Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para
wanita yang
bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan
tubuhnya
didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar
dan bekerja
diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama
lelaki
sebagaimana salah seorang mereka bekerja
bersama salah
seorang keluarganya yang mahram, mengendarai
mobil dan
bersafar bersamanya
Setiap insan pernah merasakan cemburu, namun
adakah rasa
cemburu tatkala melihat kemaksiatan ? Kini kita lihat
bagaimana
fenomena yang ada bila rasa cemburu telah hilang.
Betapa banyak orang yang mengaku dirinya
memiliki rasa
cemburu, namun justru menanggalkan pakaian
malu dengan
melakukan perbuatan-perbuatan haram atau
membiarkan
kemaksiatan. Padahal Rasulullah Shalallahu ’alaihi
Wassallam telah
mewasiatkan kepada umatnya agar memiliki akhlak
Al-Ghoiroh
(cemburu).
Beliau telah menerangkan kedudukan akhlak yang
utama ini dalam
sabdanya (yang artinya) :
“ Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala
cemburu dan
cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa
yang Allah
haramkan atasnya. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan
bahwa Allah
memiliki sifat cemburu bila dilanggar keharaman-
keharamannya
dan dilampaui batasan¬-batasannya, dan siapa yang
telah
melanggar apa yang Allah haramkan berarti telah
(berani)
melewati sebuah pagar yang besar.
Akhlak AI-Ghoiroh ini begitu menghujam dalam hati
para sahabat,
karena perhatian dan kesungguhan mereka dalam
mengikuti
wasiat Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassallam. Sa’ad
bin Ubadah
Radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama
istriku niscaya
aku akan memukulnya dengan pedang sebagai
sangsinya. Nabi
Shalallahu ’alaihi Wassallam bersabda, “Apakah
kalian takjub
dengan cemburunya Sa’ad, sesungguhnya aku lebih
cemburu
darinya dan Allah lebih cemburu dari padaku”. (HR.
Al Bukhari).
Akhlak ini juga berpengaruh dalam diri Aisyah
Radhiyallahu ‘anha
tatkala ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah
Shalallahu’alaihi
Wassallam bersabda :”Manusia akan dikumpulkan
pada hari
kiamat dalam keadaan tidak bersandal, telanjang dan
belum
berkhitan ”. Aku berkata, “Perempuan dan laki-laki
berkumpul,
(berarti) sebagian mereka akan melihat sebagian
yang lain ?!” Nabi
Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, “Wahai
Aisyah ! Urusan saat
itu lebih mengerikan dari pada mereka saling
melihat ”. (HR. Al
Bukhari).
Karena rasa cemburulah Aisyah Radhiyallahu ‘anha
belum berfikir
tentang ketakutan yang terjadi pada hari itu.
Demikian pula Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika diutus
kesuatu negeri
beliau berkata kepada penduduknya : “Aku telah
mendengar
bahwa wanita-wanita kalian akan mendekati orang-
orang kafir
azam di pasar-pasar, tidakkah kalian cemburu,
sesungguhnya
tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki
rasa cemburu.”
Begitulah Al-Ghoiroh yang besar dalam diri para
sahabat dan
akhlak ini akan tetap berpengaruh pada diri orang-
orang yang
berpegang teguh dengan atsar salaf dan mengikuti
jalan mereka.
Sebaliknya, al-ghoiroh hanya sekedar menjadi
pengakuan bagi
orang-orang yang ucapannya menyelisihi
perbuatannya. Mereka
mengaku memiliki rasa cemburu, namun
membiarkan istri dan
anak-anak perempuannya keluar rumah dengan
menampakkan
wajah, lengan, dada dan lekuk- lekuk tubuh,
kemudian menjadi
tontonan gratis para lelaki jalanan.
Suami yang demikian hendaknya memperhatikan
peringatan
Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassallam dalam
sabdanya :
“ Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan
Allah tidak akan
melihat mereka pada hari kiamat, orang yang
durhaka kepada
kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai
laki-laki, dan
dayyuts. ” (HR. Nasa’i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146,
Baihaqi 10 : 226
dan Ahmad 2 : 134).
Dayyuts ditafsirkan hadits-hadits lain, yaitu : Seorang
kepala
rumah tangga yang membiarkan kejelekan atau
kerusakan dalam
rumah tangganya. (Fathul Bari 10 : 401). Dayuts juga
ditafsirkan
oleh ulama : orang yang tidak cemburu terhadap
istrinya.
Karena tiadanya rasa cemburu, akhirnya nampaklah
perbuatan-
perbuatan yang mengotori rasa malu dan
melemahkan muru ’ah
(wibawa) sebagaimana perbuatan wanita-wanita
jahil zaman
sekarang.
Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para
wanita yang
bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan
tubuhnya
didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar
dan bekerja
diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama
lelaki
sebagaimana salah seorang mereka bekerja
bersama salah
seorang keluarganya yang mahram, mengendarai
mobil dan
bersafar bersamanya atau kita lihat juga perginya
seorang wanita
bersama sopir pribadi ke tempat-tempat seperti
pasar, sekolah
dan lain-lain, tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan
sopir tadi dengan
bebasnya keluar masuk rumah sebagaimana
mahramnya tanpa
wanita itu merasa berdosa dan malu pada sopirnya,
dengan dalih
ia hanya seorang sopir.
Betapa banyak terjadi kesalahan dan pelanggaran
kehormatan
dengan sebab mengikuti hawa nafsu dan
kebodohan. Kita lihat
pula perbuatan wanita yang membeli dan melihat
majalah-
majalah cabul dan film hina serta mendengarkan
musik dan lagu.
Atau perbuatan wanita yang menari dalam resepsi
pernikahan dan
berbagai pesta dengan diiringi hiruk-pikuknya suara
musik serta
mengenakan pakaian yang dapat membangkitkan
syahwat.
Lalu, apakah para wanita itu mengetahui apa makna
malu yang
sebenarnya?!!. Ataukah para wali-wali para wanita itu
menyangka
bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki
AI-Ghoiroh
(cemburu) ?!! Sungguh hal itu amat jauh
Oleh karena itu hendaklah kita kembali dan bertaubat
kepada Allah
aza wajalla dan menghisab atas apa yang telah kita
lakukan berupa
kebaikan dan keburukan.
(Disadur dari Kutaib wa Asafa Alal Ghoiroh oleh
Ummu Abdillah)
Buletin Da ’wah Al-Atsari, Cileungsi Edisi XII Syawal
1419/1999
No comments:
Post a Comment