Thursday, December 23, 2010

‘Iffah Sebuah Kehormatan Diri

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras
banyak memunculkan perilaku umat yang
melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka
meminta-minta sudah bisa menyebabkan
kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih
berat dari sekedar meminta-minta –seperti
korupsi, mencuri, merampok, dsb.– lebih
menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan
tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk
maraknya perilaku kaum wanita, hanya demi
menginginkan enaknya hidup, mereka rela
melakukan perbuatan yang menghilangkan
kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah
menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga
kemuliaan diri mereka.
‘Iffah, sebuah kata yang pernah atau biasa kita
dengar. Si Fulan ‘afif atau si Fulanah ‘afifah
merupakan sebutan bagi lelaki dan wanita yang
memiliki ‘iffah. Lalu, apa sebenarnya yang
dimaksud dengan ‘iffah itu?
Secara bahasa, ‘iffah adalah menahan. Adapun
secara istilah; menahan diri sepenuhnya dari
perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan
demikian, seorang yang ‘afif adalah orang yang
bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan
walaupun jiwanya cenderung kepada perkara
tersebut dan menginginkannya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
وَلْيَسْتَعْفِفِ
الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ
نِكَاحًا حَتَّى
يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ
فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang belum mampu untuk
menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya
sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan
karunia-Nya. ” (An-Nur: 33)
Termasuk dalam makna ‘iffah adalah menahan
diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ
أَغْنِيَاءَ مِنَ
التَّعَفُّفِ
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka
(orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang
berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan
diri dari meminta-minta kepada manusia).” (Al-
Baqarah: 273)
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu
mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan
Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang
pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan beliau
berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
bersabda kepada mereka ketika itu:
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ
خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ
عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ
يَسْتَعِفّ يُعِفّه
اللهُ، وَمَنْ
يَتَصَبَّرُ
يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ
يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ
اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا
عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ
مِنَ الصَّبْرِ
“Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak
ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya
siapa yang menahan diri dari meminta-minta
maka Allah akan memelihara dan menjaganya,
dan siapa yang menyabarkan dirinya dari
meminta-minta maka Allah akan menjadikannya
sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan
Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah
akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah
kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan
lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari
no. 6470 dan Muslim no. 1053 )1
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan:
“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf
(menahan diri dari meminta-minta), qana’ah
(merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan
hidup dan selainnya dari kesulitan (perkara yang
tidak disukai) di dunia.” (Syarah Shahih Muslim,
7/145)
Menjadi wanita yang ‘afifah
Bila seorang muslim dituntut untuk memiliki ‘iffah
maka demikian pula seorang muslimah.
Hendaknya ia memiliki ‘iffah sehingga ia menjadi
seorang wanita yang ‘afifah, karena akhlak yang
satu ini merupakan akhlak yang tinggi, mulia dan
dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan
akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah
yang shalih, yang senantiasa menghadirkan
keagungan Allah dan takut akan murka dan azab-
Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang-orang yang
selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.
Berkaitan dengan ‘iffah ini, maka ada beberapa hal
yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh
seorang muslimah untuk menjaga kehormatan
diri, di antaranya:
Pertama: Menundukkan pandangan mata
(ghadhul bashar) dan menjaga kemaluannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقٌلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ
يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ
وَيَحْفَظْنَ
فُرُوْجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah:
Hendaklah mereka menundukkan pandangan
mata mereka dan menjaga kemaluan
mereka…” (An-Nur: 31)
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi
rahimahullah berkata: “Allah Jalla wa ‘Ala
memerintahkan kaum mukminin dan mukminat
untuk menundukkan pandangan mata mereka
dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk
menjaga kemaluan adalah menjaganya dari
perbuatan zina, liwath (homoseksual) dan lesbian,
dan juga menjaganya dengan tidak
menampakkan dan menyingkapnya di hadapan
manusia.” (Adhwa-ul Bayan, 6/186)
Kedua: Tidak bepergian jauh (safar) sendirian
tanpa didampingi mahramnya yang akan
menjaga dan melindunginya dari gangguan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُسَافِر امرَأَةٌ إِلاَّ
مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang wanita safar kecuali
didampingi mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no.
1862 dan Muslim no. 1341)
Ketiga: Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang
bukan mahramnya. Karena bersentuhan dengan
lawan jenis akan membangkitkan gejolak di
dalam jiwa yang akan membuat hati itu condong
kepada perbuatan keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
rahimahullah berkata: “Secara mutlak tidak boleh
berjabat tangan dengan wanita yang bukan
mahram, sama saja apakah wanita itu masih
muda ataupun sudah tua. Dan sama saja apakah
lelaki yang berjabat tangan denganya itu masih
muda atau kakek tua. Karena berjabat tangan
seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua
pihak. ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata tentang
teladan kita (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam):
مَا مَسَتْ يَدُ رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ
امْرَأَةٍ إِلاَّ امْرَأَةً
يَمْلِكُهَا
“Tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali
tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak
beliau).” (HR. Al-Bukhari, no. 7214)
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang
dilakukan dengan memakai alas/ penghalang
(dengan memakai kaos tangan atau kain
misalnya) ataupun tanpa penghalang. Karena dalil
dalam masalah ini sifatnya umum dan semua ini
dalam rangka menutup jalan yang mengantarkan
kepada fitnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, 1/185)
Keempat: Tidak khalwat (berduaan) dengan lelaki
yang bukan mahram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah memperingatkan dalam titahnya
yang agung:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ
بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهَا
ذُوْ مَحْرَمٍ
“Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-
sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama
wanita itu ada mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no.
5233 dan Muslim no. 1341)
Kelima: Menjauh dari hal-hal yang dapat
mengundang fitnah seperti mendengarkan
musik, nyanyian, menonton film, gambar yang
mengumbar aurat dan semisalnya.
Seorang muslimah yang cerdas adalah yang bisa
memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu
perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh
orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan
meyimpangkannya. Sehingga ia akan
menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah
yang rusak dan tak berfaedah, dan ia tidak akan
membuang hartanya untuk merobek kehormatan
dirinya dan menghilangkan ‘iffah-nya. Karena
kehormatannya adalah sesuatu yang sangat
mahal dan ‘iffah-nya adalah sesuatu yang sangat
berharga.2
Memang usaha yang dilakukan untuk sebuah
‘iffah bukanlah usaha yang ringan. Butuh perlu
perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan
meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menyatakan:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا
فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ
لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh
untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut:
69)
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Catatan kaki:
1 Lihat: – Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Al-Imam Al-
Qurthubi, 3/221.
- Makarimul Akhlaq, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, hal. 149, 152.
- Fathul Bari, 11/309, 311
- Al- ’Iffah Madhahiruha wa Tsamaruha, hal. 4
2 Lihat: - Lin Nisa-i Faqath, Asy-Syaikh Abdullah
bin Jarullah Alu Jarillah, hal. 60-75.
- Al- ’Iffah, hal. 8-10
Sumber: http://www.asysyariah.com/

Tuesday, December 21, 2010

JIKA RASA CEMBURU TELAH HILANG...

Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para
wanita yang
bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan
tubuhnya
didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar
dan bekerja
diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama
lelaki
sebagaimana salah seorang mereka bekerja
bersama salah
seorang keluarganya yang mahram, mengendarai
mobil dan
bersafar bersamanya
Setiap insan pernah merasakan cemburu, namun
adakah rasa
cemburu tatkala melihat kemaksiatan ? Kini kita lihat
bagaimana
fenomena yang ada bila rasa cemburu telah hilang.
Betapa banyak orang yang mengaku dirinya
memiliki rasa
cemburu, namun justru menanggalkan pakaian
malu dengan
melakukan perbuatan-perbuatan haram atau
membiarkan
kemaksiatan. Padahal Rasulullah Shalallahu ’alaihi
Wassallam telah
mewasiatkan kepada umatnya agar memiliki akhlak
Al-Ghoiroh
(cemburu).
Beliau telah menerangkan kedudukan akhlak yang
utama ini dalam
sabdanya (yang artinya) :
“ Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala
cemburu dan
cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa
yang Allah
haramkan atasnya. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan
bahwa Allah
memiliki sifat cemburu bila dilanggar keharaman-
keharamannya
dan dilampaui batasan¬-batasannya, dan siapa yang
telah
melanggar apa yang Allah haramkan berarti telah
(berani)
melewati sebuah pagar yang besar.
Akhlak AI-Ghoiroh ini begitu menghujam dalam hati
para sahabat,
karena perhatian dan kesungguhan mereka dalam
mengikuti
wasiat Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassallam. Sa’ad
bin Ubadah
Radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama
istriku niscaya
aku akan memukulnya dengan pedang sebagai
sangsinya. Nabi
Shalallahu ’alaihi Wassallam bersabda, “Apakah
kalian takjub
dengan cemburunya Sa’ad, sesungguhnya aku lebih
cemburu
darinya dan Allah lebih cemburu dari padaku”. (HR.
Al Bukhari).
Akhlak ini juga berpengaruh dalam diri Aisyah
Radhiyallahu ‘anha
tatkala ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah
Shalallahu’alaihi
Wassallam bersabda :”Manusia akan dikumpulkan
pada hari
kiamat dalam keadaan tidak bersandal, telanjang dan
belum
berkhitan ”. Aku berkata, “Perempuan dan laki-laki
berkumpul,
(berarti) sebagian mereka akan melihat sebagian
yang lain ?!” Nabi
Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, “Wahai
Aisyah ! Urusan saat
itu lebih mengerikan dari pada mereka saling
melihat ”. (HR. Al
Bukhari).
Karena rasa cemburulah Aisyah Radhiyallahu ‘anha
belum berfikir
tentang ketakutan yang terjadi pada hari itu.
Demikian pula Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika diutus
kesuatu negeri
beliau berkata kepada penduduknya : “Aku telah
mendengar
bahwa wanita-wanita kalian akan mendekati orang-
orang kafir
azam di pasar-pasar, tidakkah kalian cemburu,
sesungguhnya
tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki
rasa cemburu.”
Begitulah Al-Ghoiroh yang besar dalam diri para
sahabat dan
akhlak ini akan tetap berpengaruh pada diri orang-
orang yang
berpegang teguh dengan atsar salaf dan mengikuti
jalan mereka.
Sebaliknya, al-ghoiroh hanya sekedar menjadi
pengakuan bagi
orang-orang yang ucapannya menyelisihi
perbuatannya. Mereka
mengaku memiliki rasa cemburu, namun
membiarkan istri dan
anak-anak perempuannya keluar rumah dengan
menampakkan
wajah, lengan, dada dan lekuk- lekuk tubuh,
kemudian menjadi
tontonan gratis para lelaki jalanan.
Suami yang demikian hendaknya memperhatikan
peringatan
Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassallam dalam
sabdanya :
“ Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan
Allah tidak akan
melihat mereka pada hari kiamat, orang yang
durhaka kepada
kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai
laki-laki, dan
dayyuts. ” (HR. Nasa’i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146,
Baihaqi 10 : 226
dan Ahmad 2 : 134).
Dayyuts ditafsirkan hadits-hadits lain, yaitu : Seorang
kepala
rumah tangga yang membiarkan kejelekan atau
kerusakan dalam
rumah tangganya. (Fathul Bari 10 : 401). Dayuts juga
ditafsirkan
oleh ulama : orang yang tidak cemburu terhadap
istrinya.
Karena tiadanya rasa cemburu, akhirnya nampaklah
perbuatan-
perbuatan yang mengotori rasa malu dan
melemahkan muru ’ah
(wibawa) sebagaimana perbuatan wanita-wanita
jahil zaman
sekarang.
Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para
wanita yang
bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan
tubuhnya
didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar
dan bekerja
diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama
lelaki
sebagaimana salah seorang mereka bekerja
bersama salah
seorang keluarganya yang mahram, mengendarai
mobil dan
bersafar bersamanya atau kita lihat juga perginya
seorang wanita
bersama sopir pribadi ke tempat-tempat seperti
pasar, sekolah
dan lain-lain, tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan
sopir tadi dengan
bebasnya keluar masuk rumah sebagaimana
mahramnya tanpa
wanita itu merasa berdosa dan malu pada sopirnya,
dengan dalih
ia hanya seorang sopir.
Betapa banyak terjadi kesalahan dan pelanggaran
kehormatan
dengan sebab mengikuti hawa nafsu dan
kebodohan. Kita lihat
pula perbuatan wanita yang membeli dan melihat
majalah-
majalah cabul dan film hina serta mendengarkan
musik dan lagu.
Atau perbuatan wanita yang menari dalam resepsi
pernikahan dan
berbagai pesta dengan diiringi hiruk-pikuknya suara
musik serta
mengenakan pakaian yang dapat membangkitkan
syahwat.
Lalu, apakah para wanita itu mengetahui apa makna
malu yang
sebenarnya?!!. Ataukah para wali-wali para wanita itu
menyangka
bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki
AI-Ghoiroh
(cemburu) ?!! Sungguh hal itu amat jauh
Oleh karena itu hendaklah kita kembali dan bertaubat
kepada Allah
aza wajalla dan menghisab atas apa yang telah kita
lakukan berupa
kebaikan dan keburukan.
(Disadur dari Kutaib wa Asafa Alal Ghoiroh oleh
Ummu Abdillah)
Buletin Da ’wah Al-Atsari, Cileungsi Edisi XII Syawal
1419/1999

