Oleh
Ustadz
abu
ammar
m.w
Urgensi
dan
Kedudukan
Hati
Bagi
Seorang
Muslim
Sesungguhnya
topik
yang
berkaitan
dengan
hati
merupakan
perkara
yang
sangat penting, dinamakan hati (al-qolbu) karena
proses perubahannya yang sedemikian cepat.
Rosululloh bersabda:
إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ
تَقَلُّبِهِ
“Dinamakan hati (al-qolbu) karena cepatnya
berubah.” (HR. Ahmad)
Di tempat yang lain Rosululloh bersabda:
مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ
بِأَرْضٍ فَلَاةٍ تَقْلِبُهَا الرِّيْحُ
ظَهْرَا لْبَاطِن.ِ
“Perumpamaan hati adalah seperti sebuah bulu di
tanah lapang yang diubah oleh hembusan angin
dalam keadaan terbalik.” (HR. Ibnu Abi Ashim)
Sungguhpun begitu, Alloh Maha Besar, Dia
mampu mengubah dan menguasai hati-hati
manusia sebagaimana sabda Rosululloh :
إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا
بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمٰنِ لِقَلْبٍ وَاحِدٍ يَصْرِفُهُ
حَيْثُ يَشَاءُ .
“Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada
di antara dua jari-jari Alloh layaknya satu
hati, Dia mengubah menurut kehendak-
Nya.” (HR. Muslim)
Kemudian Rosululloh melanjutkan sabda beliau:
اَللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ
صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ .
“Ya Alloh, Dzat yang membolak-balikkan hati,
condongkanlah hati kami untuk selalu taat
kepada-Mu.” (HR. Muslim)
Bahwa keselamatan dan kesengsaraan hamba,
keberhasilan atau kegagalannya bahkan
masuknya ke dalam surga atau neraka,
berhubungan erat dengan baik atau tidaknya hati,
sehat atau sakitnya hati, dalam hal ini Alloh
berfirman:
Sesungguhnya beruntunglah orang yang
menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya. (QS. asy-
Syams [91]: 9 –10)
Kemudian Rosululloh bersabda:
اَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا
صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ اَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ .
“Ketahuilah, sesungguhnya pada setiap jasad ada
sekerat daging, apabila dia baik maka baik seluruh
anggota jasad, apabila dia jelek maka jelek semua
anggota jasad, ketahuilah dialah hati.” (HR.
Bukhori)
Diagnosa Penyakit Hati
Berikut ini kita akan sebutkan beberapa perbuatan
yang bisa kita jadikan indikasi untuk mendiagnosa
terjadinya rusaknya hati atau penyakit-penyakit
hati:
1. Melakukan kedurhakaan dan dosa
Di antara manusia ada yang melakukan
kedurhakaan terus-menerus dalam satu jenis
perbuatan. Ada pula yang melakukan dalam
beberapa jenis bahkan semuanya dilakukan
dengan terang-terangan, padahal Rosululloh
bersabda:
كُلُّ أُمَّةٍ مُعَافَى إِلَّا
الْـمُجَاهِرِيْنَ.
“Setiap umatku akan terampuni kecuali mereka
yang melakukan kedurhakaan secara terang-
terangan.” (HR. Bukhori)
2. Merasakan adanya kekasaran dan kekakuan
hati, seakan-akan batu keras yang tidak bisa
dipengaruhi oleh sesuatu pun.
Alloh berfirman:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras
seperti batu, bahkan lebih keras lagi …. (QS. al-
Baqoroh [2]: 74)
3. Tidak tekun dalam beribadah, tidak
memperhatikan dengan seksama setiap ucapan
atau perbuatan yang dilakukannya dalam
beribadah baik dalam sholat, dalam berdo’a, dan
yang lainnya.
Rosululloh bersabda:
لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ
لَاهٍ .
