia
pengumpul dan terkadang tak begitu peduli
dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan
uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang
selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh
dengan keringat, air mata, bahkan darah tak
menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi
pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika
suami menggaji seseorang untuk menjaga
hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih
sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang
sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit
menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten
daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu.
Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan
istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-
harta sang suami yang semakin hari semakin
membebani.
3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan.
Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh
tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan
dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah
suami punya penata busana yang setiap pagi
menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang
pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu
luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang
tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri.
Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas
kecakapannya itu.
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih
tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah
payah merawat benih hingga lahir tunas yang
menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ.
Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar.
Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan
pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang
disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu
suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang
membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas
beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan
tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan.
Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh
asupan untuk mengembalikan energi. Di meja
makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam
panggang kecap, sayur asam, sambal terasi
danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam
melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat,
menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu
suami memotong sayuran, mengulek bumbu,
dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing
ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa
pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan.
Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan;
menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak.
Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik
untuk suami. Mencatat dalam memori makanan
apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap
diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek,
mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah
tangga di pundaknya. Istri telah berusaha
membentenginya dari api neraka, memelihara
hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh
anak-anak, menyediakan hidangan untuknya.
Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak
mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah
lelah.
Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri
untuk menutupi segala cela dan kekurangannya.
Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya,
barulah ia menasehati, dengan cara yang baik,
dengan bercanda. Hingga tak terhindar
pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.
Akankah suami-suami masa kini dapat
mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya
berhasil memimpin negara tapi juga menjadi
imam idaman bagi keluarganya
**** Diolah dari Cahaya Iman

No comments:

Post a Comment