Cambuk HATI

Oleh
Ustadz
abu
ammar
m.w
Urgensi
dan
Kedudukan
Hati
Bagi
Seorang
Muslim
Sesungguhnya
topik
yang
berkaitan
dengan
hati
merupakan
perkara
yang
sangat penting, dinamakan hati (al-qolbu) karena
proses perubahannya yang sedemikian cepat.
Rosululloh bersabda:
إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ
تَقَلُّبِهِ
“Dinamakan hati (al-qolbu) karena cepatnya
berubah.” (HR. Ahmad)
Di tempat yang lain Rosululloh bersabda:
مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ
بِأَرْضٍ فَلَاةٍ تَقْلِبُهَا الرِّيْحُ
ظَهْرَا لْبَاطِن.ِ
“Perumpamaan hati adalah seperti sebuah bulu di
tanah lapang yang diubah oleh hembusan angin
dalam keadaan terbalik.” (HR. Ibnu Abi Ashim)
Sungguhpun begitu, Alloh Maha Besar, Dia
mampu mengubah dan menguasai hati-hati
manusia sebagaimana sabda Rosululloh :
إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا
بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمٰنِ لِقَلْبٍ وَاحِدٍ يَصْرِفُهُ
حَيْثُ يَشَاءُ .
“Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada
di antara dua jari-jari Alloh layaknya satu
hati, Dia mengubah menurut kehendak-
Nya.” (HR. Muslim)
Kemudian Rosululloh melanjutkan sabda beliau:
اَللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ
صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ .
“Ya Alloh, Dzat yang membolak-balikkan hati,
condongkanlah hati kami untuk selalu taat
kepada-Mu.” (HR. Muslim)
Bahwa keselamatan dan kesengsaraan hamba,
keberhasilan atau kegagalannya bahkan
masuknya ke dalam surga atau neraka,
berhubungan erat dengan baik atau tidaknya hati,
sehat atau sakitnya hati, dalam hal ini Alloh
berfirman:
Sesungguhnya beruntunglah orang yang
menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya. (QS. asy-
Syams [91]: 9 –10)
Kemudian Rosululloh bersabda:
اَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا
صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ اَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ .
“Ketahuilah, sesungguhnya pada setiap jasad ada
sekerat daging, apabila dia baik maka baik seluruh
anggota jasad, apabila dia jelek maka jelek semua
anggota jasad, ketahuilah dialah hati.” (HR.
Bukhori)
Diagnosa Penyakit Hati
Berikut ini kita akan sebutkan beberapa perbuatan
yang bisa kita jadikan indikasi untuk mendiagnosa
terjadinya rusaknya hati atau penyakit-penyakit
hati:
1. Melakukan kedurhakaan dan dosa
Di antara manusia ada yang melakukan
kedurhakaan terus-menerus dalam satu jenis
perbuatan. Ada pula yang melakukan dalam
beberapa jenis bahkan semuanya dilakukan
dengan terang-terangan, padahal Rosululloh
bersabda:
كُلُّ أُمَّةٍ مُعَافَى إِلَّا
الْـمُجَاهِرِيْنَ.
“Setiap umatku akan terampuni kecuali mereka
yang melakukan kedurhakaan secara terang-
terangan.” (HR. Bukhori)
2. Merasakan adanya kekasaran dan kekakuan
hati, seakan-akan batu keras yang tidak bisa
dipengaruhi oleh sesuatu pun.
Alloh berfirman:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras
seperti batu, bahkan lebih keras lagi …. (QS. al-
Baqoroh [2]: 74)
3. Tidak tekun dalam beribadah, tidak
memperhatikan dengan seksama setiap ucapan
atau perbuatan yang dilakukannya dalam
beribadah baik dalam sholat, dalam berdo’a, dan
yang lainnya.
Rosululloh bersabda:
لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ
لَاهٍ .
“Tidaklah diterima do’a dari hati yang lalai dan
tidak ada kesungguhan.” (HR. Tirmidzi)
4. Malas dalam melaksanakan ketaatan dan
peribadahan, kalaupun beribadah maka dilakukan
hanya sekedar ibadah yang kosong dari makna
dan tidak ada ruh di dalamnya.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh:
… dan apabila berdiri untuk sholat mereka berdiri
dengan malas…. (QS. an-Nisa’ [4]: 142)
Masuk dalam kategori ini ialah perbuatan–
perbuatan yang tidak dilakukan dengan
mempedulikan nilai dari perbuatan tersebut atau
meremehkan waktu-waktu yang tepat untuk
melakukannya. Misalnya, melakukan sholat-sholat
di akhir waktu, atau menunda-nunda haji padahal
sudah ada padanya kemampuan untuk
melaksanakan.
5. Perasaan gelisah dan susah hanya karena
adanya masalah-masalah yang remeh yang
didapatinya
Rosululloh mendefinisikan keimanan adalah:
اَلْإِيْمَانُ: اَلصَّبْرُ
وَالسَّمَاحَةُ.
“Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan di
dada (tidak gampang gelisah).”
6. Tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat al-
Qur’an yang dibacanya, tidak pula oleh janji,
ancaman, perintah, larangan, dan lain-lain
7. Lalai dalam berdzikir dan tidak berdo’a kepada
Alloh.
Alloh berfirman (ketika menyifati orang-orang
munafik:
… dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali
sedikit sekali. (QS. an-Nisa’ [4]: 142)
8. Tidak ada perasaan marah jika ada pelanggaran
terhadap hal-hal yang diharamkan Alloh.
Bara ghiroh dalam hati telah padam, tidak
menyuruh kepada yang ma’ruf, tidak pula
mencegah dari yang mungkar. Pada puncaknya,
dia tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak
mengetahui yang mungkar. Segala urusan
dianggap sama.
9. Gila kehormatan dan publikasi/popularitas
Termasuk di dalamnya, gila terhadap kedudukan
ingin tampil sebagai pemimpin yang menonjol
dan tidak dibarengi dengan kemampuan yang
semestinya.
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى
الْإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً
يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
“Sesunguhnya kamu sekalian akan berhasrat
mendapatkan kepemiminan dan hal ini akan
menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR.
Bukhori)
10. Bakhil dan kikir terhadap harta yang
dimilikinya
Alloh memuji orang-orang Anshor dengan
firman-Nya:
… dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr [59]:
9)
Rosululloh bahkan bersabda :
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ الْإِيْمَانُ
فِيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا .
“Tidaklah berkumpul pada hati seorang hamba
selama-lamanya sifat kikir dan keimanan.” (HR.
Nasai)
11. Suka mengatakan apa yang tidak dilakukan
Padahal penyakit ini yang menjadikan binasanya
umat terdahulu. Alloh berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah
kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan. (QS. ash-Shof [61]: 2 –3)
12. Senang dan gembira di atas penderitaan
saudara-saudaranya sesama muslim yang
mengalami kegagalan, merugi, atau mendapatkan
musibah
13. Hanya pandai menilai kadar dosa yang
dilakukannya dan tidak kepada siapa dosa itu
dilakukan
14. Tidak peduli terhadap penderitaan kaum
muslimin
Padahal Rosululloh bersabda:
الْـمُؤْمِنُ مِنْ أَهْلِ الْإِيْمَانِ
بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ،
يَأْلَمُ الْـمُؤْمِنُ لِأَهْلِ
الْإِيْمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ
لِـمَا فِي الرَّأْسِ .
“Sesungguhnya seorang mu’min terhadap
mu’min yang lain laksana kepala dari sebagian
badan. Orang mu’min akan menderita karena
orang-orang mu’min yang lain sebagaimana
badan ikut menderita karena keadaan di
kepala.” (HR. Ahmad)
15. Gampang memutuskan tali persaudaraan,
tidak merasa tergugah tanggung jawabnya untuk
beramal demi kepentingan kaum muslimin
16. Suka berbantah-bantahan dan berdebat yang
justru membuat hati keras dan kaku
Rosululloh bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا
عَلَيْهِ إِلَّا أُوْتُوا الْجَدَلَ .
“Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat
sesudah ada petunjuk kecuali jika mereka suka
berbantah-bantahan.” (HR. Ahmad)
17. Sibuk dalam perkara keduniaan semata
18. Berlebih-lebihan dalam masalah makan,
minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain
Rosululloh bersabda:
إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمُ فَإِنَّ عِبَادَ
اللّٰـهِ لَيْسُوْا
بِالْـمُتَنَعِّمِيْنَ.
“Jauhilah berlebih-lebihan, karena hamba-hamba
Alloh bukanlah orang-orang yang hidup berlebih-
lebihan.” (HR. Abu Nu’aim)
19. dan lain-lain
Terapi Penyembuhan
Itulah beberapa fenomena dari hati yang
berpenyakit. Selanjutnya kita berusaha untuk
mencari terapi dari penyakit-penyakit di atas.
Rosululloh menggambarkan dalam salah satu
sabda beliau bahwa keimanan seorang hamba
diibaratkan sebagai pakaian yang dibutuhkan
untuk diperbaharui setiap saat. Di tempat yang
lain, beliau menggambarkan keimanan adalah
ibarat menatap bulan, terkadang bercahaya
terkadang gelap, manakala bulan tersebut tertutup
oleh awan maka hilanglah sinar dari rembulan
tersebut, ketika gumpalan-gumpalan awan
menghilang maka nampak kembali cahaya bulan
tersebut.
Kemudian, yang terpenting bagi seseorang ketika
dia berusaha mengobati penyakit hatinya maka
dia harus meyakini terlebih dahulu bahwa
keimanan seseorang terkadang bertambah
terkadang berkurang sebagaimana firman Alloh :
… supaya keimanan mereka bertambah di
samping keimanan mereka (yang telah ada)….
(QS. al-Fath [48]: 4)
Juga sebagaimana sabda Nabi :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذٰلِكَ
أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ .
“Barangsiapa di antara kamu melihat
kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan
tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan
lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya,
dan yang demikian adalah selemah-lemah
iman.” (HR. Bukhori)
Sebelum melangkah lebih jauh dalam mengupas
penyembuhan dari penyakit-penyakit hati
tersebut, ada baiknya kita sampaikan bahwa tidak
sedikit orang mencari penyembuhan secara
eksternal; dengan cara itu mereka berharap
bersandar kepada orang lain, padahal dia
sendirilah yang mampu untuk mencari
penyembuhan bagi dirinya.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang
muslim sebagai upaya penyembuhan penyakit
hati yang dideritanya:
1. Membaca dan menyimak al-Qur’an
Alloh telah memastikan bahwa al-Qur’an adalah
penawar dari penyakit, penerang dan cahaya bagi
hamba Alloh yang dikehendaki-Nya. Firman
Alloh :
Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang
menjadi penawar dan rohmat bagi orang-orang
yang beriman…. (QS. al-Isro’ [17: 82)
2. Merasakan keagungan Alloh
Di samping itu, seorang muslim juga harus
mengetahui Nama-nama dan Sifat-sifat Alloh
serta memikirkan makna-maknanya. Banyak dalil
dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengungkap
tentang keagungan Alloh. Jika seorang muslim
memperhatikan nash-nash tersebut, niscaya akan
bergetar hatinya dan jiwanya akan tunduk kepada
Dzat yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui sebagaimana firman Alloh :
Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang
ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia
sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan
dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan
tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi,
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh). (QS. al-An’am [6]: 59)
3. Mencari dan mempelajari ilmu agama
Yaitu ilmu yang bisa menghasilkan rasa takut
kepada Alloh dan menambah nilai keimanannya.
Tidak akan sama keadaan orang yang
mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.
4. Banyak berdzikir kepada Alloh
Dengan berdzikir kepada Alloh keimanan
bertambah, rohmat Alloh datang, hati tenteram,
para malaikat datang mengelilingi mereka, dosa-
dosa mereka terampuni. Rosululloh bersabda:
“ Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-
Nya, andaikata kamu tetap seperti keadaanmu di
sisiku dan di dalam berdzikir, tentu para malaikat
akan menyalami kamu di atas tempat tidurmu
dan tatkala dalam perjalanan.” (HR. Muslim)
5. Memperbanyak amal sholih
Dengan beberapa bentuk, di antaranya:
• Sesegera mungkin melaksanakan amal sholih
• Melaksanakan amal sholih secara terus-menerus
• Tidak gampang bosan dan capai dalam
melaksanakannya
• Mengulang beberapa amal sholih yang
terlupakan
• Senantiasa berharap apa yang dilakukannya
diterima oleh Alloh
6. Banyak melakukan berbagai macam ibadah
Di antara rohmat Alloh ialah dengan diberikan-
Nya beberapa macam peribadatan, sebagiannya
berbentuk fisik seperti sholat, sebagiannya
berbentuk materi seperti zakat, sebagiannya
berbentuk lisan seperti dzikir dan do’a. Bahkan
satu jenis ibadah bisa dibagi kepada wajib,
sunnah, dan anjuran. Yang wajib pun terkadang
terbagi kepada beberapa bagian. Berbagai jenis
ibadah ini memungkinkan untuk dijadikan sebagai
penyembuh dari penyakit hati atau lemahnya
keimanan.
7. Takut meninggal dunia dalam keadaan su’ul
khotimah
Rasa takut seperti ini dapat mendorong seorang
muslim untuk taat dan selalu memperbarui
keimanannya.
8. Banyak mengingat mati
Rosululloh bersabda:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَاتِ
يَعْنِيْ الْـمَوْتَ .
“Perbanyaklah mengingat penebas segala
kelezatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi)
Di antara cara yang efektif untuk mengingatkan
seseorang terhadap kematian ialah dengan
berziarah kubur, mengunjungi orang sakit,
mengiringkan jenazah, dan lain-lain.
9. Selalu ingat hari akhir
Masuk di dalamnya berbagai kejadian-kejadian di
hari kiamat seperti hari kebangkitan, berkumpul di
padang mahsyar, hisab, pahala, timbangan,
jembatan, qishosh, syafa’at, tempat tinggal yang
abadi yaitu surga dengan segala kenikmatannya
dan neraka dengan segala kepedihannya.
10. Berinteraksi dengan firman-firman Alloh yang
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam
11. Bermunajat kepada Alloh dan pasrah kepada-
Nya
Rosululloh bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ
رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثَرُوا
الدُّعَاءَ .
“Saat seseorang paling dekat kepada Alloh ialah
tatkala dia melakukan sujud, maka perbanyaklah
do’a.”
12. Tidak berangan-angan yang terlalu muluk
dalam perkara keduniaan
13. Memikirkan kehinaan duniawi
Rosululloh bersabda:
إِنَّ مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ قَدْ ضُرِبَ
لِدُنْيَا مَثَلًا، فَانْظُرْ مَا
يَخْرُجُ مِنْ ابْنِ آدَمَ وَإِنَّ
فَزْحَهُ وَمِلْحَهُ قَدْ عُلِمَ إِلَى
مَا يَصِيْرُ .
“Sesungguhnya makanan anak Adam bisa
dijadikan sebagai perumpamaan dunia. Maka
lihatlah apa yang keluar dari diri anak Adam,
sesungguhnya apa yang dimakannya sudah bisa
diketahui akan menjadi apakah dia.” (HR.
Thobroni)
14. Mengagungkan hal-hal yang mulia di sisi Alloh
Termasuk di dalamnya mengagungkan tempat-
tempat suci, tidak menganggap kecil dosa-dosa.
15. Banyak melakukan ibadah-ibadah hati
Seperti cinta kepada Alloh, berharap kepada-Nya,
berbaik sangka dan bertawakkal kepada-Nya,
ridho terhadap qodho-Nya, bersyukur terhadap
nikmat-nikmat-Nya, dan sebagainya.
16. Banyak menghisab diri sendiri
Alloh berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat)…. (QS. al-Hasyr [59]: 18)
17. Puncak dari semua yang tersebut di atas
adalah berdo’a agar Alloh selalu menjaga
keimanannya
Ya Alloh, kami memohon dengan Asma’ (Nama-
nama) dan Sifat-sifat-Mu yang Tinggi agar Engkau
berkenan memperbarui iman di dalam hati kami
dan keluarga kami. Ya Alloh, jadikanlah iman
sebagai kunci dan hiasan di hati kami, jadikanlah
kami benci terhadap kekufuran, jadikan kami
termasuk orang yang mendapat petunjuk.
Aamiin.
***
hati berpenyakit,apa gerangan obatnya?
cambuk-hati.web.id

