Monday, December 20, 2010

Tawakkal

Biismillahir rohmaanir rohiim..
Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam
bersandar kepada Allah Ta ’ala untuk
mendapatkan kemaslahatan serta mencegah
bahaya, baik menyangkut urusan dunia
maupun akhirat. Allah Ta ’ala berfirman yang
artinya, “Dan barangsiapa bertaqwa kepada
Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan
keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada
ia sangka-sangka, dan barangsiapa
bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup
baginya. ” (Ath Tholaq: 2-3)
Makna Bertawakkal Kepada Allah
Banyak di antara para ulama yang telah
menjelaskan makna Tawakkal, diantaranya
adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau
mengatakan, “Tawakkal adalah menampakkan
kelemahan serta penyandaran (diri) kepada
yang diTawakkali. ” (Faidhul Qadir, 5/311).
Ibnu ‘Abbas radhiyAllahu’anhuma mengatakan
bahwa Tawakkal bermakna percaya
sepenuhnya kepada Allah Ta ’ala. Imam
Ahmad mengatakan, “Tawakkal berarti
memutuskan pencarian disertai keputus-asaan
terhadap makhluk. ” Al Hasan Al Bashri pernah
ditanya tentang Tawakkal, maka beliau
menjawab, “Ridho kepada Allah Ta’ala”, Ibnu
Rojab Al Hanbali mengatakan, “Tawakkal
adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya
kepada Allah Ta ’ala dalam memperoleh
kemashlahatan dan menolak bahaya, baik
urusan dunia maupun akhirat secara
keseluruhan. ” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani
mengatakan, “Tawakkal yaitu memalingkan
pandangan dari berbagai sebab setelah sebab
disiapkan. ”
Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari
Kerusakan
Ibnul Qayyim berkata, “Tawakkal adalah faktor
paling utama yang bisa mempertahankan
seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari
serangan makhluk lainnya yang menindas
serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana
yang paling ampuh untuk menghadapi
keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan
Allah sebagai pelindungnya atau yang
memberinya kecukupan. Maka barang siapa
yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya
serta yang memberinya kecukupan, maka
musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan
bahaya padanya. ” (Bada’i Al-Fawa’id 2/268)
Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata,
Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab
shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas
rodhiyAllahu anhuma, bahwa ketika Nabi
Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api
yang membara beliau mengatakan,
“HasbunAllahu wa ni’mal wakiil.” (Cukuplah
Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah
yang diungkapkan oleh Rosululloh ShollAllahu
‘ alaihi wa sallam ketika dikatakan kepada beliau,
Sesungguhnya orang-orang musyrik telah
berencana untuk memerangimu, maka
waspadalah engkau terhadap mereka. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab
Tafsir.Lihat Fathul Bari VIII/77)
Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang
diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia
dilemparkan ke tengah bara api adalah:
‘ Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan
Allah sebaik-baik pelindung’.”
(HR. Bukhori)
Bertawakkal Kepada Allah Adalah Kunci Rizki
Rosululloh ShallAllahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sungguh, seandainya kalian
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-
benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki
sebagaimana burung-burung. Mereka
berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan
pulang sore hari dalam keadaan
kenyang. ” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu
Majah, Al-Hakim)
Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh
menjelaskan bahwa orang yang bertawakkal
kepada Allah dengan sebenar-benarnya,
pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak,
karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang
Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu
Hatim Ar Razy berkata, “Hadist ini merupakan
tonggak tawakkal. Tawakkal kepada Allah itulah
faktor terbesar dalam mencari riqzi. ” Karena
itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya,
niscaya Allah Subhanahu Wa Ta ’ala akan
mencukupinya. Allah berfirman yang artinya,
“ Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya).
Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (Ath-Thalaq:
3).
Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat
tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala
sesuatu yang membuat sempit manusia.”
Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha
Mewujudkan Tawakkal bukan berarti
meniadakan usaha. Allah memerintahkan
hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus
bertawakkal. Berusaha dengan seluruh
anggota badan dan bertawakkal dengan hati
merupakan perwujudan iman kepada Allah
Ta’ala.
Sebagian orang mungkin ada yang berkata,
“ Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu
akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah,
berusaha dan mencari penghidupan.
Bukankah kita cukup duduk-duduk dan
bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari
langit ?” Perkataan itu sungguh menunjukkan
kebodohan orang itu tentang hakikat Tawakkal.
Nabi kita yang mulia telah menyerupakan
orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu
dengan burung yang pergi di pagi hari untuk
mencari rizki dan pulang pada sore hari,
padahal burung itu tidak memiliki sandaran
apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik
atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal
tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa sebagai
tempat bergantung.
Para ulama -semoga Allah membalas mereka
dengan sebaik-baik kebaikan- telah
memperingatkan masalah ini. Di antaranya
adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “Dalam
hadits tersebut tidak ada isyarat yang
membolehkan meninggalkan usaha,
sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang
menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi
maksud hadits tersebut, bahwa seandainya
mereka bertawakkal kepada Allah dalam
bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan
mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu
di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang
kecuali dalam keadaan mendapatkan harta
dengan selamat, sebagaimana burung-burung
tersebut. ” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang
laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di
masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja
sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”.
Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki
yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi
ShollAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku
dalam bayang-bayang tombak perangku
(baca: ghonimah )’. Dan beliau juga bersabda,
‘Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah
memberimu rizki sebagaimana yang
diberikanNya kepada burung-burung. Mereka
berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan
pulang sore hari dalam keadaan
kenyang. ’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi).
Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para
sahabat juga berdagang dan bekerja dengan
mengelola pohon kurmanya. Dan mereka
itulah teladan kita. ” (Fathul Bari, 11/305-306)
Kalau kita mau merenungi maka dapat kita
katakan bahwa pengaruh tawakkal itu tampak
dalam gerak dan usaha seseorang ketika
bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan,
“ Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu
letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah
maka hal itu tidak bertentangan dengan
tawakkal yang ada di dalam hati setelah
seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya
dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu
adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat
kemudahan maka hal itu karena kemudahan
dariNya. ” (Murqatul Mafatih, 5/157)
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal
kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan
usaha adalah sebuah hadits. Seseorang
berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa
sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku
bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah
kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR.
Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam
Shohih Jami ’ush Shoghir). Dalam riwayat
Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin
Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku
bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat
dahulu unta tungganganku lalu aku
berTawakkal kepada Allah, ataukah aku
lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’,
Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu
bertawakkallah kepada Allah.” (Musnad Asy-
Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633,
1/368)
Tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha.
Hendaknya setiap muslim bersungguh-
sungguh dan berusaha untuk mendapatkan
penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh
menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras
dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa
segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa
rizki itu hanyalah dari Dia semata.Wallah
taufiq ..Semoga bermanfaat ...
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu
ilaika....

No comments:

Post a Comment