“Tidaklah diterima do’a dari hati yang lalai dan
tidak ada kesungguhan.” (HR. Tirmidzi)
4. Malas dalam melaksanakan ketaatan dan
peribadahan, kalaupun beribadah maka dilakukan
hanya sekedar ibadah yang kosong dari makna
dan tidak ada ruh di dalamnya.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh:
… dan apabila berdiri untuk sholat mereka berdiri
dengan malas…. (QS. an-Nisa’ [4]: 142)
Masuk dalam kategori ini ialah perbuatan–
perbuatan yang tidak dilakukan dengan
mempedulikan nilai dari perbuatan tersebut atau
meremehkan waktu-waktu yang tepat untuk
melakukannya. Misalnya, melakukan sholat-sholat
di akhir waktu, atau menunda-nunda haji padahal
sudah ada padanya kemampuan untuk
melaksanakan.
5. Perasaan gelisah dan susah hanya karena
adanya masalah-masalah yang remeh yang
didapatinya
Rosululloh mendefinisikan keimanan adalah:
اَلْإِيْمَانُ: اَلصَّبْرُ
وَالسَّمَاحَةُ.
“Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan di
dada (tidak gampang gelisah).”
6. Tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat al-
Qur’an yang dibacanya, tidak pula oleh janji,
ancaman, perintah, larangan, dan lain-lain
7. Lalai dalam berdzikir dan tidak berdo’a kepada
Alloh.
Alloh berfirman (ketika menyifati orang-orang
munafik:
… dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali
sedikit sekali. (QS. an-Nisa’ [4]: 142)
8. Tidak ada perasaan marah jika ada pelanggaran
terhadap hal-hal yang diharamkan Alloh.
Bara ghiroh dalam hati telah padam, tidak
menyuruh kepada yang ma’ruf, tidak pula
mencegah dari yang mungkar. Pada puncaknya,
dia tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak
mengetahui yang mungkar. Segala urusan
dianggap sama.
9. Gila kehormatan dan publikasi/popularitas
Termasuk di dalamnya, gila terhadap kedudukan
ingin tampil sebagai pemimpin yang menonjol
dan tidak dibarengi dengan kemampuan yang
semestinya.
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى
الْإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً
يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
“Sesunguhnya kamu sekalian akan berhasrat
mendapatkan kepemiminan dan hal ini akan
menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR.
Bukhori)
10. Bakhil dan kikir terhadap harta yang
dimilikinya
Alloh memuji orang-orang Anshor dengan
firman-Nya:
… dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr [59]:
9)
Rosululloh bahkan bersabda :
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ الْإِيْمَانُ
فِيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا .
“Tidaklah berkumpul pada hati seorang hamba
selama-lamanya sifat kikir dan keimanan.” (HR.
Nasai)
11. Suka mengatakan apa yang tidak dilakukan
Padahal penyakit ini yang menjadikan binasanya
umat terdahulu. Alloh berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah
kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan. (QS. ash-Shof [61]: 2 –3)
12. Senang dan gembira di atas penderitaan
saudara-saudaranya sesama muslim yang
mengalami kegagalan, merugi, atau mendapatkan
musibah
13. Hanya pandai menilai kadar dosa yang
dilakukannya dan tidak kepada siapa dosa itu
dilakukan
14. Tidak peduli terhadap penderitaan kaum
muslimin
Padahal Rosululloh bersabda:
الْـمُؤْمِنُ مِنْ أَهْلِ الْإِيْمَانِ
بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ،
يَأْلَمُ الْـمُؤْمِنُ لِأَهْلِ
الْإِيْمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ
لِـمَا فِي الرَّأْسِ .
“Sesungguhnya seorang mu’min terhadap
mu’min yang lain laksana kepala dari sebagian
badan. Orang mu’min akan menderita karena
orang-orang mu’min yang lain sebagaimana
badan ikut menderita karena keadaan di
kepala.” (HR. Ahmad)
15. Gampang memutuskan tali persaudaraan,
tidak merasa tergugah tanggung jawabnya untuk
beramal demi kepentingan kaum muslimin
16. Suka berbantah-bantahan dan berdebat yang
justru membuat hati keras dan kaku
Rosululloh bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا
عَلَيْهِ إِلَّا أُوْتُوا الْجَدَلَ .
“Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat
sesudah ada petunjuk kecuali jika mereka suka
berbantah-bantahan.” (HR. Ahmad)
17. Sibuk dalam perkara keduniaan semata
18. Berlebih-lebihan dalam masalah makan,
minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain
Rosululloh bersabda:
إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمُ فَإِنَّ عِبَادَ
اللّٰـهِ لَيْسُوْا
بِالْـمُتَنَعِّمِيْنَ.