Indahnya Berbagi dgn Sesama

Bila Anda memiliki segelas
teh, lalu disuruh
memberikannya kepada
orang di sebelah, tinggal
berapa teh yang tersisa
Anda miliki? Tinggal
berapa? Demikian
mudahnya. Kalau memiliki
tiga diberikan satu, tentu
tinggal dua. Kalau
memiliki dua diberikan
satu tentu sisa satu. Kalau
hanya memiliki satu
diberikan satu, ya habis,
tentu saja. Tak bersisa.
Itulah yang sering
terbayang dalam benak
kebanyakan orang.
Hitung- hitungannya
memang begitu. Namun
benarkah demikian itu?
oleh: Ust. Hanif
Hanan
Roda Kehidupan
Ya, demikian keyakinan atau pengalaman
sebagian orang. Bahwa memberikan apa yang
dimiliki faktanya hanya akan membuat
berkurang. Lain dengan investasi bisnis yang bisa
diharap bagi hasilnya. Tapi kalau berbagi kepada
fakir miskin dan yatim piatu, apa mungkin
mereka bisa memberi imbalan hasil? Apa yang
mau ditunggu? Sia- sia saja. Itulah yang
terbayang.
Bayangan demikian itu membuat seseorang
berat berbagi. Meski hartanya banyak, kalau
disuruh bersedekah masih harus hitung-
hitungan dulu. “Ini kan hasil jerih payah saya
sendiri. Untuk apa harus dibagi dengan mereka
yang kekurangan dan menderita? Peduli amat
dengan nasib mereka,” demikian pikirnya.
Benarkah cara pandang hidup demikian itu baik
baginya?
Roda kehidupan terus berputar, kadang di atas
kadang juga di bawah. Kemudahan dan kesulitan
datang silih berganti. Bila keadaan lapang itu
berubah menjadi sempit, siapa pun akan butuh
pertolongan orang lain. Ia berharap ada orang
yang peduli dan mau menolong dirinya.
Tapi bagaimana orang- orang di sekitarnya
memperlakukan seorang yang bakhil itu? Bisa
jadi masih ada yang berfikir, “Ah, untuk apa
menolong orang yang bakhil seperti dia.
Bukankah saat berlebih ia hanya memikirkan diri
sendiri? Biarin saja agar tau rasa.” Si Bakhil
akhirnya benar- benar merasakan kesulitan.
Pintu- pintu tertutup. Ia terbelenggu oleh
kebakhilannya sendiri.
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil
dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan
itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu
adalah buruk bagi mereka. (Ali Imran [3]: 180)
Saat dikaruniai Allah kekayaan lebih,
sesungguhnya merupakan kesempatan seorang
untuk berbagi dengan sesama. Itulah saat yang
tepat menanam kebaikan. Tetapi hawa nafsu dan
syaitan membisikkan manusia untuk lebih
mementingkan diri sendiri dan cinta dunia.
Mereka tidak peduli terhadap kesulitan hidup fakir
miskin, yatim piatu, dan dhuafa. Mereka
menganggap sikap bakhilnya itu akan
membuatnya lebih baik. Padahal pada
kenyataanya itu hanya akan menyempitkan
jiwanya sendiri saja dan berakibat buruk baginya.
Ia telah diperbudak oleh hartanya dan dikucilkan
masyarakatnya.
Lepaskan jiwa dari belenggu dunia. Ingatlah
sesungguhnya harta dan dunia ini adalah
amanah- Nya agar kita berbagi dengan sesama.
Janganlah kita menyumbat aliran rahmat- Nya
dengan sikap tak mau berbagi. Bakhil hanya akan
membelenggu diri. Apalagi saat roda kehidupan
terhenti alias maut menjemput, harta yang telah
menjerat jiwanya di dunia itu juga akan menjerat
pula di akhirat. Naudzubillah.
Harta yang mereka bakhilkan itu akan
dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan
kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di
langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran [3]: 180)
Jaminan Allah
Hitung- hitungan dalam kehidupan itu ternyata
tidak seperti anggapan orang di atas bahwa bila
memberi akan berkurang. Misalnya saat Anda
dan beberapa teman sedang bertamu. Oleh tuan
rumah Anda disuguhi segelas teh. “Tolong Pak,
minumannya diberikan teman sebelah.” Mungkin
ada yang berpikir, “Kalau saya berikan,
bagaimana bagian saya nanti?” Tapi begitu Anda
memberikannya kepada teman sebelah, habiskah
yang kita miliki? Ya, sejenak sepertinya apa yang
kita miliki itu berpindah tangan. Tak bersisa.
Namun tak seberapa lama tuan rumah memberi
lagi. Ternyata dengan memberi bukannya habis
tapi ada lagi pengganti. Saat kita memberikannya
lagi pada teman lain yang belum mendapat
bagian, tuan rumahnya memberinya lagi. Lagi
dan lagi.
Kita hidup di dunia ini juga demikian. Ibaratnya
kita sebagai tamu Allah. Kita lahir dalam keadaan
telanjang dan tak membawa sehelai benang pun.
Kemudian kita bisa hidup karena dicukupi dengan
suguhan berbagai karunia dan rizki- Nya. Cukup
makan, sandang dan papan. Pada saat kita
berlebih, Allah memerintahkan kita bersedekah
dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang
lain yang belum kebagian seperti kita.
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah
beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat,
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami
berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun
terang-terangan sebelum datang hari (kiamat)
yang pada bari itu tidak ada jual beli dan
persahabatan. (QS. Ibrahim [14]: 31)
Bila hamba-Nya itu mau berbagi, akankah Allah
membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia
ini? Sama sekali tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia
akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?
Sesungguhnya kalian akan diberi pertolongan
dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT,
manakala kalian mau menolong dan berpihak,
membantu, serta mau memberikan kepada
orang-orang yang lemah dan menderita dalam
kehidupannya. (Riwayat Muslim).
Saat kita memberi, secara psikis Allah telah
melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia.
Jiwa ini merdeka dari perbudakan harta. Secara
sosial, didekatkan hati-hati sesama saling kasih
sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini.
Andai roda kehidupan sedang berputar ke
bawah, seorang yang suka berbagi pun tak akan
berlarut dalam kesulitan terlalu lama. Sebab
pintu- pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat
berbagai jalan. Buah dari sukanya berbagi itu,
akan mengundang demikian banyak orang yang
dengan senang hati menolongnya. Hal yang tak
akan dinikmati oleh seorang yang bakhil.
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu
Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada
para sahabatnya, “Inginkah kalian mendapatkan
dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin
dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya
segala kebutuhan hidup kalian?”
Para sahabat menjawab: "Benar ya Rasul, kami
menginginkan hal itu.” Rasul pun menjawab:
“Sayangilah anak-anak yatim; usaplah kepalanya
(bertanggung jawab serta memperhatikan
kehidupan mereka), dan berilah makanan dari
sebagian makanan yang kalian makan (untuk
para dhu'afa dan fakir miskin); maka pasti kalian
akan mendapatkan ketenangan batin dan
kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhi
kebutuhan kalian.”
Sungguh alangkah indahnya hidup orang yang
telah mendapat jaminan keberlimpahan
ketenangan lahir dan batin.Ya Allah berkahilah
rizki hamba. Berikan kekuatan tangan ini untuk
berbagi. Amiiin.***

