Tuesday, December 21, 2010

Indahnya Berbagi dgn Sesama

Bila Anda memiliki segelas
teh, lalu disuruh
memberikannya kepada
orang di sebelah, tinggal
berapa teh yang tersisa
Anda miliki? Tinggal
berapa? Demikian
mudahnya. Kalau memiliki
tiga diberikan satu, tentu
tinggal dua. Kalau
memiliki dua diberikan
satu tentu sisa satu. Kalau
hanya memiliki satu
diberikan satu, ya habis,
tentu saja. Tak bersisa.
Itulah yang sering
terbayang dalam benak
kebanyakan orang.
Hitung- hitungannya
memang begitu. Namun
benarkah demikian itu?
oleh: Ust. Hanif
Hanan
Roda Kehidupan
Ya, demikian keyakinan atau pengalaman
sebagian orang. Bahwa memberikan apa yang
dimiliki faktanya hanya akan membuat
berkurang. Lain dengan investasi bisnis yang bisa
diharap bagi hasilnya. Tapi kalau berbagi kepada
fakir miskin dan yatim piatu, apa mungkin
mereka bisa memberi imbalan hasil? Apa yang
mau ditunggu? Sia- sia saja. Itulah yang
terbayang.
Bayangan demikian itu membuat seseorang
berat berbagi. Meski hartanya banyak, kalau
disuruh bersedekah masih harus hitung-
hitungan dulu. “Ini kan hasil jerih payah saya
sendiri. Untuk apa harus dibagi dengan mereka
yang kekurangan dan menderita? Peduli amat
dengan nasib mereka,” demikian pikirnya.
Benarkah cara pandang hidup demikian itu baik
baginya?
Roda kehidupan terus berputar, kadang di atas
kadang juga di bawah. Kemudahan dan kesulitan
datang silih berganti. Bila keadaan lapang itu
berubah menjadi sempit, siapa pun akan butuh
pertolongan orang lain. Ia berharap ada orang
yang peduli dan mau menolong dirinya.
Tapi bagaimana orang- orang di sekitarnya
memperlakukan seorang yang bakhil itu? Bisa
jadi masih ada yang berfikir, “Ah, untuk apa
menolong orang yang bakhil seperti dia.
Bukankah saat berlebih ia hanya memikirkan diri
sendiri? Biarin saja agar tau rasa.” Si Bakhil
akhirnya benar- benar merasakan kesulitan.
Pintu- pintu tertutup. Ia terbelenggu oleh
kebakhilannya sendiri.
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil
dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan
itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu
adalah buruk bagi mereka. (Ali Imran [3]: 180)
Saat dikaruniai Allah kekayaan lebih,
sesungguhnya merupakan kesempatan seorang
untuk berbagi dengan sesama. Itulah saat yang
tepat menanam kebaikan. Tetapi hawa nafsu dan
syaitan membisikkan manusia untuk lebih
mementingkan diri sendiri dan cinta dunia.
Mereka tidak peduli terhadap kesulitan hidup fakir
miskin, yatim piatu, dan dhuafa. Mereka
menganggap sikap bakhilnya itu akan
membuatnya lebih baik. Padahal pada
kenyataanya itu hanya akan menyempitkan
jiwanya sendiri saja dan berakibat buruk baginya.
Ia telah diperbudak oleh hartanya dan dikucilkan
masyarakatnya.
Lepaskan jiwa dari belenggu dunia. Ingatlah
sesungguhnya harta dan dunia ini adalah
amanah- Nya agar kita berbagi dengan sesama.
Janganlah kita menyumbat aliran rahmat- Nya
dengan sikap tak mau berbagi. Bakhil hanya akan
membelenggu diri. Apalagi saat roda kehidupan
terhenti alias maut menjemput, harta yang telah
menjerat jiwanya di dunia itu juga akan menjerat
pula di akhirat. Naudzubillah.
Harta yang mereka bakhilkan itu akan
dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan
kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di
langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran [3]: 180)
Jaminan Allah
Hitung- hitungan dalam kehidupan itu ternyata
tidak seperti anggapan orang di atas bahwa bila
memberi akan berkurang. Misalnya saat Anda
dan beberapa teman sedang bertamu. Oleh tuan
rumah Anda disuguhi segelas teh. “Tolong Pak,
minumannya diberikan teman sebelah.” Mungkin
ada yang berpikir, “Kalau saya berikan,
bagaimana bagian saya nanti?” Tapi begitu Anda
memberikannya kepada teman sebelah, habiskah
yang kita miliki? Ya, sejenak sepertinya apa yang
kita miliki itu berpindah tangan. Tak bersisa.
Namun tak seberapa lama tuan rumah memberi
lagi. Ternyata dengan memberi bukannya habis
tapi ada lagi pengganti. Saat kita memberikannya
lagi pada teman lain yang belum mendapat
bagian, tuan rumahnya memberinya lagi. Lagi
dan lagi.
Kita hidup di dunia ini juga demikian. Ibaratnya
kita sebagai tamu Allah. Kita lahir dalam keadaan
telanjang dan tak membawa sehelai benang pun.
Kemudian kita bisa hidup karena dicukupi dengan
suguhan berbagai karunia dan rizki- Nya. Cukup
makan, sandang dan papan. Pada saat kita
berlebih, Allah memerintahkan kita bersedekah
dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang
lain yang belum kebagian seperti kita.
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah
beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat,
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami
berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun
terang-terangan sebelum datang hari (kiamat)
yang pada bari itu tidak ada jual beli dan
persahabatan. (QS. Ibrahim [14]: 31)
Bila hamba-Nya itu mau berbagi, akankah Allah
membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia
ini? Sama sekali tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia
akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?
Sesungguhnya kalian akan diberi pertolongan
dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT,
manakala kalian mau menolong dan berpihak,
membantu, serta mau memberikan kepada
orang-orang yang lemah dan menderita dalam
kehidupannya. (Riwayat Muslim).
Saat kita memberi, secara psikis Allah telah
melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia.
Jiwa ini merdeka dari perbudakan harta. Secara
sosial, didekatkan hati-hati sesama saling kasih
sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini.
Andai roda kehidupan sedang berputar ke
bawah, seorang yang suka berbagi pun tak akan
berlarut dalam kesulitan terlalu lama. Sebab
pintu- pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat
berbagai jalan. Buah dari sukanya berbagi itu,
akan mengundang demikian banyak orang yang
dengan senang hati menolongnya. Hal yang tak
akan dinikmati oleh seorang yang bakhil.
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu
Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada
para sahabatnya, “Inginkah kalian mendapatkan
dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin
dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya
segala kebutuhan hidup kalian?”
Para sahabat menjawab: "Benar ya Rasul, kami
menginginkan hal itu.” Rasul pun menjawab:
“Sayangilah anak-anak yatim; usaplah kepalanya
(bertanggung jawab serta memperhatikan
kehidupan mereka), dan berilah makanan dari
sebagian makanan yang kalian makan (untuk
para dhu'afa dan fakir miskin); maka pasti kalian
akan mendapatkan ketenangan batin dan
kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhi
kebutuhan kalian.”
Sungguh alangkah indahnya hidup orang yang
telah mendapat jaminan keberlimpahan
ketenangan lahir dan batin.Ya Allah berkahilah
rizki hamba. Berikan kekuatan tangan ini untuk
berbagi. Amiiin.***

No comments:

Post a Comment