“Jauhilah berlebih-lebihan, karena hamba-hamba
Alloh bukanlah orang-orang yang hidup berlebih-
lebihan.” (HR. Abu Nu’aim)
19. dan lain-lain
Terapi Penyembuhan
Itulah beberapa fenomena dari hati yang
berpenyakit. Selanjutnya kita berusaha untuk
mencari terapi dari penyakit-penyakit di atas.
Rosululloh menggambarkan dalam salah satu
sabda beliau bahwa keimanan seorang hamba
diibaratkan sebagai pakaian yang dibutuhkan
untuk diperbaharui setiap saat. Di tempat yang
lain, beliau menggambarkan keimanan adalah
ibarat menatap bulan, terkadang bercahaya
terkadang gelap, manakala bulan tersebut tertutup
oleh awan maka hilanglah sinar dari rembulan
tersebut, ketika gumpalan-gumpalan awan
menghilang maka nampak kembali cahaya bulan
tersebut.
Kemudian, yang terpenting bagi seseorang ketika
dia berusaha mengobati penyakit hatinya maka
dia harus meyakini terlebih dahulu bahwa
keimanan seseorang terkadang bertambah
terkadang berkurang sebagaimana firman Alloh :
… supaya keimanan mereka bertambah di
samping keimanan mereka (yang telah ada)….
(QS. al-Fath [48]: 4)
Juga sebagaimana sabda Nabi :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذٰلِكَ
أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ .
“Barangsiapa di antara kamu melihat
kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan
tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan
lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya,
dan yang demikian adalah selemah-lemah
iman.” (HR. Bukhori)
Sebelum melangkah lebih jauh dalam mengupas
penyembuhan dari penyakit-penyakit hati
tersebut, ada baiknya kita sampaikan bahwa tidak
sedikit orang mencari penyembuhan secara
eksternal; dengan cara itu mereka berharap
bersandar kepada orang lain, padahal dia
sendirilah yang mampu untuk mencari
penyembuhan bagi dirinya.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang
muslim sebagai upaya penyembuhan penyakit
hati yang dideritanya:
1. Membaca dan menyimak al-Qur’an
Alloh telah memastikan bahwa al-Qur’an adalah
penawar dari penyakit, penerang dan cahaya bagi
hamba Alloh yang dikehendaki-Nya. Firman
Alloh :
Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang
menjadi penawar dan rohmat bagi orang-orang
yang beriman…. (QS. al-Isro’ [17: 82)
2. Merasakan keagungan Alloh
Di samping itu, seorang muslim juga harus
mengetahui Nama-nama dan Sifat-sifat Alloh
serta memikirkan makna-maknanya. Banyak dalil
dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengungkap
tentang keagungan Alloh. Jika seorang muslim
memperhatikan nash-nash tersebut, niscaya akan
bergetar hatinya dan jiwanya akan tunduk kepada
Dzat yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui sebagaimana firman Alloh :
Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang
ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia
sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan
dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan
tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi,
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh). (QS. al-An’am [6]: 59)
3. Mencari dan mempelajari ilmu agama
Yaitu ilmu yang bisa menghasilkan rasa takut
kepada Alloh dan menambah nilai keimanannya.
Tidak akan sama keadaan orang yang
mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.
4. Banyak berdzikir kepada Alloh
Dengan berdzikir kepada Alloh keimanan
bertambah, rohmat Alloh datang, hati tenteram,
para malaikat datang mengelilingi mereka, dosa-
dosa mereka terampuni. Rosululloh bersabda:
“ Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-
Nya, andaikata kamu tetap seperti keadaanmu di
sisiku dan di dalam berdzikir, tentu para malaikat
akan menyalami kamu di atas tempat tidurmu
dan tatkala dalam perjalanan.” (HR. Muslim)
5. Memperbanyak amal sholih
Dengan beberapa bentuk, di antaranya:
• Sesegera mungkin melaksanakan amal sholih
• Melaksanakan amal sholih secara terus-menerus
• Tidak gampang bosan dan capai dalam
melaksanakannya
• Mengulang beberapa amal sholih yang
terlupakan
• Senantiasa berharap apa yang dilakukannya
diterima oleh Alloh
6. Banyak melakukan berbagai macam ibadah
Di antara rohmat Alloh ialah dengan diberikan-
Nya beberapa macam peribadatan, sebagiannya
berbentuk fisik seperti sholat, sebagiannya
berbentuk materi seperti zakat, sebagiannya
berbentuk lisan seperti dzikir dan do’a. Bahkan
satu jenis ibadah bisa dibagi kepada wajib,
sunnah, dan anjuran. Yang wajib pun terkadang
terbagi kepada beberapa bagian. Berbagai jenis
ibadah ini memungkinkan untuk dijadikan sebagai
penyembuh dari penyakit hati atau lemahnya
keimanan.