Monday, December 20, 2010

Tawakkal

Biismillahir rohmaanir rohiim..
Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam
bersandar kepada Allah Ta ’ala untuk
mendapatkan kemaslahatan serta mencegah
bahaya, baik menyangkut urusan dunia
maupun akhirat. Allah Ta ’ala berfirman yang
artinya, “Dan barangsiapa bertaqwa kepada
Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan
keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada
ia sangka-sangka, dan barangsiapa
bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup
baginya. ” (Ath Tholaq: 2-3)
Makna Bertawakkal Kepada Allah
Banyak di antara para ulama yang telah
menjelaskan makna Tawakkal, diantaranya
adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau
mengatakan, “Tawakkal adalah menampakkan
kelemahan serta penyandaran (diri) kepada
yang diTawakkali. ” (Faidhul Qadir, 5/311).
Ibnu ‘Abbas radhiyAllahu’anhuma mengatakan
bahwa Tawakkal bermakna percaya
sepenuhnya kepada Allah Ta ’ala. Imam
Ahmad mengatakan, “Tawakkal berarti
memutuskan pencarian disertai keputus-asaan
terhadap makhluk. ” Al Hasan Al Bashri pernah
ditanya tentang Tawakkal, maka beliau
menjawab, “Ridho kepada Allah Ta’ala”, Ibnu
Rojab Al Hanbali mengatakan, “Tawakkal
adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya
kepada Allah Ta ’ala dalam memperoleh
kemashlahatan dan menolak bahaya, baik
urusan dunia maupun akhirat secara
keseluruhan. ” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani
mengatakan, “Tawakkal yaitu memalingkan
pandangan dari berbagai sebab setelah sebab
disiapkan. ”
Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari
Kerusakan
Ibnul Qayyim berkata, “Tawakkal adalah faktor
paling utama yang bisa mempertahankan
seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari
serangan makhluk lainnya yang menindas
serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana
yang paling ampuh untuk menghadapi
keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan
Allah sebagai pelindungnya atau yang
memberinya kecukupan. Maka barang siapa
yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya
serta yang memberinya kecukupan, maka
musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan
bahaya padanya. ” (Bada’i Al-Fawa’id 2/268)
Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata,
Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab
shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas
rodhiyAllahu anhuma, bahwa ketika Nabi
Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api
yang membara beliau mengatakan,
“HasbunAllahu wa ni’mal wakiil.” (Cukuplah
Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah
yang diungkapkan oleh Rosululloh ShollAllahu
‘ alaihi wa sallam ketika dikatakan kepada beliau,
Sesungguhnya orang-orang musyrik telah
berencana untuk memerangimu, maka
waspadalah engkau terhadap mereka. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab
Tafsir.Lihat Fathul Bari VIII/77)
Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang
diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia
dilemparkan ke tengah bara api adalah:
‘ Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan
Allah sebaik-baik pelindung’.”
(HR. Bukhori)
Bertawakkal Kepada Allah Adalah Kunci Rizki
Rosululloh ShallAllahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sungguh, seandainya kalian
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-
benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki
sebagaimana burung-burung. Mereka
berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan
pulang sore hari dalam keadaan
kenyang. ” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu
Majah, Al-Hakim)
Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh
menjelaskan bahwa orang yang bertawakkal
kepada Allah dengan sebenar-benarnya,
pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak,
karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang
Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu
Hatim Ar Razy berkata, “Hadist ini merupakan
tonggak tawakkal. Tawakkal kepada Allah itulah
faktor terbesar dalam mencari riqzi. ” Karena
itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya,
niscaya Allah Subhanahu Wa Ta ’ala akan
mencukupinya. Allah berfirman yang artinya,
“ Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya).
Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (Ath-Thalaq:
3).
Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat
tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala
sesuatu yang membuat sempit manusia.”
Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha
Mewujudkan Tawakkal bukan berarti
meniadakan usaha. Allah memerintahkan
hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus
bertawakkal. Berusaha dengan seluruh
anggota badan dan bertawakkal dengan hati
merupakan perwujudan iman kepada Allah
Ta’ala.
Sebagian orang mungkin ada yang berkata,
“ Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu
akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah,
berusaha dan mencari penghidupan.
Bukankah kita cukup duduk-duduk dan
bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari
langit ?” Perkataan itu sungguh menunjukkan
kebodohan orang itu tentang hakikat Tawakkal.
Nabi kita yang mulia telah menyerupakan
orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu
dengan burung yang pergi di pagi hari untuk
mencari rizki dan pulang pada sore hari,
padahal burung itu tidak memiliki sandaran
apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik
atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal
tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa sebagai
tempat bergantung.
Para ulama -semoga Allah membalas mereka
dengan sebaik-baik kebaikan- telah
memperingatkan masalah ini. Di antaranya
adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “Dalam
hadits tersebut tidak ada isyarat yang
membolehkan meninggalkan usaha,
sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang
menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi
maksud hadits tersebut, bahwa seandainya
mereka bertawakkal kepada Allah dalam
bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan
mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu
di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang
kecuali dalam keadaan mendapatkan harta
dengan selamat, sebagaimana burung-burung
tersebut. ” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang
laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di
masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja
sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”.
Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki
yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi
ShollAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku
dalam bayang-bayang tombak perangku
(baca: ghonimah )’. Dan beliau juga bersabda,
‘Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah
memberimu rizki sebagaimana yang
diberikanNya kepada burung-burung. Mereka
berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan
pulang sore hari dalam keadaan
kenyang. ’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi).
Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para
sahabat juga berdagang dan bekerja dengan
mengelola pohon kurmanya. Dan mereka
itulah teladan kita. ” (Fathul Bari, 11/305-306)
Kalau kita mau merenungi maka dapat kita
katakan bahwa pengaruh tawakkal itu tampak
dalam gerak dan usaha seseorang ketika
bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan,
“ Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu
letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah
maka hal itu tidak bertentangan dengan
tawakkal yang ada di dalam hati setelah
seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya
dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu
adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat
kemudahan maka hal itu karena kemudahan
dariNya. ” (Murqatul Mafatih, 5/157)
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal
kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan
usaha adalah sebuah hadits. Seseorang
berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa
sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku
bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah
kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR.
Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam
Shohih Jami ’ush Shoghir). Dalam riwayat
Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin
Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku
bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat
dahulu unta tungganganku lalu aku
berTawakkal kepada Allah, ataukah aku
lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’,
Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu
bertawakkallah kepada Allah.” (Musnad Asy-
Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633,
1/368)
Tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha.
Hendaknya setiap muslim bersungguh-
sungguh dan berusaha untuk mendapatkan
penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh
menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras
dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa
segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa
rizki itu hanyalah dari Dia semata.Wallah
taufiq ..Semoga bermanfaat ...
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu
ilaika....

Kerelaan Diri dan Merasa Cukup

Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam
kehidupan seringkali menjadikan manusia
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
nilai dan norma yang di anut.

Terkadang,
ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di
dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi
orang-orang yang sadar dan mencukupkan
dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.
Kita bisa menyaksikan, bagaimana kesudahan
orang-orang terkenal dalam beberapa bidang
kehidupan, yang jelas-jelas terpenuhi secara
materi, dimana hartanya berlimpah, memiliki
anak-anak yang sehat dan lucu, keluarga yang
sejahtera serta hampir tak pernah susah untuk
mendapatkan apa yang menjadi keinginan
dalam hidup, namun masih saja terlibat
banyak kasus-kasus kejahatan yang akhirnya
menghantarkan diri mereka masuk ke dalam
penjara sebagai akibat pelanggaran hukum.

Sungguh, diri kita tidak akan merasa puas jika
masih saja melihat ke kiri dan ke kanan dan
selalu saja terpancing untuk membanding-
bandingkan sesuatu yang kita peroleh dengan
apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di
halaman rumah kita terbentang rumput yang
hijau, namun kita masih saja memandang
bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.

Berbeda jika kita mampu melihat segala
kelebihan yang terdapat pada diri seseorang
sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita
terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik
dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam
hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan,
dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa
usaha yang nyata, tanpa harus kecewa
dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat
dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang
diperoleh oleh orang lain tersebut.

Perjalanan hidup terus berlanjut dan
seharusnya diri kita ikut merasa gembira, di
saat orang-orang memperoleh kenikmatan
tanpa membuat hati kita menjadi dengki atas
segala kelebihan yang telah diterima oleh
orang lain. Tak ada hal yang perlu kita
banggakan atas segala perolehan seperti
pangkat, jabatan serta harta kekayaan, karena
pada dasarnya semua itu merupakan titipan-
Nya. Dan tak ada satu hal pun yang mesti kita
dengkikan dari kenikmatan yang diperoleh
orang lain, karena sesungguhnya, segala
sesuatu telah diatur dan ditetapkan oleh Allah
SWT dengan ukuran-ukuran keadilan-Nya.

Jika
terdapat kesadaran seperti itu, maka kerelaan
diri serta rasa berbaik sangka kepada-Nya akan
senantiasa melingkupi.
Namun terkadang karena keterbatasan ilmu
menjadikan diri kita tak mampu untuk
membacanya dengan baik. Dengan berbaik
sangka kepada-Nya, dan rela serta bersyukur
dengan segala hal dan ketetapan-ketetapan
yang kita terima, merupakan satu hal yang
dapat menyelamatkan diri kita dari bisikan rasa
tidak puas, sifat tamak dan merasa
diberlakukan tidak adil oleh Allah SWT.

Semoga Allah SWT dengan Rahman dan
Rahim-Nya menguatkan dan menetapkan
iman kita untuk terus mengarungi sisa hidup
ini dengan senantiasa tersenyum serta berbaik
sangka kepada-Nya dan sesama makhluk-Nya.

