Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam
kehidupan seringkali menjadikan manusia
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
nilai dan norma yang di anut.
Terkadang,
ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di
dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi
orang-orang yang sadar dan mencukupkan
dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.
Kita bisa menyaksikan, bagaimana kesudahan
orang-orang terkenal dalam beberapa bidang
kehidupan, yang jelas-jelas terpenuhi secara
materi, dimana hartanya berlimpah, memiliki
anak-anak yang sehat dan lucu, keluarga yang
sejahtera serta hampir tak pernah susah untuk
mendapatkan apa yang menjadi keinginan
dalam hidup, namun masih saja terlibat
banyak kasus-kasus kejahatan yang akhirnya
menghantarkan diri mereka masuk ke dalam
penjara sebagai akibat pelanggaran hukum.
Sungguh, diri kita tidak akan merasa puas jika
masih saja melihat ke kiri dan ke kanan dan
selalu saja terpancing untuk membanding-
bandingkan sesuatu yang kita peroleh dengan
apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di
halaman rumah kita terbentang rumput yang
hijau, namun kita masih saja memandang
bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.
Berbeda jika kita mampu melihat segala
kelebihan yang terdapat pada diri seseorang
sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita
terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik
dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam
hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan,
dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa
usaha yang nyata, tanpa harus kecewa
dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat
dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang
diperoleh oleh orang lain tersebut.
Perjalanan hidup terus berlanjut dan
seharusnya diri kita ikut merasa gembira, di
saat orang-orang memperoleh kenikmatan
tanpa membuat hati kita menjadi dengki atas
segala kelebihan yang telah diterima oleh
orang lain. Tak ada hal yang perlu kita
banggakan atas segala perolehan seperti
pangkat, jabatan serta harta kekayaan, karena
pada dasarnya semua itu merupakan titipan-
Nya. Dan tak ada satu hal pun yang mesti kita
dengkikan dari kenikmatan yang diperoleh
orang lain, karena sesungguhnya, segala
sesuatu telah diatur dan ditetapkan oleh Allah
SWT dengan ukuran-ukuran keadilan-Nya.
Jika
terdapat kesadaran seperti itu, maka kerelaan
diri serta rasa berbaik sangka kepada-Nya akan
senantiasa melingkupi.
Namun terkadang karena keterbatasan ilmu
menjadikan diri kita tak mampu untuk
membacanya dengan baik. Dengan berbaik
sangka kepada-Nya, dan rela serta bersyukur
dengan segala hal dan ketetapan-ketetapan
yang kita terima, merupakan satu hal yang
dapat menyelamatkan diri kita dari bisikan rasa
tidak puas, sifat tamak dan merasa
diberlakukan tidak adil oleh Allah SWT.
Semoga Allah SWT dengan Rahman dan
Rahim-Nya menguatkan dan menetapkan
iman kita untuk terus mengarungi sisa hidup
ini dengan senantiasa tersenyum serta berbaik
sangka kepada-Nya dan sesama makhluk-Nya.
Wallahu a’lam
Sumber:Forum Silaturahmi dan diskusi kehidupan dalam pandangan Islam
No comments:
Post a Comment