Sunday, December 19, 2010

Mencintai kehilangan

Mencintai Kehilangan
Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.

Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik kepada
Allah.
Begitulah memang adanya..
kenikmatan hati dan ruh yang terlingkupi dalam
energi iman.
sama sekali tak ada waktu tersisa untuk sebuah
prasangka, selain senyum untuk Allah sang maha
kuasa dan yang maha perkasa, bila semua titipan
telah kembali diambilnya.

Tersebutlah seorang wanita bernama Umu
Sulaim. Suatu hari, anaknya sakit panas. Tepat
pada saat itu, suaminya Abu Tholhah tengah
pergi mencari nafkah.
Menjelang malam, anak kesayangannya itupun
meninggal.
Umu Sulaim meminta kepada kerabatnya, untuk
tidak memberitahukan kepada Abu Thalhah,
tentang kematian anaknya. “Biar aku saja yang
memberi tahu,” katanya. Ketika Abu Thalhah
pulang, dia pun bertanya tentang kondisi
anaknya. Umu sulain menjawab dengan senyum
“ Dia sudah lebih tenang,” .
Selanjutnya, sebagai istri yang baik, maka dia pun
melayani suaminya. Dan setelah semua selesai,
bertanyalah Umu Sulaim. “Suamiku sayang.
Bagaimana pendapatmu, jika ada orang
menitipkan barang ke kita, ketika sudah tiba
waktunya dia meminta barangnya untuk
dikembalikan ?”
“Tentu harus di kembalikan,” kata suaminya.
“Tidak boleh marah?” desak istrinya.
“Ya,” jawab suaminya tegas.
“Anak kita sudah diambil pemiliknya….”
Abu Tholhah tampak sangat marah karena tidak
diberi tahu sejak awal. Abu Thahlah mengadukan
masalah ini kepada Nabi Muhammad Sollalahu
Allaihi Wassalam.
Yang telah dilakukan oleh
Umu sulaim atas
prasangkanya baiknya pada Allah telah terbukti.
Keikhlasannya pun terjawab. Nabi Muhammad
Sollalahu Allaihi Wassalam membenarkan
tindakan istri Tholah. Beliaupun lantas mendoakan
agar apa yang telah dilakukan suami istri di
malam itu menjadi berkah, dan akan
menghasilkan seorang anak sebagai pengobat
hati keduanya. Sembilan bulan berikutnya, anak
mereka lahir, dan diberi nama Abdullah.

Sungguh...Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.

Dan kehilangan pun pernah menimpa Nabi
Ayyub A.S.. Beliau kehilangan kekayaan,dan
orang orang yang disayanginya.Tidak hanya
sampai disana, Beliau pun menderita penyakit
yang menggorogoti seluruh tubuhnya. Sampai-
sampai ia berdo ’a, “Ya Allah, penyakit ini boleh
jadi menggerogoti seluruh tubuhku. Tapi ya
Rabb, jangan sampai penyakit ini juga
menggeroti hati dan lisanku, sehingga aku masih
mampu berzikir kepada-Mu. ”

Subhanallah...
Begitulah ketabahan Nabi Ayyub. Beliau ikhlas atas
kehilangan kesehatan dan penyakit yang dititipkan
yang bahkan semua orang jijik melihatnya.
Dan buah kesabaran dan keikhlasan selalu akan
membahagiakan. Pada akhirnya Allah
mengembalikan kembali semua kehilangan yang
dialami Ayyub.
Maka bersabarlah ketika ujian cinta kepada Allah
atas nama kehilangan itu datang. Bahwa semakin
besar cinta, semakin berat pulalah ujian cinta itu.
Dan, setelah ujian itu berakhir, maka akan terbukti
sudah iman dan cinta kita. Ketika semua telah
dikembalikan atau digantikan dengan yang lebih
baik,insyaallah semua akan terasa lebih nikmat
Sungguh, Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.

Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.
Seiring dengan kehilangan yang diwakilkan oleh
kata ‘musibah’, maka dengan prasangka baik
pada Allah, sebuah kata itu berganti manis
dengan sebutan ‘rahmat’.
Atau, Ketika Teguran Allah yang unik untuk
mengingatkan hambanya atas kesalahan atau
maksiat, dengan sebuah kehilangan, maka teriring
dengan prasangka baik pada Allah..kesemua itu
akan berubah dengan sangat menyejukkan,
menjadi ‘ampunan’.
kehilangan adalah sebuah proses mendapatkan
dan begitu pula sebaliknya, mendapatkan adalah
bagian dari kehilangan.
proses ini mengajarkan kita agar tidak tamak pada
realitas
dan menyadari hakikat diri sebagai manusia yang
memiliki titik nadir pada suatu masanya.
Kehilangan adalah sebuah proses yang harus
dilalui dalam perguliran kehidupan.

Memang,
sesungguhnya apapun yang ada dalam
kehidupan kita di dunia ini, tiada yang abadi
Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan
mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing
hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat
berharga untuk memperkuat pikiran baik pada
Allah.
Innalillahi wa innailaihi rojiun
(syahidah)

No comments:

Post a Comment