Wallahu a’lam

Sumber:Forum Silaturahmi dan diskusi kehidupan dalam pandangan Islam

Untuk laki-laki yang memang patut untuk dicinta

Ini bukan sabda para nabi ini bukan lirik cinta para penyair
tapi ini adalah suara hati seorang kekasih yang mencintai
seorang laki-laki yang di Ridhoi oleh yang MAHA KASIH

ini bukan saduran atau jiplakan dari kumpulan para pujangga
yang menghamparkan cinta pada semua yang fana
tapi tulisan ini adalah yang terpatri dalam hati
sang pencinta laki-laki penghuni syurga
kidung cinta dalam sanubari
mendambakan kasih yang dipertemukan dalam ikatan suci yang
di RIDHOI

WAHAI KAU MUJAHID SEJATI.......
kucintai engkau bukan karena indahnya paras mu
tapi kucintai engkau karna kau mencintai apa yang ku cintai
DIA lah Yang MaHa Agung yang memberikan "indah" itu
diwajahmu

kucintai engkau bukan karena indahnya mata mu
tapi kucintai engkau karena kau mencintai apa yang kucintai
DIALAH yang MAHA INDAH yang memberikan indah itu
dimatamu

kucintai engkau bukan karena apa yang ada pada mu
tapi kucintai engkau karena kau mencintai apa yang kucintai
DIALAH YANG MAHA PEMURAH yang memberikan rizki kepada
mu

kucintai engkau bukan karena tubuhmu
tapi kucintai engkau karena engkau mencintai apa yang kucintai
DIALAH YANG MAHA ESA yang mencinptakan dan mematikan diri
ini

kucintai kau bukan karena
kau mencintai ku
tapi kucintai engkau karena kau mencintai apa yang kucintai
DIALAH YANG MAHA PENGASIH yang mempertemukan kita
dalam IMAN

kucintai kau bukan karena akan memiliki mu
tapi kucintai dirimu karena engkau mencintai apa yang kucintai
DIALAH YANG MAHA PENGUASA atas segala alam semesta
WAHAI MUJAHID PENGHUNI SYURGA

kucintai kau karena kau menjadikan Al Quran sebagai pedoman
mu
kucintai kau karena kau menjadikan Rasullullah sebagai khudwah
akhlak mu
kucintai kau karena dengan mencintaimu maka makin bertambah
cintaku kepada ALLAH yang memiliki hidup dan mati ku

YA ALLAH AR RAHMAN AR RAHIM
kepadaMU ku berlindung dan bernaung
maka lindungilah cinta kami dalam naungan MAHABBAH MU
kuingin dia yang kucintai karena dia mencintai MU
menemaniku dalam langkah menuju MU

ya ALLAH RABB
yang memiliki hidup dan mati ku
sebelum jasad ini terpisah
persatukanlah KAMI
karena cinta KAMI berdua
SEINDAH CINTA KAMI KEPADAMU YA ALLAH

Ciri- ciri Wanita TeladandanIsteri Solehah

1. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa mendahulukan
kemahuan dan keinginan suaminya dari
kemahuan dan
kehendaknya sendiri.
2. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa bersikap malu
terhadap suaminya, bersopan santun pada
setiap perkataan dan perbuatan.
3. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa berhias diri bila di
hadapan suami dan sebaliknya apabila
ketiadaan
suami.
4. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa bersedia melayani
dan memenuhi kehemdak batiniah dan
zahiriah suami
bila diperlukan.
5. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menjaga kebersihan,
kesihatan dan kesempurnaan diri, rumah
tangga
dan anak-anak suaminya.
6. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa mencintai dan
menghormati keluarga suaminya seperti
mana ia mencintai dan menyayangi
keluarganya sendiri.
7. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menjaga auratnya
dari pandangan yang bukan mahramnya.
8. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menjaga pandangan
matanya dari perkara-perkara yang tidak
sihat dan
mungkar.
9. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa memberikan
kesetiaan, ketaatan dan kepatuhan kepada
suaminya selagi
suruhan itu tidak bertentangan dengan
perintah syariat.
10. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa memberikan layanan
dan kasih sayang yang sepenuhnya dan
membuatkan suaminya merasakan rumah
tangganya itu sebagai tempat yang paling
selamat untuk mendapat ketenangan dan
kebahagiaan.
11. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menjaga rahsia serta
maruah suami dan keluarganya, demikian
juga
dengan maruahnya sendiri.
12. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menjadikan
suaminya sebagai ketua dalam rumah
tangga mereka sesuai
dengan sifat-sifat yang telah dianugerahkan
Allah kepada kaum lelaki.
13. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa memohon keizinan
suaminya untuk keluar dari rumah kerana
sesuatu
hajat yang diharuskan oleh syara ’.
14. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa memohon keizinan
suaminya jika mahu mengerjakan puasa
sunat.
15. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa bersyukur dan
tenang di atas segala dugaan dan nikmat
dari Allah
yang diberikan kepada suaminya.
16. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menemani
suaminya ke muka pintu bila ia hendak
keluar dan menyambutnya dengan
senyuman bila ia pulang.
17. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang tidak membenarkan lelaki
bukan mahram memasuki rumah ketika
ketiadaan
suami.
18. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa bersedia
melaksanakan tugas dan tanggungjawab
sebagai seorang
isteri, ibu dan segala perintah Allah dengan
tabah dan sabar.
19. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa berdiam diri dan
mendengar bila suaminya sedang
bercakap.
20. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang tidak meminta sesuatu yang
lebih dari suaminya sedangkan ia tidak
mampu untuk menunaikannya.
21. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang sentiasa menerima
pemberian suaminya dengan penuh
kesyukuran dan keikhlasan.
22. Wanita teladan & isteri solehah ialah
mereka yang bijak menguruskan harta
suami dalam berbelanja dengan kadar
yang
sederhana dan tidak membazir

Pahala Berhias bagi Wanita Sholehah

Pahala Bersolek Bagi Istri Shalihah
Barangkali para istri muslimah terpesona
dengan tema ini, sebab ini bukan perkara yang
aneh. Mereka semua pasti setuju. Ya, memang
benar bahwa bersoleknya seorang istri untuk
suaminya adalah merupakan proses ibadah yang
bernilai pahala. Istri yang muslimah diseru untuk
selalu memperhatikan kecantikan, keindahan, dan
kemolekannya, meski usia pernikahannya telah
melewati puluhan tahun lamanya.
Ini mengingat, meskipun suaminya sudah tua,
dia tetap akan merasakan kedamaian dari kata-
kata manis sang istri. Dia senantiasa menikmati
pemandangan indah istrinya. Dengan demikian,
minimal sang istri bisa menjaga suaminya, untuk
tidak melirik wanita lain.
Sebagian muslimah yang sudah beristri
terkadang menganggap bahwa berdandan
merupakan hak para model, artis, penyiar televisi,
dan wanita-wanita yang tidak agamis lainnya.
Pandangan tersebut jelas sangat keliru dan
tertolak kebenarannya. Sebab, bersolek dan
berdandan merupakan faktor terpenting untuk
memantapkan cinta dan menaklukkan hati suami.
Selain itu, berdandan juga bisa diakses untuk
merekonstruksi kokohnya bangunan rumah
tangga suami-istri.
Dalam bukunya Az-Zaujah Al-Mubdi’ah wa Asrar
Al-Jamal, Shabah Sa’id menegaskan, di antara
kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh
para istri adalah mengabaikan aktivitas berdandan
dan berhias, serta tidak menampakkan sisi
femininnya kepada suaminya. Penampilan apa
adanya sang istri di hadapan suaminya, atau
bahkan mengabaikan penampilan dirinya,
merupakan faktor potensial yang dapat merusak
kehidupan rumah tangga.
…di antara kesalahan-kesalahan fatal yang
dilakukan oleh para istri adalah
mengabaikan aktivitas berdandan dan
berhias, serta tidak menampakkan sisi
femininnya kepada suaminya …
Shabah Sa’id melanjutkan, yang lebih
menakjubkan lagi tentunya jika kita melihat
sebagian muslimah mengabaikan atau
menganggap remeh dandanan mereka di
hadapan suaminya. Sangat ironis jika kita
menyaksikan para muslimah tampil seadanya di
hadapan suami mereka, dan aroma dapur atau
bau masakan tercium dari mulut dan badan
mereka, namun di luar rumah kita bisa mencium
aroma wangi semerbak dari mulut dan pakaian
mereka.
Islam benar-benar mendorong kaum muslimah
agar merawat kecantikan dan kelembutannya.
Rasulullah SAW bersabda kepada Umar, “Maukah
kuberitahukan sebaik-baik simpanan seseorang?
Dia adalah wanita shalihah, yaitu jika suami
memandangnya, dia menyenangkannya.”
Dari hadits Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah
bersabda ”Sebaik-baik istri ialah istri yang
menyenangkan kamu bila engkau memandang
(nya), dan taat kepadamu bila engkau menyuruh
(nya), serta menjaga dirinya dan harta bendamu
di waktu engkau tidak berada bersamanya.”
Oleh karena itu, berdandan untuk suami
merupakan bagian dari ibadah. Sehingga istri
kelak akan mendapatkan balasan dan pahala dari
Allah di akhirat kelak. Selain itu, dia akan
mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam
hidupnya bersama suaminya.
…Istri wajib tampil cantik dan semenarik
mungkin di depan suami. Dan semua itu
akan melahirkan pahala yang besar dari
Allah …
Betapa tidak, barangsiapa yang menemui istrinya,
lalu dia mendapati istrinya dalam keadaan cantik
dan menarik, itu berarti sang istri telah
menyenangkan suaminya. Pun demikian, dia
harus bisa menarik hati suami dengan segenap
kecantikan dan sikap manjanya.
Berhias atau berdandan adalah sifat fitrah seorang
wanita, di mana secara naluri para wanita
umumnya punya kecenderungan untuk tampil
cantik dan menarik. Ini barangkali berhubungan
dengan jiwa wanita yang suka pada keindahan
dan kebersihan ketimbang laki-laki. Naluri ini
adalah karunia Allah yang harus disyukuri.
Dalam pelaksanaannya, naluri untuk tampil cantik
dan berhias ini telah Allah berikan petunjuk-Nya,
sehingga tidak salah jalan yang hanya akan
mengakibatkan kerugian dan kerusakan bagi
pelakunya.
Ini mirip dengan naluri untuk makan yang
merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun
naluri itu perlu dibuatkan koridornya agar tidak
mencelakakan diri sendiri. Misalnya Allah
melarang untuk memakan makanan yang
merusak diri sendiri dan juga yang
menghilangkan akal pikiran. Semua itu
diberlakukan agar nikmat ini terjaga dan
berfaedah, bukan merusak dan menghancurkan
sang hamba.
Dalam persoalan berhias, maka batasan yang
Allah tetapkan adalah:
1. Kepada suami
Istri wajib tampil cantik dan semenarik mungkin
di depan suami. Dan semua itu akan melahirkan
pahala yang besar dari Allah.
2. Kepada laki-laki yang mahram dan
sesama wanita muslimah
Seorang wanita boleh menampakkan sebagian
tubuhhya seperti kepala, leher, tangan, kaki dan
bagian lain yang memang dibolehkan secara
syar‘i di depan keluarganya yang masih mahram.
Namun tidak boleh menampakkan bagian seperti
aurat-aurat ‘besar’ dan lainnya. Berdandan di
depan mereka pun tidak menjadi masalah asal
masih dalam batas yang wajar dan tidak vulgar.
…Selain itu, Islam menentang sikap
berlebih-lebihan dalam berhias sampai
pada tahapan menjurus pengubahan
ciptaan Allah …
3. Tidak berdandan untuk laki-laki non-
mahram dan wanita kafir
Keduanya punya kedudukan yang sama yaitu
diharamkan menampakkan bagian tubuh dan
berhias di depan mereka. Apalagi melenggak-
lenggokkan tubuh untuk menarik syahwat laki-laki
asing atau non-mahram.
Selain itu, Islam menentang sikap berlebih-lebihan
dalam berhias sampai pada tahapan menjurus
pengubahan ciptaan Allah yang oleh Al-Qur‘an
dinilai bahwa mengubah ciptaan Allah adalah
ajakan setan kepada pengikut-pengikutnya.
Pasalnya, setan akan berkata, “Sungguh akan
kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka
mau mengubah ciptaan Allah.” (An-Nisa’ 119)
Berdandan tidak harus dengan memakai make up
dan perhiasan yang mahal. Rajin membersihkan
diri dengan mandi, bersiwak, memakai parfum
dan berpakaian rapi dan serasi, sudah termasuk
bagian dari berdandan.
…Dandanan yang memikat dan aroma
parfum yang harum akan menjaga dan
memagari suami dari maksiat …
Demikian pula menyisir rambut, mencabuti bulu
ketiak dan memotong rambut kemaluan, juga
termasuk berdandan. Jika suka dan memang
punya, bolehlah memoleskan sedikit bedak ke
wajah, dan lipstik tipis di bibirmu. Itu akan
menambah cantik penampilan. Kalau ada, tak ada
salahnya pula memakai perhiasan, atau
berpakaian menarik di hadapan suami. Tentu,
semua itu harus diikuti dengan keindahan
akhlakmu.
Berpakaian model apapun yang diinginkan dan
disenangi suami, maka itu dibolehkan dalam
syariat Islam, karena tidak ada batasan aurat
antara istri dan suaminya. Dandanan yang
memikat dan aroma parfum yang harum akan
menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata
suami akan tertutup dari melihat pemandangan
haram di luar rumah, bila mata itu dipuaskan oleh
istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat
memuaskan atau menyenangkan suami sehingga
suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan
(tertarik melihat pemandangan haram di luar
rumah) maka berarti si istri turut berperan
membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.
…Mata suami akan tertutup dari melihat
pemandangan haram di luar rumah, bila
mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam
rumah …
Benar, bahwa dunia ini hanya sekedar jembatan,
dan tujuan hidup seorang mukmin tidak hanya
untuk melahap kenikmatan. tetapi menikmati
yang mubah juga dianjurkan, sebagaimana
melakukan yang haram juga dilarang. Maka telah
disebutkan di dalam hadits, bahwa Nabi
Muhammad bersabda, “Di dalam diri di antara
kalian terdapat sedekah.” (HR. Muslim).
Maka ‘bersedekahlah’ kepada para suami dengan
berdandan semenarik mungkin, demi keridhaan
Allah dan pahala-Nya. [ganna pryadha/berbagai
sumber/voa-islam.com]

