Sunday, December 19, 2010

Surat Cinta dari Istri Cerewet

Teruntuk Suamiku Tercinta,
Maafkan aku, jika lisanku sering menambah
beban dan cobaan dalam hidupmu. Sama sekali
tak ada niatan dalam hatiku untuk memboroskan
kata yang sia-sia, ataupun memberi celah untuk
banyak bicara yang tiada berguna.

Mungkin sempat terbersit di batinmu, ”Kalau ada
kontes cerewet, pasti istriku akan jadi juaranya”,
dan atau karena talenta alamiku itu membuatmu
terganggu.

Tapi yakinlah suamiku, menjadi cerewet bukan
berarti aku adalah seorang ibu yang tidak baik,
tidak pula berarti menjadi ibu yang gagal. Aku
hanya bermaksud melakukan sedikit “perubahan”
untuk kebaikan keluarga kita.

Aku cerewet karena
keadaan yang ”memaksaku” menjadi cerewet.
Aku terkadang harus ”senam mulut” karena
kebandelan anak-anak atau karena niat seriusku
untuk memberikan batasan demi kebaikan
mereka dan engkau.

Kadang aku tidak tertarik
pada bahasa yang ilmiah dan logis yang biasa kau
sampaikan secara detail ketika memecahkan suatu
masalah. Tapi yang aku tahu hanyalah
memberikan perhatian dengan bahasa apa
adanya yang aku mengerti lewat perasaanku.

Aku menyadari tentang pranata jiwa yang ada
dalam pola pikirmu, yang biasa mengungkapkan
masalah dengan teliti dan masuk akal, sehingga
kau jarang sekali menyoal masalah yang
dianggap kecil dan kurang perlu.

Namun
suamiku, tolong pahamilah bahwa bagi
kebanyakan kami para wanita, masalah kecil
ataupun besar tidaklah penting, namun
mengungkap masalah yang dianggap masalah itu
adalah poin pentingnya.

Aku ada untuk
melengkapi yang tak ada dalam dirimu: perasaan,
emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan,
kecantikan, rahim untuk melahirkan, dan
mengurusi hal-hal sepele. Hingga ketika kau tidak
mengerti hal-hal itu, akulah yang akan
menyelesaikan bagiannya.

Suamiku sayang,
Dengan kecerewetanku, aku tak bermaksud suka
mencari kesalahan-kesalahan terhadap segala
sesuatu dan tak mau mengerti tentang banyak
hal. Ini semua karena sistem jiwaku sebagai
seorang wanita yang sangat peka dengan banyak
hal. Kepekaan hati tentang kepentingan keluarga
kita. Sebuah kepekaan hati yang memang telah
dan sedang terbangun dalam jiwaku sebagai
wanita.

….Cerewet ini bukan berarti aku
membencimu dan keluarga kita, namun
sebaliknya terkadang itu menunjukkan
perhatian dan kecintaanku yang lebih ….

Cerewet ini bukan berarti aku membencimu dan
keluarga kita, namun sebaliknya terkadang itu
menunjukkan perhatian dan kecintaanku yang
lebih. Karena itu, kumohon tetaplah menjadi
suami yang bijaksana dan pendengar yang baik,
karena sebenarnya inti dari semua itu adalah aku
ingin dipahami sebagai wanita.

Jika engkau dituntut konsekuen dengan tanggung
jawab sebagai kepala rumah tangga, maka aku
pun dituntut untuk konsekuen menjadi seorang
istri yang baik dan bijaksana.

Namun karena
kekuranganku sebagai wanita, aku banyak
mengungkapkan kata yang kurang
menyenangkanmu.

Suamiku yang bijak,
Pernahkah kau mendengar “Jika lelaki berpikir
tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari
hidupnya, tetapi jika perempuan berpikir tentang
perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh
hidupnya.” Karena itu pula ku sampaikan
permintaan maafku karena besarnya niatku untuk
selalu membahagiakan anak anak dan terutama
engkau, walaupun dengan hal yang mungkin
kurang enak yang bernama kecerewetan.

Semoga Allah memaafkan kesalahanku dan
menjadikan pribadi yang lebih baik dan
mendamaikan hati dalam mendampingimu.

[Syahidah]

No comments:

Post a Comment