7. Takut meninggal dunia dalam keadaan su’ul
khotimah
Rasa takut seperti ini dapat mendorong seorang
muslim untuk taat dan selalu memperbarui
keimanannya.
8. Banyak mengingat mati
Rosululloh bersabda:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَاتِ
يَعْنِيْ الْـمَوْتَ .
“Perbanyaklah mengingat penebas segala
kelezatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi)
Di antara cara yang efektif untuk mengingatkan
seseorang terhadap kematian ialah dengan
berziarah kubur, mengunjungi orang sakit,
mengiringkan jenazah, dan lain-lain.
9. Selalu ingat hari akhir
Masuk di dalamnya berbagai kejadian-kejadian di
hari kiamat seperti hari kebangkitan, berkumpul di
padang mahsyar, hisab, pahala, timbangan,
jembatan, qishosh, syafa’at, tempat tinggal yang
abadi yaitu surga dengan segala kenikmatannya
dan neraka dengan segala kepedihannya.
10. Berinteraksi dengan firman-firman Alloh yang
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam
11. Bermunajat kepada Alloh dan pasrah kepada-
Nya
Rosululloh bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ
رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثَرُوا
الدُّعَاءَ .
“Saat seseorang paling dekat kepada Alloh ialah
tatkala dia melakukan sujud, maka perbanyaklah
do’a.”
12. Tidak berangan-angan yang terlalu muluk
dalam perkara keduniaan
13. Memikirkan kehinaan duniawi
Rosululloh bersabda:
إِنَّ مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ قَدْ ضُرِبَ
لِدُنْيَا مَثَلًا، فَانْظُرْ مَا
يَخْرُجُ مِنْ ابْنِ آدَمَ وَإِنَّ
فَزْحَهُ وَمِلْحَهُ قَدْ عُلِمَ إِلَى
مَا يَصِيْرُ .
“Sesungguhnya makanan anak Adam bisa
dijadikan sebagai perumpamaan dunia. Maka
lihatlah apa yang keluar dari diri anak Adam,
sesungguhnya apa yang dimakannya sudah bisa
diketahui akan menjadi apakah dia.” (HR.
Thobroni)
14. Mengagungkan hal-hal yang mulia di sisi Alloh
Termasuk di dalamnya mengagungkan tempat-
tempat suci, tidak menganggap kecil dosa-dosa.
15. Banyak melakukan ibadah-ibadah hati
Seperti cinta kepada Alloh, berharap kepada-Nya,
berbaik sangka dan bertawakkal kepada-Nya,
ridho terhadap qodho-Nya, bersyukur terhadap
nikmat-nikmat-Nya, dan sebagainya.
16. Banyak menghisab diri sendiri
Alloh berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat)…. (QS. al-Hasyr [59]: 18)
17. Puncak dari semua yang tersebut di atas
adalah berdo’a agar Alloh selalu menjaga
keimanannya
Ya Alloh, kami memohon dengan Asma’ (Nama-
nama) dan Sifat-sifat-Mu yang Tinggi agar Engkau
berkenan memperbarui iman di dalam hati kami
dan keluarga kami. Ya Alloh, jadikanlah iman
sebagai kunci dan hiasan di hati kami, jadikanlah
kami benci terhadap kekufuran, jadikan kami
termasuk orang yang mendapat petunjuk.
Aamiin.
***
hati berpenyakit,apa gerangan obatnya?
cambuk-hati.web.id
salam kenal dari pengamal shalawat wahidiyah depok / rawa geni
ReplyDeleteSalam silaturahim jg dr saya ^_^
ReplyDelete