Sunday, December 19, 2010

Tips Komunikasi untuk Rumah TanggaHarmonis

Tips Komunikasi untuk Rumah Tangga
Harmonis

KOMUNIKASI yang baik dapat menjadi salah
satu pondasi bagi perkawinan yang sehat. Jika
terjadi argumen yang memanas dalam
hubungan perkawinan, komunikasi adalah salah
satu cara yang harus diambil untuk menjaga
agar masalah perkawinan menjadi minimum.
Cara berkomunikasi berikut bisa anda lakukan
agar hubungan perkawinan dapat berjalan lebih
harmonis:

*Cerdas

Menangani Perbedaan
Belajar menghormati dan memahami ide-ide satu
sama lain adalah hal yang cerdas untuk dilakukan
saat berdiskusi dan berargumen dalam
pernikahan. Ketika masalah komunikasi muncul,
cara terbaik untuk menangani adalah mencoba
untuk tetap berada dalam keadaan tenang dan
bekerja sama dengan Suami Anda untuk
menemukan solusi yang dapat disepakati.

*Mendengarkan dengan penuh perhatian

Orang-orang yang lebih banyak mendengar
daripada bicara memiliki keterampilan komunikasi
yang lebih baik daripada mereka yang lebih sering
berbicara. Maka, tidak ada salahnya jika kita
meluangkan waktu untuk benar-benar fokus
dalam memberi perhatian terhadap apa yang
dikatakan atau diceritakan suami. Dengan ini, anda
dapat membantu memperkuat hubungan
perkawinan Anda.

*Memahami Apa yang dirasakan suami Anda

Ada kalanya anda harus akan lebih memahami
sudut pandang suami dengan mencoba
menempatkan diri Anda dalam posisinya. Selain
itu Anda akan dapat berhubungan dengan suami
Anda lebih baik jika Anda memahami alasan di
balik perilakunya. Namun, jika Anda tidak setuju
dengan sesuatu, beritahu suami Anda tentang
perbedaan pendapat dalam cara yang lebih
elegan. Sebagian besar masalah komunikasi
perkawinan Anda dapat dihindari dengan
mengingat untuk melakukan satu hal yang
sederhana ini.

....Ada kalanya anda harus akan lebih
memahami sudut pandang suami dengan
mencoba menempatkan diri Anda dalam
posisinya....

*Sahabat terbaik untuk suami

Memang benar bahwa setiap ikatan perkawinan
kuat yang adalah didasari persahabatan.
Persahabatan, tidak seperti ketertarikan fisik, tidak
memiliki batas atau batasan.

*Sabar

Salah satu poin yang terpenting dalam
perkawinan adalah kesabaran. Berusahalah tetap
tenang ketika anda berada pada situasi
menjengkelkan. bersabarlah, dan dengan kepala
dingin berusahalah bekerja sama untuk
menemukan solusi yang masuk akal dan dapat
diterima oleh Anda berdua. sebagai hasilnya,
Suami anda akan didorong untuk bertindak
dengan cara yang matang jika Anda memberi
contoh dengan menjadi sabar.

....cobalah berbesar hati dan bersedia
menerima bila suami Anda yang
melakukan kesalahan dan
memaafkannya....

Tidak Ada Orang yang Sempurna
Jika akhirnya Anda sadar bahwa Anda telah
memulai sebuah kesalahan, akan sangat bijaksana
untuk mengakui kesalahan Anda dan meminta
maaf.
Sebaliknya, cobalah berbesar hati dan bersedia
menerima bila suami Anda yang melakukan
kesalahan dan memaafkannya tanpa terus-
menerus membuat suami sadar bahwa Anda
benar dan mereka salah.

[rps/voa-islam.com/dari
berbagai sumber]

Surat Cinta dari Istri Cerewet

Teruntuk Suamiku Tercinta,
Maafkan aku, jika lisanku sering menambah
beban dan cobaan dalam hidupmu. Sama sekali
tak ada niatan dalam hatiku untuk memboroskan
kata yang sia-sia, ataupun memberi celah untuk
banyak bicara yang tiada berguna.

Mungkin sempat terbersit di batinmu, ”Kalau ada
kontes cerewet, pasti istriku akan jadi juaranya”,
dan atau karena talenta alamiku itu membuatmu
terganggu.

Tapi yakinlah suamiku, menjadi cerewet bukan
berarti aku adalah seorang ibu yang tidak baik,
tidak pula berarti menjadi ibu yang gagal. Aku
hanya bermaksud melakukan sedikit “perubahan”
untuk kebaikan keluarga kita.

Aku cerewet karena
keadaan yang ”memaksaku” menjadi cerewet.
Aku terkadang harus ”senam mulut” karena
kebandelan anak-anak atau karena niat seriusku
untuk memberikan batasan demi kebaikan
mereka dan engkau.

Kadang aku tidak tertarik
pada bahasa yang ilmiah dan logis yang biasa kau
sampaikan secara detail ketika memecahkan suatu
masalah. Tapi yang aku tahu hanyalah
memberikan perhatian dengan bahasa apa
adanya yang aku mengerti lewat perasaanku.

Aku menyadari tentang pranata jiwa yang ada
dalam pola pikirmu, yang biasa mengungkapkan
masalah dengan teliti dan masuk akal, sehingga
kau jarang sekali menyoal masalah yang
dianggap kecil dan kurang perlu.

Namun
suamiku, tolong pahamilah bahwa bagi
kebanyakan kami para wanita, masalah kecil
ataupun besar tidaklah penting, namun
mengungkap masalah yang dianggap masalah itu
adalah poin pentingnya.

Aku ada untuk
melengkapi yang tak ada dalam dirimu: perasaan,
emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan,
kecantikan, rahim untuk melahirkan, dan
mengurusi hal-hal sepele. Hingga ketika kau tidak
mengerti hal-hal itu, akulah yang akan
menyelesaikan bagiannya.

Suamiku sayang,
Dengan kecerewetanku, aku tak bermaksud suka
mencari kesalahan-kesalahan terhadap segala
sesuatu dan tak mau mengerti tentang banyak
hal. Ini semua karena sistem jiwaku sebagai
seorang wanita yang sangat peka dengan banyak
hal. Kepekaan hati tentang kepentingan keluarga
kita. Sebuah kepekaan hati yang memang telah
dan sedang terbangun dalam jiwaku sebagai
wanita.

….Cerewet ini bukan berarti aku
membencimu dan keluarga kita, namun
sebaliknya terkadang itu menunjukkan
perhatian dan kecintaanku yang lebih ….

Cerewet ini bukan berarti aku membencimu dan
keluarga kita, namun sebaliknya terkadang itu
menunjukkan perhatian dan kecintaanku yang
lebih. Karena itu, kumohon tetaplah menjadi
suami yang bijaksana dan pendengar yang baik,
karena sebenarnya inti dari semua itu adalah aku
ingin dipahami sebagai wanita.

Jika engkau dituntut konsekuen dengan tanggung
jawab sebagai kepala rumah tangga, maka aku
pun dituntut untuk konsekuen menjadi seorang
istri yang baik dan bijaksana.

Namun karena
kekuranganku sebagai wanita, aku banyak
mengungkapkan kata yang kurang
menyenangkanmu.

Suamiku yang bijak,
Pernahkah kau mendengar “Jika lelaki berpikir
tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari
hidupnya, tetapi jika perempuan berpikir tentang
perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh
hidupnya.” Karena itu pula ku sampaikan
permintaan maafku karena besarnya niatku untuk
selalu membahagiakan anak anak dan terutama
engkau, walaupun dengan hal yang mungkin
kurang enak yang bernama kecerewetan.

Semoga Allah memaafkan kesalahanku dan
menjadikan pribadi yang lebih baik dan
mendamaikan hati dalam mendampingimu.

[Syahidah]

Mencintai kehilangan

Mencintai Kehilangan
Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.

Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik kepada
Allah.
Begitulah memang adanya..
kenikmatan hati dan ruh yang terlingkupi dalam
energi iman.
sama sekali tak ada waktu tersisa untuk sebuah
prasangka, selain senyum untuk Allah sang maha
kuasa dan yang maha perkasa, bila semua titipan
telah kembali diambilnya.

Tersebutlah seorang wanita bernama Umu
Sulaim. Suatu hari, anaknya sakit panas. Tepat
pada saat itu, suaminya Abu Tholhah tengah
pergi mencari nafkah.
Menjelang malam, anak kesayangannya itupun
meninggal.
Umu Sulaim meminta kepada kerabatnya, untuk
tidak memberitahukan kepada Abu Thalhah,
tentang kematian anaknya. “Biar aku saja yang
memberi tahu,” katanya. Ketika Abu Thalhah
pulang, dia pun bertanya tentang kondisi
anaknya. Umu sulain menjawab dengan senyum
“ Dia sudah lebih tenang,” .
Selanjutnya, sebagai istri yang baik, maka dia pun
melayani suaminya. Dan setelah semua selesai,
bertanyalah Umu Sulaim. “Suamiku sayang.
Bagaimana pendapatmu, jika ada orang
menitipkan barang ke kita, ketika sudah tiba
waktunya dia meminta barangnya untuk
dikembalikan ?”
“Tentu harus di kembalikan,” kata suaminya.
“Tidak boleh marah?” desak istrinya.
“Ya,” jawab suaminya tegas.
“Anak kita sudah diambil pemiliknya….”
Abu Tholhah tampak sangat marah karena tidak
diberi tahu sejak awal. Abu Thahlah mengadukan
masalah ini kepada Nabi Muhammad Sollalahu
Allaihi Wassalam.
Yang telah dilakukan oleh
Umu sulaim atas
prasangkanya baiknya pada Allah telah terbukti.
Keikhlasannya pun terjawab. Nabi Muhammad
Sollalahu Allaihi Wassalam membenarkan
tindakan istri Tholah. Beliaupun lantas mendoakan
agar apa yang telah dilakukan suami istri di
malam itu menjadi berkah, dan akan
menghasilkan seorang anak sebagai pengobat
hati keduanya. Sembilan bulan berikutnya, anak
mereka lahir, dan diberi nama Abdullah.

Sungguh...Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.

Dan kehilangan pun pernah menimpa Nabi
Ayyub A.S.. Beliau kehilangan kekayaan,dan
orang orang yang disayanginya.Tidak hanya
sampai disana, Beliau pun menderita penyakit
yang menggorogoti seluruh tubuhnya. Sampai-
sampai ia berdo ’a, “Ya Allah, penyakit ini boleh
jadi menggerogoti seluruh tubuhku. Tapi ya
Rabb, jangan sampai penyakit ini juga
menggeroti hati dan lisanku, sehingga aku masih
mampu berzikir kepada-Mu. ”

Subhanallah...
Begitulah ketabahan Nabi Ayyub. Beliau ikhlas atas
kehilangan kesehatan dan penyakit yang dititipkan
yang bahkan semua orang jijik melihatnya.
Dan buah kesabaran dan keikhlasan selalu akan
membahagiakan. Pada akhirnya Allah
mengembalikan kembali semua kehilangan yang
dialami Ayyub.
Maka bersabarlah ketika ujian cinta kepada Allah
atas nama kehilangan itu datang. Bahwa semakin
besar cinta, semakin berat pulalah ujian cinta itu.
Dan, setelah ujian itu berakhir, maka akan terbukti
sudah iman dan cinta kita. Ketika semua telah
dikembalikan atau digantikan dengan yang lebih
baik,insyaallah semua akan terasa lebih nikmat
Sungguh, Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.

Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.
Seiring dengan kehilangan yang diwakilkan oleh
kata ‘musibah’, maka dengan prasangka baik
pada Allah, sebuah kata itu berganti manis
dengan sebutan ‘rahmat’.
Atau, Ketika Teguran Allah yang unik untuk
mengingatkan hambanya atas kesalahan atau
maksiat, dengan sebuah kehilangan, maka teriring
dengan prasangka baik pada Allah..kesemua itu
akan berubah dengan sangat menyejukkan,
menjadi ‘ampunan’.
kehilangan adalah sebuah proses mendapatkan
dan begitu pula sebaliknya, mendapatkan adalah
bagian dari kehilangan.
proses ini mengajarkan kita agar tidak tamak pada
realitas
dan menyadari hakikat diri sebagai manusia yang
memiliki titik nadir pada suatu masanya.
Kehilangan adalah sebuah proses yang harus
dilalui dalam perguliran kehidupan.

Memang,
sesungguhnya apapun yang ada dalam
kehidupan kita di dunia ini, tiada yang abadi
Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.
Innalillahi wa innailaihi rojiun
(syahidah)

Rincian Harga Kasih Sayang Seorang Ibu

Rincian Harga Kasih Sayang Seorang Ibu

Seorang anak
yang kaya lagi sukses menjenguk
ibunya yang terbaring di rumah sakit. Sudah
sebulan lamanya sang ibu bergelut dengan
penyakit yang nyaris merenggut nyawanya.
Alhamdulillah, tepat keesokan harinya sang ibu
telah diijinkan pulang oleh dokter.

Dengan segera, si anak mengantar ibunya
kembali ke rumah. Ketika sampai di rumah, dan
melihat ibunya terbaring, tiba tiba si anak
mengeluarkan lembaran lembaran kertas untuk
diberikan kepada ibunya. Isinya adalah tagihan
uang selama perawatan di rumah sakit.
1. Obat: Rp. 12.500.000
2. Kamar rumah sakit: Rp. 8.000.000
3. Uang Lelah menjenguk: Rp. 4.000.000
4. Uang Jaga malam di rumah sakit: Rp.
3.000.000
5. Uang untuk Merawat ibu selama sebulan :Rp.
5.000.000
6. Kerugian karena harus meninggalkan meeting:
Rp 4.500.000
4. Bensin untuk perjalanan: Rp. 1.000.000
5. Lain lain: Rp. 10.000.000
Tak lupa, dipojok kiri bawah tertulis "Bisa dilunasi
kontan atau dicicil"
Sang ibu tersenyum kepada anak kesayangannya
tersebut. Beliau lalu mengambil sebuah map dan
menyerahkan kepada anaknya.

Si anak yang tidak mau waktunya terbuang,
segera meluncur meninggalkan rumah ibunya.
Beberapa jam setelah itu,ponselnya berdering dan
seorang kerabatnya mengabarkan kalau penyakit
ibunya kambuh. Si anak terdiam tidak perduli,
jadwal kerjanya masihlah sangat banyak dikantor,
dan itu yang harus diutamakan, pikirnya.

Sebentar kemudian, dia teringat untuk membuka
dan mengetahui isi dari sebuah map yang telah
diberikan ibunya hari itu. Ternyata berisi sebuah
sertifikat rumah, tanah, dan lain lain milik ibunya.

Belum sempat dia menyelesaikan membaca, tiba
tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini kerabatnya
memberitahukan bahwa sang ibu telah
meninggal dunia.

Si anak masih terdiam, sampai dia melihat secarik
kertas kecil yang jatuh diantara beberapa surat
yang digenggamnya...
Sebuah surat terakhir dari ibunya yang berisi...
" Terimakasih atas semua yang telah kau berikan
pada ibu, anakku sayang. Kau punya rincian,
ibupun akan demikian. Namun ibu merasa
kurang bisa mengisi berapa harga yang pas
untuk rincian ini.
1. Biaya pembelian nutrisi untukmu selama kau di
dalam kandungan: Rp....
2. Biaya bersalin ibu untukmu ditambah biaya
kesakitan melahirkanmu : Rp....
3. Biaya merawatmu setiap malam: Rp...
4. Biaya Air susu ibu:Rp....
5. Biaya sekolah, makan, tempat tinggal untukmu:
Rp. ..
6. Biaya mendidikmu hingga kau dewasa dan
sukses :Rp...
7. Biaya Mengasihimu selama 30 tahun: Rp....
8. Biaya Mendoakanmu: Rp....
9. Lain- lain: Rp....
Ah ibu bercanda anakku...
Ibu serahkan semua ini sebagai warisan
untukmu. Maap ibu tidak bisa memberimu lebih
banyak. Maafkan ibu."

Tangis penyesalanpun akhirnya memenuhi
ruangan itu...
(syahidah)

Setelah membaca kisah ini saya berfikir ternyata kasih sayang ibu tiada ternilai harganya love u bunda...

Pemenang Sejati...itu Pilihan terbaik

Menjadi Bahagia Dan Pemenang Sejati.. Itu
Pilihan Terbaik

Hidup adalah tentang pergulatan dan
pilihan ..senang dan sedih. Dua hal itu pasti akan
datang bagai sebuah keniscayaan.

Manusia
sebagai pelaku kehidupan selalu dihadapkan pada
sebuah kenyataan yang tidak selalunya indah, dan
selaras dengan sederet jurnal rencana awal.

Suatu
ketika, Allah menyayangi kita dengan
memberikan cobaan. Bukan sebagai sebuah
hukuman, hanya sebuah seni untuk
meningkatkan kualitas kedewasaan dan iman.

Sebagai manusia yang wajar dengan segala
kemanusiawiannya, air mata kadang ikut datang
dengan tanpa direncana.
Tapi..
Bukankah semua orang juga pasti pernah pernah
diberi cobaan. Dan cerita akhir dari episodenya,
hanyalah tergantung pada bagaimana mereka
menyikapi cobaan itu?.

Ada orang yang tetap bertahan, dan memilih
tidak mau mengalah dan menyerah pada
keadaan. Mereka memilih untuk tetap tegar dan
belajar, belajar mengambil hikmah, belajar
berdamai dengan kenyataan, belajar
berkompromi dengan diri sendiri untuk selalu
kuat menghadapi. Allah itu Maha penyayang...
adalah sekelumit prasangka baik yang tetap dijaga
dalam hati- hati para pejuang keadaan ini,
walaupun kesedihan terasa sangat mendalam.

Disisi lain..
Lihatlah, pada para penyerah situasi. Dengan
sangat mudah mereka menenggelamkan diri
pada kesedihan yang tengah membelit mereka.
Dengan sangat profesional malah, mereka
mendramatisir dan menganggap bahwa
merekalah yang paling sengsara. Sebagai
tumpahan kekesalan, ...tanpa ampun, sebagian
mereka menghujat bahwa Allah itu kejam.

Kebahagiaan dan kesedihan hanyalah bagai
bumbu kehidupan. berusahalah untuk tidak salah
memilih dan menyikapinya. Satu hal yang harus
kita ingat, jangan sampai kesibukan kita dalam
mencari dan menikmati kebahagiaan dunia
membuat kita lalai dari tujuan penciptaan kita
yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah,
dan atau pergulatan dalam kesedihan dan
kesusahan dunia membuat kita putus asa dalam
beribadah kepadaNya.

Selama hidup ini, ternyata banyak hal bisa yang
bisa membuat kita bahagia. Tapi lebih banyak hal
yg bisa membuat kita sedih. Peringan langkah
dan pikiran anda untuk tetap fokus pada hal hal
yang membahagiakan.
Berusahalah bangkit,
melawan kesedihan, dan bergelar pemenang dan
pejuang sejati...
Dengan berbekal Akses positif selalu pada Allah,
maka channel kebahagiaan bisa kita ciptakan
dalam situasi sesulit apapun. Dan Menjadi bahagia
adalah pilihan terbaik untuk menghabiskan umur
kita yang terbatas ini.

Keep Smile and Be Positive..
(syahidah)

Perhiasan Jiwa Itu Bernama KEJUJURAN

Perhiasan Jiwa Itu Bernama Kejujuran
Adakah bahasa yang lebih sederhana dan sangat
mudah dimengerti selain sebuah kejujuran?.
Namun sebagian manusia diluar sana
mengatakan, kejujuran terkadang menyakitkan..
ya tentu akan sangat menyakitkan.. yaitu bagi hati
dan diri manusia yang melupakan dan
meremehkannya. Kejujuran hanyalah bersahabat
dengan kebaikan, dan kebaikan akan selalu
membawa kebahagiaan dan keuntungan.
Belajar dari kisah Ka’ab bin Malik. Seorang
mujahid yang berjuang di jalan Allah dengan
pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki
kejujuran
setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang
menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya
dengan selalu menggenggam kejujuran.
Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat
absennya dalam perang tabuk. Ketika Rasulullah,
kembali dari peperangan, orang-orang yang
absen
segera menemui Beliau, untuk menyampaikan
alasan-alasan mereka. Sempat terbesit dalam
benaknya untuk mengatakan alasan dusta kepada
Rasulullah SAW, agar selamat dari kemarahan.
Namun diurungkan niat itu dan perkataan
jujurpun terucap apa adanya.
Beliau berucap salam ketika menemui Rasulullah
SAW.
Rasulullah SAW berkata,"Kemarilah!"
Beliaupun mendekat dan duduk di hadapannya.
Selanjutnya Rasulullah bertanya "Apa yang
menahanmu? Bukankah engkau
telah mempertaruhkan punggungmu?"
Ka’ab bin Malik menjawab,"Benar, wahai
Rasulullah. Demi Allah, seandainya
saat ini aku duduk di hadapan orang selain
engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi
yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan.
Namun aku sungguh mengetahui, seandainya
hari ini aku berdusta supaya engkau
memaklumiku, niscaya Allah yang akan
memberitahukan kepada engkau. Aku
mengatakan alasan yang sebenarnya dengan
jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap
ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah,
aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku
berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang
bersamamu."
Rasulullah SAW berkata,”Laki-laki ini telah berkata
jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan
perkaramu," Ka’ab bin Malikpun berdiri dan
meninggalkan Rasulullah SAW.
Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat
berbicara dengannya. Ka'ab bin Malik menguatkan
hatinya untuk menemui orang-orang, seraya
berharap akan ada seseorang yang menyapanya.
Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara.
Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian
berat Dirasakannya. Bahkan ketika menemui Abu
Qatadah, sepupu dan orang yang sangat dicintai,
dia tidak menjawab salamnya.
Ka’ab bin Malik berkata dengan nada sedih pada
sepupunya itu, "Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah,
bukankah engkau mengetahui bahwa aku
mencintai Allah dan RasulNya?"
Abu Qatadah hanya terdiam dan tidak
menanggapi perkataannya sama sekali. Ka’ab bin
Malik mengulangi kata-kata itu berkali-kali, sampai
akhirnya Abu qatadah berujar: "Allah dan
RasulNya yang lebih mengetahui".
Seketika Air mata Ka’ab bin Malik pun meleleh
tiada tertahan lagi.
Cobaan pun belum berhenti baginya, sehelai surat
dari Raja Ghassan telah sampai padanya. Tertulis
dalam surat itu: "Telah sampai berita kepadaku,
bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu.
Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang
terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan
kami, maka kami akan menolongmu".
Ka’ab bin Malik hanya menjawab, "lni cobaan
untukku," lalu surat itu dilemparnya ke dalam
tungku api.
Hingga tibalah suatu pagi selepas shalat shubuh,
tiba tiba Ka’ab bin Malik mendengar seseorang
berteriak: "Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!"
Rasulullah telah mengumumkan kepada para
sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah
menerima taubatmu."
Orang-orang berbondong-bondong
menemuinya. kebahagiaan pun mendekatinya.
Sampai sampai Ka’ab bin Malik memberikan dua
baju yang dikenakan kepada laki-laki yang datang
membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu,
Ka’ab bin Malik tidak memiliki baju selain kedua
baju itu. Oleh karena itu, segera dipinjamnya baju
dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.
Kekasih Allah itu berkata: "Berbahagialah dengan
hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu
melahirkanmu". "Pengampunan untukmu telah
datang langsung dari sisi Allah."
Ka’ab bin Malik berkata "Dan sungguh Allah telah
menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena
kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku
tidak akan berbicara kecuali dengan jujur".
Betapa banyak orang yang tengah sakit dalam
penyakit pergulatan batinnya sendiri. Padahal,
jalan keluar sudah sangat jelas membentang
didepan mata. Tegas mengakhiri ketidakjujuran.
Ini adalah bukti dari sebuah keberanian jiwa dari
seorang pribadi yang berani. [syahidah]

Sepucuk Surat CintaBuat Suami

Kuuntai kalimatku dengan goresan pena ini,
untukmu, suamiku yang kucintai, semoga
engkau lebih berbahagia.
Membaca suratmu, wahai suamiku,
menjadikan aku ingat masa lalu. Aku
merasakan makna kalimat-kalimatmu
sebagaimana aku rasakan tatkala engkau
sampaikan kalimat-kalimat itu saat kita baru
memulai hidup bersama dahulu. Kini,
setelah semua berlalu, dan setelah aku
hampir terlupa akan kalimat-kalimat itu,
engkau goreskan kalimat itu untuk kedua
kalinya. Kusampaikan jazakallohu khoiran,
Suamiku, atas kebaikanmu, dan atas
perhatianmu kepadaku, isterimu.
Suamiku yang kucinta …
Mungkin engkau telah begitu sering
mendengar kata-kata permintaanku.
Namun, aku berharap engkau takkan jemu
menanggapinya. Saat ini pun, aku katakan
padamu, wahai suamiku, bantulah aku
menjadi sebaik-baik perhiasan duniamu.
Bantulah aku menjadi salah satu dari
keempat kebahagiaan hidupmu. Bila
engkau meminta agar aku membantumu
untuk memperbaiki akhlak dan
pergaulanmu kepadaku, maka lebih dari
itu, aku begitu berharap engkaulah orang
yang akan mengantarkanku ke taman
akhlak yang mulia bersamamu.
Suamiku, jika engkau bersungguh-
sungguh mengatakan kepadaku apa yang
engkau goreskan itu, maka lebih dari itu,
aku pun berharap engkau lebih
bersungguh-sungguh membimbing,
mengayomi, dan menyertakanku dalam
seluruh kebaikanmu. Aku ingat nasihat
emas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
meski itu lebih tepat disebut peringatan.
Peringatan bagiku sebagai seorang isteri,
yang tentunya perlu engkau tahu, meski
aku kira engkau pun telah mengetahuinya.
Aku ingat saat beliau shalallahu ‘alaihi
wasallam memperingatkan seorang wanita
sebagai isteri sepertiku dengan sabdanya
shalallahu ‘alaihi wasallam,
“Maka perhatikanlah, wahai si isteri,
bagaimana kalian mempergauli suamimu.
Sesungguhnya ia adalah syurga atau
nerakamu. ” [HR. Ahmad 4/341 dan 6/419,
dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam
Shohihul Jami' 1509 dan ash-Shohihah
6/220.]
Begitu jelasnya makna nasihat beliau itu,
dan begitu tegasnya pernyataan beliau
shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan goresan
pena kita ini, semoga engkau tahu, wahai
suamiku, bahawa aku begitu sangat
berharap syurga dan tidak ingin terjebak ke
neraka sementara aku punya engkau,
suamiku. Aku tahu engkau bererti syurga,
juga bererti neraka bagiku. Namun, aku
berharap engkau mau mengerti bahawa
aku tidak menginginkan neraka. Engkau
pun pasti juga begitu. Maka, bantulah aku,
suamiku.
Suamiku, tentunya engkau tahu bahawa
jalan menuju syurga tidaklah mudah.
Namun aku berharap jalan itu akan
dipermudah bagiku. Aku berharap jalan
syurgaku akan dengan mudah kutelusuri
bersamaan dengan tetap adanya aku di
sisimu. Apakah engkau memahami
maksudku, suamiku? Aku hanya ingin
mengatakan satu pintaku: buatlah aku
mampu melakukan apa pun yang
membuatmu redha kepadaku, sebab
dengan begitu Allah pun akan meredhaiku.
Sebaliknya, belokkanlah langkahku bila aku
melakukan sesuatu yang membuat Allah
memurkaiku sehingga engkau pun murka
kepadaku. Kerana kau tahu aku begitu
lemah untuk menunaikan seluruh hak-
hakmu. Bahkan tiada mungkin aku
menunaikan seluruhnya sebab begitu
agung dan tak terhingga hak-hakmu.
Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam telah menegaskan:
“ Hak seorang suami yang harus ditunaikan
oleh isteri itu (nilainya begitu besar),
sehingga seandainya suami terluka
bernanah di badannya, lalu isterinya
menjilatinya pun belum dinilai ia telah
menunaikan haknya. ” [HR. Hakim dalam al-
Mustadrok 2717 dan beliau mengatakan
hadits ini sanadnya shohih, dishohihkan
oleh Syaikh al-Albani dalam Shohihul Jami'
3148]
Rasanya, sangatlah berat bagiku untuk
meraih syurga itu. Mengingat betapa untuk
menunaikan hak-hakmu saja begitu berat
bebannya kurasa.Maka, aku hanya ingin
engkau menunaikan sebagian saja dari
hak-hakku agar aku mampu menunaikan
hak-hakmu dengan seimbang. Semoga
engkau mengerti ini, dan semoga engkau
sudi menerimanya, isterimu yang lemah
ini. Kerana aku tahu, seperti engkau juga
telah tahu, bahawa Allah Ta ’ala tidak
mewajibkan kepadamu selain sebagian
hak-hakku semata. Bukan seluruh hak-
hakku harus engkau tunaikan sehingga
betapa akan semakin berat kiranya aku
menunaikan hak-hakmu.
Suamiku, sejujurnya aku katakan bahawa
kebahagiaan rumahku adalah tanggung
jawabku. Menyambutmu dengan
senyuman adalah rutin keseharianku.
Ketenanganmu begitu membahagiakanku.
Aku sangat suka kejayaanmu meski hanya
dengan sedikit bantuanku. Saat kutahu apa
maumu, begitu ringan hidupku. Semuanya
kulakukan kerana aku merasa seandainya
aku tidak melakukannya, hak-hakmu yang
mana lagi kiranya yang kuasa kutunaikan.
Maka pintaku, bantulah aku, suamiku.
Suamiku, aku tahu, sebagaimana engkau
pun tahu, solat adalah sebuah kunci syurga
bagiku. Maka bantulah aku, suamiku,
sebagaimana aku biasa membantumu
untuk mampu bersama-sama
menunaikannya dengan baik dan diterima
oleh-Nya Ta ’ala.
Aku pun tahu, sebagaimana engkau juga
tahu, puasa Romadhan adalah satu kunci
syurga yang lain bagiku. Maka bantulah
aku, suamiku, sebagaimana aku biasa
membantumu untuk mampu bersama-
sama menunaikannya dengan baik, dan
semoga ibadah kita diterima oleh-Nya.
Aku tahu sebagaimana engkau juga tahu,
bahawa ragaku ini, diriku ini, hanya halal
buatmu seorang. Maka pintaku, berilah aku
sesuatu yang halal yang mampu kunikmati
sebagai nafkah lahir dan batinku. Bantulah
aku berlaku pintar menunaikan hakmu,
sebagaimana aku akan berusaha
menjadikanmu pandai berbaik-baik
kepadaku. Dengan begitu, aku berharap
agar kita berkesempatan bersama
menggapai redha-Nya.
Aku juga tahu, sebagaimana engkau juga
telah tahu bahawa menaati perintah dan
ajakanmu melakukan apa pun yang Allah
redhai adalah salah satu kunci syurga yang
lain bagiku. Maka pintaku, bila aku tidak
kuasa melakukannya, janganlah engkau
murkai kekuranganku tapi perintahlah aku
dengan sesuatu yang lain yang aku kuasai
melakukannya. Dan bila aku telah kuasa
melakukan apa yang engkau perintahkan,
dan aku telah memenuhi ajakanmu,
janganlah lupakan Dzat Yang Maha Kuasa
di atas sana.
Bersyukurlah kepada-Nya sebelum kau
ucapkan kata terima kasihmu padaku.
Dengan begitu, aku berharap redhaNya
dan juga redhamu. Kerana aku berharap
syurga-Nya. Semoga engkau memahami
ini, suamiku.
Seandainya ada tinta emas dalam pena kita
ini, tentu aku akan tuliskan sabda Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai syi’ar
yang lebih bererti bagiku, dan semoga
akan selalu kita baca dan kita tunaikan
bersama. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam
pernah bersabda,
“ Jika seorang isteri telah baik shalat lima
waktunya, telah baik puasa
(ramadhannya), telah baik dalam menjaga
kemaluannya, telah baik ketaatannya
kepada suaminya, maka dikatakan
kepadanya: “Masuklah kamu ke dalam
surga dari pintu mana pun yang kau suka”.
[HR. Ahmad 1573, dishohihkan oleh Syaikh
al-Albani dalam Shohihul Jami' 660]
Suamiku, jujur aku katakan, bukan aku
belum pernah mendapati bantuanmu.
Bukan. Bukan aku belum pernah
mendapati engkau penuhi pintaku. Bukan.
Namun aku bersyukur kepada Allah Ta ’ala,
selanjutnya kepadamu, atas semua yang
telah engkau berikan sebagai kemudahan
bagiku menuju redha-Nya dan redhamu.
Aku hanya berharap menjadi isterimu
yang akan menyenangkanmu di dunia
juga di akhiratmu. Bantulah aku, semoga
Allah memberkahi kehidupan rumah
tangga kita.
Dari yang mencintaimu,
Isterimu.
www.shalihah.com
Dinukil dari Majalah al-Mawaddah, Edisi
ke-7 Tahun ke-2 :: Shofar 1430H :: Februari
2009